
"Heyy, mengapa aku malah berlari keluar?bukannya tadi aku berniat untuk menanyakan bagaimana cara membukakan pagar mantra pelindung ini, tapi kenapa aku malah berlari tak jelas begini?" tanya Fei Fei pada dirinya sendiri, ia benar-benar bingung dengan tubuh dan fikiran nya, keduanya tidak sinkron sama sekali otaknya menyuruh begini tapi yang dilakukan tubuhnya malah sebaliknya.
"Ahh sudahlah, ku pikirkan dulu bagaimana trik jitu untuk membuka pelindung sialan itu!" lanjutnya kemudian, sejurus kemudian ia dan pelayan setia yang selalu mengekorinya kemanapun si majikan pergi berjalan menuju sekelompok bangku lengkap dengan meja dan teko diatasnya yang terletak di teras mansion.
"Bagaimana nyonya? apakah kau sudah menemukan caranya?" tanya A Xiang yang mulai kekepoan seraya menuangkan secangkir air untuk Fei Fei.
"Jangankan bertanya padanya melihatnya saja sudah membuat bulu halus ku merinding ketakutan!"
"Berarti kau tidak jadi pergi dari sini dong nyonya?" girangnya diiringi senyum sumringah setelah mendengar jawaban dari mulut Fei Fei.
"Sssttttttt!! tutup mulutmu. Lebih baik kau bantu aku berfikir untuk mencari solusi dari masalah ini!"
"Iya nyonya"senyumnya langsung luntur mendengar gertakan Fei Fei.
"(menghembuskan nafas panjang)Andai aku tak menikah dengan rubah gila itu, tidak terkurung di sini dan juga tidak datang ke tempat aneh ini mungkin aku masih menjadi Fei Fei si gadis culun yang miskin" senyumnya tiba-tiba terukir di bibir ranumnya kala membayangkan kenangan indahnya bersama sang nenek di rumah.
" Sudah lah, tak ada gunanya lagi menyesal saat ini percuma hanya membuang-buang tenaga dan energi saja. Apalagi si kakek tua menyebalkan itu, menyuruhku mencari benda-benda aneh sampai nyawaku yang jadi taruhannya tapi tidak memberitahu bagaimana cara menggunakannya. Giliran aku sudah menemukan benda itu malah terkurung seperti ini. A'ahh benar-benar menyebalkan!!"umpat nya terus-menerus seraya mendengkus kesal.
" Nyonya bagaimana kalau kau memanjat dinding seperti biasa "usul A Xiang yang tiba-tiba menemukan ide cemerlang, menurutnya.nDengan segala unek-unek, emosi, gerah body, sakit gigi dan sakit rohani yang ia pendam di dalam hati Fei Fei hanya bisa memutar bola matanya jengah sembari menggusar wajahnya kasar, kepalanya benar-benar pusing seakan nak meledak sekarang juga.
" Kalo tu dinding bisa di panjat udah gw panjat dari tadi Maimunah gosah tunggu lo ngomong, tapi yang jadi masalahnya itu dinding juga ikutan di mantrain trus lo nyuruh gw lewat mana hah?!lobang semut!" batinnya menangis histeris.
" Tidak perlu aku sudah tidak ingin keluar lagi,A Xiang apakah kau punya makanan yang rasanya asam,manis,pahit,asin.Kalau ada berikan padaku!" pinta Fei Fei yang ingin makan makanan yang rasanya seperti suasana hatinya saat ini.
"Ada nyonya tapi mengapa kau tiba-tiba ingin makan seperti itu?"
"Tidak usah banyak bertanya,cepat ambilkan saja!" dengan sekali kedipan mata sepiring buah yang sangat terkenal seepelosok Indo sudah ada di telapak tangan A Xiang.
"Ini nyonya makanan yang kau minta"sembari meletakkan piring yang berisi potongan buah di atas meja.Seketika mata Fei Fei terbelalak melihat isi dari piring yang di berikan A Xiang padanya,lantas ia melemparkan pandangannya pada A Xiang.
" Apa tidak ada yang lain selain ini?"
"Aku membawakannya sesuai dengan instruksi yang kau ucapkan nyonya,apakah ada yang salah?" tanya A Xiang dengan wajah tak berdosa,asam,manis,pahit memang itu yang ia minta tapi apakah hanya ada buah ini di seluruh muka bumi?
__ADS_1
"Tidak salah,kau memang benar-benar pintar A Xiang!" sembari mengacungkan jempol tangannya.
"Ahh nyonya kau bisa saja,baru kali ini aku mendengar kau memujiku secara langsung" diiringi senyum tersipu malu.
"Aku akan memujimu seratus kali jika aku sanggup menghabiskan buah-buah ini" gumamnya dengan nada seperti kumur-kumur,setelah itu Fei Fei mencomot sepotong dengan tangan yang gemetar lalu dia menggigitnya dengan hati-hati dan mata terpejam agar tak merasakan dahsyatnya rasa dari buah ini.
Ya,itulah makanan yang diberikan A Xiang padanya,belimbing mentah.
Kresssss......
Satu gigitan kecil sudah masuk kedalam mulut Fei Fei,tentu saja dia mengeluarkan ekspresi yang yaaa begitulah anda bisa membayangkannya sendiri.Begitupun dengan A Xiang yang hanya menjadi penonton saja,ia juga berekspresi seperti Fei Fei sebab ia sudah tau bagaimana rasanya belimbing mentah.Tanpa kunyahan segigit belimbing itu langsung terjun ke tenggorokan Fei Fei dan meninggalkan rasa asam yang teramat sangat,sepertinya ia sudah menyerah dan diletakkannya belimbing itu lalu menyambar secangkir air di depannya.
"Asamnya" ucap Fei Fei setelah menandaskan secangkir air.
"Eh ternyata kau ada di sini kakak ipar?" Wu Bai Qi yang ntah datang dari arah mana langsung menghampiri Fei Fei dan mendaratkan bokongnya di salah satu kursi.
"Kau,bagaimana kau bisa datang kemari?"
"Bukan,bukan itu maksudku.Yang aku tanyakan gimana caranya kau masuk ke sini,bukannya diluar ada pagar mantra pelindung?"
"Aku memanggil Xio Yi dan menyuruhnya membuka mantra pelindung!" sahutnya santai seraya mengambil buku yang tergeletak di atas meja.
"Dasar pelayan itu! tidak tuan tidak pelayan sama saja,sepertinya mereka memang menargetkan ku untuk mati di dalam sini!"batinnya mengutuki.
"Aku baru tahu ternyata kau dan kakak ku memiliki hobi yang sama, sama-sama suka membaca buku yang membosankan seperti ini"
"Benarkah?" Fei Fei berpura-pura bahagia dengan menampakkan senyum palsunya.
""Api paling suci di antara ribuan api
mengalirkan setetes darah ajaib di dalamnya
__ADS_1
tersimpan rapat-rapat di dalam nadi yang kuat
berselimut tulang dan kulit milik abadi tertinggi.
Sastra kuno lagi sastra kuno lagi, bosan aku melihatnya! "
"Tunggu-tunggu, sepertinya aku pernah mendengar kata-kata ini" batin Fei Fei seraya menggali ingatannya lebih dalam.
"Iya benar, ini adalah petunjuk terakhir dari kunci jalan untuk pulang ke era ku" lanjutnya membatin.
"Aku pinjam sebentar" gercep ia merampas buku itu dari tangan Wu Bai dan membaca ulang sajak petunjuk itu.
"Wajahmu terlihat seperti sedang gelisah kakak ipar, apa ada yang aneh dengan sajak kuno itu?"
"Apa kau tau maksud dari rangkaian kata-kata ini? " tanya Fei Fei dengan sorot serius.
"Tentu saja, dulu ibu ku pernah mengajarkanku berbagai macam sastra kuno. Maksud dari sastra itu adalah darah biru milik dewa api"
"Darah biru dewa api? siapa dewa api? " tanyanya lagi pada Wu Bai yang sedang mencomot sepotong belimbing, saking khusuknya menunggu jawaban dari mulut pria yang bergelar adik iparnya itu Fei Fei sampai lupa memberitahunya kalau belimbing itu rasanya masam.
"Tu" sahut Wu Bai seraya menunjuk kearah kolam dengan menggunakan dagunya tanpa melihat kearah itu, sebab ia benar-benar penasaran dengan buah yang baru kali pertamanya dilihat.
"Mana?! " ia tidak siapapun di sana, hanya ada dua setan sedang melintas di atas jembatan.
Kresssss
"Emmm, asam sekali" keluh Wu Bai setelah menggigit belimbing mentah.
"Kakak ku! " lantas Fei Fei melengos kearah dua setan di seberang sana.
"Dia? kenapa bisa dia orangnya? "
"Kak, kenapa kau tidak bilang kalau buah ini rasanya begitu masam? "
__ADS_1
"Maaf aku lupa, sekarang aku pergi dulu ya bay bay. A Xiang ayo! " dua wanita itu begitu saja meninggalkan Wu Bai Qi sendiri di kursi sambil meratapi keapesannya.