Scarlt Blood Love

Scarlt Blood Love
Chapter 8.Menolak Atau Pasrah (revisi)


__ADS_3

"Tidak!! " Fei Fei terbangun dalam posisi duduk. Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan sebelum akhirnya bernafas lega. Mimpi ini berasa sangat nyata, tapi kenapa dia bisa bermimpi seperti itu.


"Ada apa nona? " tanya A Xiang yang baru saja tiba dengan raut wajah cemasnya.


"A Xiang, apakah wajah nona kalian itu seperti ini?" tanya Fei Fei to the point sembari menduding wajahnya sendiri. A Xiang tidak menjawab tetapi ia mengangguk pelan. Fei Fei seketika terdiam dan bergeming. Jiwanya bagai tersambar halilintar dan hangus menjadi serpihan abu. Ia baru mengerti kenapa mereka menangkapnya dan membawanya kemari. Ternyata wajahnya original really dengan wajah putri ketua klan iblis yang ia temui di dalam mimpi. Mungkin saja yang ia mimpikan itu memang benar, sang putri tewas tertusuk pedang dan mereka mengira bahwa sang putri yang hilang adalah dirinya. Jadi mereka menangkap dan membawanya kesini.


"Nona,nona" tegur A Xiang yang melihat Fei Fei bengong . Tampaknya Fei Fei masih khusuk dengan lamunannya hingga ia tak mendengarkan panggilan A Xiang.


"Fei Fei! " ucap A Xiang dengan nada sedikit keras membuat Fei Fei tersentak dari lamunannya.


"Aah?"


"Fei Fei makanlah dulu, sudah ku bawakan makanan untuk mu.Cepatlah keburu dingin dan tidak enak. Kau sudah seharian belum makan!" seru A Xiang menata makan di meja.


"Tidak mau, aku tidak berselera makan sekarang "


"Baiklah kalau begitu, A Xiang permisi dulu. Makanlah jika kau lapar" A Xiang kemudian menunduk hormat dan berlalu pergi. Menyisahkan Fei Fei yang sedang meratapi nasibnya.


"Aku tidak ingin makan, yang ku inginkan hanya pulang ke rumahku" gumam Fei Fei sendiri.


Keesokan harinya, semua pelayan sudah membersihkan Mansion. Seperti biasa, semua pekerjaan yang ada di dalam Mansion mereka lah yang mengerjakannya. Mulai dari memasak hingga bersih-bersih. Jumlah mereka pun tidak tanggung-tanggung,bisa mencapai puluhan orang. Kita beralih ke tempat lain, di dalam kamar yang gelap nan redup Fei Fei masih terbaring dan terbungkus selimut di atas ranjang. A Xiang yang baru masuk lantas meletakkan pakaian dan makanan yang ia bawa kemudian berjalan menuju jendela.


"Fei Fei bangun sudah pagi!. Mengapa belum bangun juga. Tuan dan tuan muda sudah menunggumu di aula!!" seru A Xiang sembari membuka jendela agar udara dan cahaya dapat masuk kedalam.


"A Xiang!kenapa kau datang begitu pagi. Biarkan aku tidur sebentar lagi" ucap Fei Fei dengan mata tertutup dan nada khas orang bangun tidur. Ia kemudian menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya sebab matahari menyinari wajah bantalnya.


"Ceh, ceh, ceh (sambil menggeleng-gelengkan kepala). Fei Fei bangun, Tuan sudah menunggu mu di aula! " A Xiang yang kesal, membuka selimut Fei Fei dan menarik Fei Fei yang masih setengah sadar agar mau bangun.

__ADS_1


"Cepatlah ganti baju, setelah itu sarapan.A Xiang akan menunggu di luar" Fei Fei duduk cukup lama di tepi ranjang, menunggu separuh nyawanya yang masih melayang-layang. Dan dengan malas Fei Fei berjalan meraih pakaian nya juga menyambar sepotong roti mirip bakpao lalu memakannya sambil berjalan.


Ten years later......,..


Fei Fei sudah keluar dari kamarnya dengan busana yang dibawakan A Xiang tadi. Berjalan dengan santai sambil melahap bakpao di tangan kanannya, di tangan kirinya juga masih utuh. A Xiang yang sudah standby di depan pintu pun gegas mengekori langkahnya.


"Nona mau kemana? " tanya A Xiang yang menghentikan langkahnya. Fei Fei terus saja berjalan lurus ke depan.


"Bukankah tadi kau yang menyuruh ku ke aula?Ya mau ke aula lah, kemana lagi! " sahutnya cuek sambil terus berjalan dan mengunyah.


"Tapi aula kan ada di sana nona? " Fei Fei menghentikan langkahnya, mulutnya menjadi slow motion mengunyah bakpao. Kemudian ia berbalik dan berjalan kembali dengan gaya yang sama.


"Ayah, kakak" Fei Fei membungkuk hormat kepada ketua Lu dan Jia Cheng secara bergantian. Untung saja tadi A Xiang mengajarinya memberi salam seperti itu terlebih dahulu, jadi keanehannya cukup tertutupi.


"Fei'er kau sudah datang . Kemarilah, ada yang ingin ayah bicarakan dengan mu" Fei Fei pun maju beberapa langkah.


"Fei'er, dua hari lagi adalah hari yang baik untuk menikah. Ayah akan menikahkan mu di hari itu juga. Bagaimana, apa kau setuju? " ucap Ketua Lu sembari memegang kedua bahu Fei Fei. Jia cheng yang juga ada di sana hanya diam dan bergemjng. Ia berusaha meredam gejolak dalam hatinya. Fei Fei tercengang mendengar kata yang baru saja terlontar. Menikah? apa maksudnya ini?


"Siapa yang mau menikah? aku tidak mau menikah!" ujarnya lalu sedikit sewot. Belum apa-apa udah di suruh nikah aja, kesel. Emang nikah itu mainan bocah apa!


"Bukankah kau sudah setuju untuk menikah?"


"Kapan Jia Fei bilang begitu pada ayah?" tanyanya balik.


"Jia Cheng, bukannya kau sudah membujuknya untuk menikah? " tanya ketua lu kepada anaknya yang lain.


"Iya ayah , Jia Cheng sudah membujuk adik Fei dan dia juga setuju. Bahkan dia sempat bersumpah kemarin. Jia Fei apa maksudnya ini,kenapa kau berubah pikiran begini? " jia Cheng mulai membuka suara.

__ADS_1


"Yaelah bang, kenapa lo gak bilang kalo disuruh nikah. Ya gw asal sumpah aja lah" batinnya bersuara.


"Kemarin itu Jia Fei tidak bersungguh-sungguh yah, Jia Fei hanya...hanya..."


"Hanya apa Fei'er, hanya apa?! hanya lelucon bagimu? "nada ketua Lu mulai meninggi.


" Ayah sudahlah, mungkin adik Fei butuh berfikir lagi sebelum mengambil keputusan besar yang akan menentukan masa depannya" Jia Cheng menghampiri ayahnya, ia mencoba menengahi masalah ini walau baginya juga berat.


"Apa katamu,masa depan? " ketu Lu tersenyum palsu.


"Masa depan siapa? masa depan klan iblis yang di ambang kehancuran? apa kalian tidak melihat ribuan mayat yang tergeletak di luar sana. Mereka semua binasa bukan atas dosa yang mereka lakukan sendiri. Apa kalian tau berapa juta anak yang menjadi yatim piatu?mereka semua membutuhkan keadilan . Jika bukan kita yang mengorbankan takdir, maka siapa lagi. Dan sampai kapan pertumpahan darah ini berakhir, sampai kapan! "kakak beradik itu terdiam. Mereka sama-sama bergeming, memikirkan ucapan ayahnya. Tak ada yang berani menjawab atau berkata sesuatu.


"Tapi kenapa harus aku? apa tidak ada orang lain"


"Fei'er,ayah mohon kepada mu. Ini adalah permintaan terakhir dari ayah. Demi ribuan nyawa rakyat klan iblis dan demi menaati dekrit Kekaisaran yang tidak mampu ayah tolak, ayah bersedia memberikan apapun untukmu sebagai gantinya. Bahkan jika kau menginginkan nyawa ayah maka ayah akan berikan sekarang juga dengan senang hati. Baiklah, mungkin ayah terlalu kejam karena mengorbankan mu dan tidak memikirkan perasaan mu. Untuk itu ayah akan berlutut sampai kau mau memaafkan ayah dan bersedia menikah dengan ketua klan dewa" ketua Lu mulai merendahkan tubuhnya di hadapan Fei Fei.


" Ayah jangan seperti ini" Jia Cheng menahan tubuh ayahnya agar tak terus merunduk dan benar-benar berlutut.


"Mungkin jika dengan kedok menikah aku akan bisa terbebas dari sini dan dengan mudah mencari jalan pulang. Ya, mungkin aku harus melakukan nya! " batin Fei Fei mantap.


"Ayah bangunlah, jangan seperti ini. Jia Fei merasa sangat durhaka jika ayah seperti ini" ia membantu ayahnya berdiri dari berlutut.


"Baiklah, Jia Fei akan mengikuti perintah ayah"


"Terimakasih nak, kamu memang anak berhati malaikat. Ayah sangat menyayangimu. Kau pasti akan hidup bahagia bersama ketua klan dewa" ucap ketua Lu sembari memeluk Fei Fei. Jia Cheng yang tak sanggup lagi menahan, memilih pergi meninggalkan aula terlebih dahulu.


Like, komen, vote❤️

__ADS_1


__ADS_2