Scarlt Blood Love

Scarlt Blood Love
40. Sad ending


__ADS_3

Segera Feifei dan ayahnya menghampiri Jia Cheng yang terkapar dengan darah mengalir disudut bibirnya. Bajunya koyak dengan banyak bercak darah disana, deru nafasnya pun sudah tidak beraturan. Raut wajahnya tampak seperti sedang menahan rasa sakit. Hidupnya mungkin tidak lama lagi.


"Kakak?! "


"Cheng'er, kenapa bisa seperti ini"


"Fei-fei, ke-na-pa kamu kemari? " tanyanya sembari meraih wajah Feifei dengan tangannya yang berlumuran darah.


"Tidak mungkin aku diam saja disaat keluarga ku di tindas orang lain"


"Cheng'er, bertahanlah ayah akan memulihkan luka dalam mu" Raja iblis pun mulai mengeluarkan tenaga dalamnya untuk disalurkan ke tubuh Jia Cheng.


"Kakak bertahanlah, sebentar lagi kamu pasti akan sembuh " tanpa sadar pelupuk matanya mengeluarkan cairan bening dan lolos begitu saja tanpa diminta.


"Ti-dak per-lu a-yah, i-tu han-nya buang-buang ten-na-ga a-yah"


"Jangan tutup mata mu kakak, kumohon bertahanlah kamu pasti kuat"


"Ckckckck, sungguh pertunjukan yang amat menyedihkan" ucap pria bertopeng itu.


"Beraninya melukai dia, siapa kau sebenarnya?! " tanya Xin Yan dengan nada tinggi.


"Kalian tidak perlu tau siapa aku, yang jelas aku akan meratakan kalian semua di tempat ini juga!"


"Sombong! "


"Tato itu? benar tidak salah lagi. Dia pasti pemimpin kelompok orang-orang yang membunuh ayahku. Berarti selama ini, mereka telah difitnah" Gumam Zishu dalam hatinya.


"Kurang ajar! aku akan menghabisi makhluk penuh dosa seperti mu lebih dulu sebelum kau menyentuh orang ku! "


"Orang mu kau bilang? sejak kapan kalian menjadi Sekutu hah? " dengan nada meledek.


" Aku menyesal baru mengetahuinya sekarang, aku akan membuatmu membayarnya berkali-kali lipat atas semua yang telah kau lakukan. Terimalah ini....... "


Zishu mengeluarkan kesaktiannya, begitu pun dengan pria bertopeng itu yang tidak mau kalah. Sepertinya dia bukan orang biasa, buktinya dia mampu menghalau serangan-serangan yang zishu luncurkan.


"Bagaimana Ketua Zhao, apa kau masih yakin kalau kekuatan mu itu bisa membunuhku, hah?"


"Sialan, aku terlalu meremehkannya" gumamnya.


"Kenapa diam? jangan bilang kau ingin menyerah di babak awal ini? "


"Ck, mungkin setelah halilintarku menggores lehermu barulah kau bisa menutup mulutmu yang sombong itu"


"Silahkan saja, jika kau mampu! "


Mereka berdua sama-sama mengeluarkan pedang dan mulai menyerang satu sama lain. Menimbulkan suara nyaring pedang yang beradu. Membuat Xin Yan yang sedang ber kultivasi untuk memulihkan tenaga dalamnya menjadi sedikit terganggu.


Sementara Feifei, ia tengah menghawatirkan nyawa kakaknya yang sedang berada di ambang kematian.


"Kakak bertahanlah kumohon, kamu pasti akan selamat" dari raut wajahnya terlihat bahwa dirinya tidak sedang baik-baik saja.


Pertarungan antara keduanya semakin memanas. Mereka bertarung sekuat tenaga mengandalkan ilmu beladiri masing-masing. Tidak ada yang tahu Siapakah yang akan tersenyum lebar di akhir babak.


Zishu sangat penasaran akan wajahn orang yang bertarung dengannya itu. Ketika ada kesempatan, ia menggunakan ujung pedangnya untuk menyingkirkan topeng besi yang melekat di wajah pria ini.


Prakkk......


Topeng itu terjatuh ke lantai. Betapa tercengangnya ia saat melihat wajah yang tersembunyi di balik topeng itu.


"Pa-pam-paman?! " terdiam sejenak membuatnya tak konsentrasi dan membuatnya terkena goresan pedang dibagian lengan.


"Akhhhh! " Zishu mundur beberapa langkah untuk mengakhiri babak kedua ini "


"Yaa, kenapa terkejut? "


"Paman, tapi kenapa kau..... "


"Paman? Wen Rui? " Xin Yan langsung menyudahi kultivasi nya.


"Kenapa? kamu masih berani tanya kenapa. Itu karena ayahmu merebut kekuasaan ayahku lalu membantai keluarga ku. Jelas! "

__ADS_1


"Ck, omong kosong! ayahku tidak mungkin tega menghabisi saudaranya sendiri demi tahta! "


"Awalnya aku cukup puas setelah membunuh ayahmu dan membuatmu merasakan apa yang aku rasakan. Tapi ternyata hasrat ku menginginkan lebih dari itu"


"Membuat ku membunuh ribuan orang yang tak berdosa di Medan perang dan membuat kami yang tidak bersalah menjadi korban fitnah mu, apakah itu yang kau inginkan? "


"Oh tidak, aku tidak menginginkan itu. Mungkin itu adalah keadilan yang diberikan langit padaku"


"Wen Rui, apa kau sudah gila hah? " timpal Xin Yan.


"Tutup mulutmu! kamu tidak tau bagaimana rasanya hidup di tengah-tengah penghianat. Bahkan bernafas pun sulit untukku"


"Aku tidak percaya, paman bukan orang yang seperti itu! "


"Aku juga tidak percaya, tapi itulah kenyataannya. Kenyataan bahwa penghianat itu adalah saudara ku sendiri! " seraya menduding wajah zishu.


Zishu hanya terdiam dari tadi, ia enggan menjawab penghinaan yang terus terlontar tuk ayahnya. Sebenarnya ia muak dan ingin membalas semua penghinaan itu, tapi masih sanggup ia tahan.


"Ayah, apa kakak akan selamat" tangannya terus menggenggam tangan Jia Cheng sejak tadi.


"Ayah sedang berusaha, berdoa saja semoga bisa" balas sang ayah tanpa mengurangi fokusnya yang sedang memulihkan Jia Cheng dengan tenang dalam.


Dengan berat hati zishu akhirnya mengalah, ia memutuskan untuk meminta maaf terlebih dahulu. Tanpa memikirkan status dan derajatnya lagi ia berlutut dihadapan Wen Rui.


"Maaf"


" Zhao Zishu! " Xin Yan terkejut melihat zishu yang sudah seperti tak memiliki harga diri lagi.


"Maaf? apakah maaf saja cukup? tidakkk! " sembari menodongkan pedangnya di leher zishu.


"Wen Rui cukup! aku kecewa sama kamu! ternyata aku salah selama ini"


"Aku membenci diriku sendiri yang telah menyimpan perasaan padamu"


"Zishu? apa dia sudah kalah lalu menyerah. Ini tidak bisa dibiarkan, kakak aku akan membalas rasa sakit yang kamu derita" Feifei yang emosi pun lantas mengeluarkan belati yang ayahnya berikan dulu. Mungkin dia akan terkejut setengah mati bila tahu siapa sebenarnya pria itu. Sayangnya posisinya saat ini membelakangi Feifei.


Dengan sekuat tenaga Feifei berlari sembari menjulurkan belati. ketika jaraknya semakin dekat, belati itu justru ia lemparkan dan melayang dengan cepat.


"Wen Rui awas!!! "


Jleppp.....


Di dada, tepat di dada Xin Yan belati itu mendarat dengan mulus. Tangannya lemas dan tatapannya kosong, tubuhnya terkulai dan jatuh ke lantai.


Dua orang yang baru menyadari itupun menoleh dan berbalik. Sementara Feifei, matanya membulat dan tentunya tercengang setengah mati. Why?


"Xin Yan, kamu...... "


"Aku tidak papa... " Jawabnya dengan suara serak. Tanpa pikir panjang Wen Rui lantas mengangkat kepala Xin Yan dan memangku nya.


"Kenapa? kenapa kamu korbankan dirimu? bukannya bagus jika belati itu menusuk punggung ku hah!? " Xin Yan tersenyum hambar.


"Jika seseorang dapat melakukan sesuatu hal untuk orang yang ia cintai betapa bagusnya itu"


"Gadis bodoh"


Xin Yan berusaha meraih wajah Wen Rui dengan tangan lemahnya.


"Wen Rui, aku lelah mencintai. Dengan begini rasa cintaku padamu telah sirna"


"Kenapa baru sekarang, jika kamu mengatakannya sejak dulu mungkin aku akan mempertimbangkannya"


"Mungkin ini adalah jalan yang terbaik untuk kita. Wen Rui, aku mohon padamu sudahi semua ini. Betapa banyak lagi orang yang akan kau renggut nyawanya? bukan ini yang orang tuamu inginkan. anggaplah ini permintaan terakhir ku"


"bagaimana jika aku tidak bisa? "


"Kamu pasti bisa! jika ada kehidupan berikutnya, aku harap kita tidak akan pernah bertemu lagi" Wen Rui membisu, ada sesuatu yang menyenggol hati kecilnya.


"Jadilah Wen Rui yang pertama kali aku kenal" perlahan-lahan, mata sayu itu tertutup. Wen Rui masih diam di posisinya. Ini adalah terakhir kalinya dia melihat Xin Yan sebelum jasad itu melebur menjadi serpihan cahaya dan terbang keatas.


Feifei menatap kedua tangannya nanar. Sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.

__ADS_1


"Xin Yan, maaf. Aku tidak bermaksud melukaimu, apalagi membunuhmu dengan tanganku sendiri" sesalnya.


"Nak, Sebenarnya.... orang tuamu bukan mati karena dibunuh. Tapi karena keserakahan dan penghianatan yang dilakukan orang tuamu. Karena itulah kaisar mengeksekusi mereka" Tiba-tiba ayah Feifei berucap, setelah berhasil menyelamatkan nyawa Jia cheng.


"Bohong, itu tidak mungkin! "


Lalu kemudian ayah Feifei mengeluarkan cermin yang mampu memutar pristiwa di masalalu seperti cuplikan film.


Didalamnya menampilkan semua kejahatan yang orangtuanya lakukan semasa hidup. Saat di eksekusi pun ditampilkan. Terlihat seorang anak bayi yang sedang digendong oleh seorang wanita yang tengah hamil, bayi itu tidak lain adalah Wen Rui dan wanita itu sudah pasti ibunya Zishu.


"Heeiiiiaaaaaa" Wen Rui memutuskan untuk menghancurkan seluruh kekuatan yang dia punya dan pergi begitu saja dari sana tanpa mengatakan sesuatu. Kini, tubuhnya seperti cangkang kosong tanpa penghuni.


Hening.....


Sampai akhirnya Zishu memainkan sihirnya. Membuat seluruh orang yang ada di didalam Mansion ini tertidur sementara.


"Bangunlah, ini semua bukan salah mu" Zishu mengangkat kedua bahu Feifei. Gadis itu masih tertunduk menyesali perbuatannya.


"Aku tidak sengaja.... " ucapnya begitu lugu dengan wajah imutnya.


"Aku mengerti... "


"Maaf... "


"Maaf? untuk apa? "


"untuk semua siksaan yang kamu Terima. Sebagai gantinya aku akan memberikan sesuatu yang kamu inginkan" ia lalu mengeluarkan setengah dari inti batinnya.


"Inti batin? "


"Hmmm.... kembalilah ke dunia mu. Orang-orang disana pasti sangat merindukan mu"


"Tapi, bagaimana dengan mereka yang pernah bertemu dengan ku? "


"Mereka akan melupakanmu setelah mereka bangun"


"Kalau begitu aku akan menerimanya" ia menerimanya, kemudian secara bersamaan permata air mawar dan batu embun ajaib keluar. Ketiganya menyatu dan menciptakan kilau yang luar biasa. Yaitu terbukanya portal waktu.


"Terimakasih, sudah muncul dan memberikan warna di kehidupan ku yang gelap" Feifei tersenyum.


"Aku yang harusnya berterimakasih, sudah memberikan aku jalan pulang" ia berinisiatif untuk memeluk Zishu sebagai ucapan terimakasih.


Alangkah terkejutnya Zishu mendapat pelukan seperti itu. Ditengah pelukan, Feifei mendongakkan kepalanya ingin melihat seperti apa ekspresi Zishu. Namun naas, mata keduanya saling beradu dalam keadaan sangat dekat. Hingga mata Zishu tidak dapat terkontrol saat menyusuri wajah ayu istrinya yang beberapa saat lagi akan berpisah ruang dan waktu.


Pandangan terakhirnya terhenti di bibir ranum Feifei. Tak kuasa ia menahannya, dan bibir keduanya pun bertemu untuk pertama dan yang terakhir kalinya.


Cuppp.....


Feifei sedikit terkejut lalu menampakkan sedikit senyum. Ia membiarkan Zishu menyesapnya beberapa kali. Setelah dirasanya cukup ia menyudahinya lebih dulu. Mereka kembali berpelukan.


"Jadilah pemimpin yang adil dan bijaksana. Temukan gadis yang kamu cintai dan kemudian menikahinya. Tapi ingat, jangan menyiramnya dengan air disaat malam pertama kalian" bisiknya ditelinga Zishu. Zishu hanya tersenyum ketika mengingat dirinya menyiram Feifei dengan air seteko.


Zishu lantas menguraikan pelukan itu dan perlahan Feifei berjalan mundur menjauhinya.


"Biarkan semua orang melupakan mu.cukup aku yang mengingat bahwa pernah ada wanita aneh dan menggemaskan yang datang untuk menikah dengan ku" gumamnya dalam hati.


"Bye bye" Feifei melambaikan tangannya.


"Aku akan menunggu mu di dunia ku! teriaknya sebelum portal waktu benar-benar tertutup.


" Kita pasti akan bertemu lagi di masa depan"


Keduanya pun akhirnya berpisah, akankah mereka dipertemukan kembali di masa depan seperti yang zishu katakan???


**Tamat.........


Otor ucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya buat kalian semua readers setia yang udah temenin otor dalam perjalanan menulis. Maaf atas segala kekurangan dan ketidaknyamanannya, sebab otor masih pemula yang butuh banyak belajar. Trimakasih atas dukungan kalian yang udah buat otor semangat up walaupun kadang suka stuck idea.


stay tuned and see you next novel


bye bye lopyu....

__ADS_1


follow my instagram @defanilorentzo**


__ADS_2