Sebatas Nikah Di KUA

Sebatas Nikah Di KUA
When an Intruder Is in Your Class


__ADS_3

Kakek tersenyum sembari melambaikan tangan ke arah Simon dan Emi sebelum masuk ke dalam mobil yang akan mengantarnya ke bandara. Tentu saja wanita penerjemah ikut bersamanya.


"Masuk lah ke dalam mobil," kata Simon kepada Emi yang masih berdiri mematung melihat kepergian mobil yang membawa kakek Simon.


Emi menoleh ke arah Simon, "apa?"


Simon yang berdiri di sebelah pintu mobil yang terbuka kembali mempersilahkan Emi masuk dengan gerakan tangan.


Emi enggan untuk ikut masuk ke dalam mobil itu. Terlebih Simon telah tidak sopan merangkulnya. Dia adalah lelaki yang berbahaya.


Disisi lain, Simon juga takut satu mobil dengan Emi. Dia adalah wanita yang berbahaya.


"Aku akan mengantarmu ke kampus, atau ke rumahmu," ucap Simon.


"Oh Ok," Emi berjalan menuju mobil itu.


"Jadi terlambat lagi deh, hampir tiap hari terlambat." omel Emi dengan bahasa Indonesia sembari masuk ke dalam mobil.


Emi siap akan melindungi dirinya dengan kedua tanggannya saat Simon juga ikut masuk ke dalam mobil, dan duduk di sampingnya.


Simon mengerutkan keningnya, "kau sedang apa?"


"Kau sedang apa? mengapa kau duduk di sini?" Emi balik bertanya. "kau harusnya duduk di depan," katanya sembari menunjuk kursi depan.


"Hey.. hey.. Nona Talenta. Kali ini kau kumaafkan memelintir lenganku." kata Simon memilih tetap duduk di kursi penumpang bagian balakang.


"Pak, cepat jalan ke universitas pelita pelipur lara?" Emi memilih mengabaikan Simon, dan berbicara dengan Kent yang duduk di balik kemudi. dia berbicara dengan bahasa Indonesia.


Kent menoleh ke belakang dan tersenyum lembut kepada Emi, "Sorry, bisa berbicara dalam bahasa inggris?"


"Oh, ok. Maaf. Bisakah paman mengantarku ke Universitas Pelipur Lara?"


Ternyata orang asing juga, temannya orang ini.


Simon semakin menatap kesal Emi yang mengabaikannya. "Hey Emi Talenta, aku adalah pria yang akan menjadi suamimu, dan kau adalah wanita yang akan menjadi istriku. Kau harus menyimpan hal itu di kepalamu. Saat ini kita adalah sepasang kekasih."


Emi mengangguk, dia menyetujui hal itu.


Simon lega melihat Emi akhirnya mengerti. Dia melipat kedua tangan di dadanya, mencoba berpikir sebentar. "Sepertinya kita harus latihan bermesraan."


Eh, Dia bilang apa?


"Tuan Simon Leaauu, itu tidak perlu," lirih Emi sembari menggeser duduknya lebih merapat ke pintu.


Dikepalanya, Emi membayangkan Simon adalah seorang pria tampan yang suka bermesraan dengan perempuan. Batinnya tiba-tiba membuatnya takut untuk menikah dengan Simon.


Simon tertawa kecil mendengar jawaban Emi, "ya tentu saja kau tidak perlu latihan. Kau sudah ahli."


Dia tidak lupa, jika Emi adalah protitusi.

__ADS_1


"Kau bilang apa?" tanya Emi.


"Tidak, lupakan saja," Simon melirik keluar jendela, tampak di ujung jalan berdiri megah kampus yang mereka tuju. "Pukul berapa kau selesai? kita harus membicarakan perjanjian sebelum menikah."


"Berhenti di sini, Pak." Emi mengabaikan pertanyaan Simon.


Dia membuka pintu mobil begitu Kent memberhentikan mobilnya di tepi jalan. "Aku akan menghubungimu lagi nanti kalau sudah pulang," ucap Emi sebelum menutup pintu.


blam!!


"Ha... Ha.. Ha.." Tawa Kent pecah begitu pintu itu tertutup rapat. "Wow, dia gadis yang keren. Dia sama sekali tidak melihat ke arahmu saat berbicara."


Kent kembali menjalankan mobil itu. "Sepertinya dia tidak tertarik sama sekali denganmu,"


"Hmm..." Simon memilih diam daripada menanggapi Kent.


***


Sementara Emi yang sedang berjalan menuju kelasnya, akhirnya bisa bernapas dengan tenang.


Gadis itu memegang dadanya, dan sedikit menekannya. Dia berusaha untuk menghentikan detak jantungnya yang masih berdegup kencang.


Fokus Emi, fokus! Dia itu pria tampan yang sudah banyak melakukan dosa itu dan ini dengan perempuan... Tapi mengapa dia harus setampan itu? Pria tampan memang berengsek agaknya, Keluh Emi.


Di saat Emi sedang berkonsentrasi menuju kelasnya. Tiba tiba dia merasakan ada sebuah tangan yang hendak menjangkau bahunya.


"Ini aku," ucap Hanna cepat saat Emi hendak menepis tangannya.


“Apa? Tunggu!” cegat Hanna, “aku ikut!” ucapnya mantap.


Emi mengira Hanna ikut duduk bersamanya di kelas pak Ilman karena ingin melihat dosen muda itu.


Hampir semua mahasiswa tahu tentang dosen muda dan tampan ada di kampus mereka. Serasa melihat aktor korea secara langsung.


Ternyata dugaannya salah, Hanna justru memperhatikan Nicholas.


Benar, sepertinya dia benar benar menyukai Nicholas. Jangan bilang itu adalah alasannya pindah jurusan. Batin Emi.


Sementara pak Ilman yang berceramah di depan kelas memperhatikan mereka. Sadar akan hal itu, membuat Emi takut jika pak Ilman menyadari Hanna bukan lah mahasiswi di kelas itu.


"Psstt, pak Ilman sepertinya menyadari ada penyusup," bisik Emi tanpa menoleh ke arah Hanna.


"Tunggu sampai diusir, baru keluar," balas Hanna enteng.


Emi menyubit pinggang Hanna sembari berkata, "Gawat, pak Ilman menuju ke sini."


Mendengar informasi dari Emi, Hanna mengalihkan pandangannya dari Nicholas dan segera mencari sosok pak Ilman di depan kelas. Namun, dosen muda itu sudah tidak ada di sana.


"Anda, silahkan keluar!" Pak Ilman sudah berdiri di sebelah Emi.

__ADS_1


Hanna terkejut kaget, dan menoleh ke kanan. "Baik, Pak." Gadis itu segera berdiri dan bergegas meninggalkan kelas.


Sementara Emi dengan sikap berusaha tenang tidak berani menatap ke arah Ilman. Aura pak dosen yang berdiri di dekatnya membuat bulu kuduknya berdiri. Berharap dosen itu cepat kembali ke depan kelas.


"Anda juga keluar!" tegas pak Ilman kali ini kepada Emi.


Emi terkejut karena dirinya juga ikut terseret. Dia tidak berbuat salah. Gadis itu memberanikan diri menoleh ke arah Ilman. "Bukan saya yang memintanya untuk mengikuti kelas ini, Pak."


"Jika tidak menyimak perkuliahan ini, Anda tidak perlu ada dikelas ini," terang pak Ilman. Dia berpikir harus memperjelas alasan mengapa dirinya meminta mereka keluar dari kelasnya.


"Saya memperhatikan pelajaran Bapak, kok Pak, bener." Emi berusaha menolak tuduhan dosennya.


Ilman tersenyum mencemooh, "benarkah? Coba katakan kalimat terakhir yang saya katakan di depan kelas!" perintahnya kemudian.


"Ah... itu." Emi memeras otaknya untuk mengingat kalimat terakhir yang tadi diucapkan dosennya di depan kelas. Sejatinya dia benar-benar tidak fokus karena nanti harus bertemu lagi dengan Simon. Dirinya akan menikah. Gila.


"Saya tidak akan melanjutkan perkuliahan ini jika Anda tidak keluar," ucap Ilman sembari berjalan kembali ke depan menuju mejanya.


Ultimatum dari pak Ilman membuat semua orang yang ada di kelas itu, menatap Emi dengan sinis. Mengapa pengacau itu tidak keluar saja. Mau tak mau, Emi terpaksa membereskan bukunya dan keluar meninggalkan kelas. "Permisi, Pak."


Ilman langsung melanjutkan ceramahnya begitu Emi keluar dari kelasnya.


Sementara Emi yang sudah berada di luar, segera menyusul Hanna yang masih berdiri di depan lift.


"Kau juga disuruh keluar?" ledek Hanna setelah menyadari Emi telah berdiri bersamanya menunggu lift.


"Iya," ketus Emi dan membenturkan kepalanya ke dinding. Dia khawatir pak Ilman akan memberinya nilai jelek, atau bisa bisa mengagalkannya.


Bukannya kasian, Hanna malah tertawa melihat Emi yang frustrasi. "Sudahlah, jangan sedih begitu. Aku traktir makan, Oke?" tawar Hanna yang sedikit seperti menunjukkan rasa bersalah.


"Tidak perlu," jawab Emi sembari berjalan masuk ke dalam lift yang telah terbuka.


Hanna ikut masuk ke dalam lift, "setelah ini kau mau ke mana?" tanyanya setelah pintu lift tertutup. Dia tahu hari ini Emi tidak ada kuliah.


"Merenung," jawab Emi sekenanya sembari mengaktifkan dering gawainya.


"Di mana? Aku ikut."


"Mengapa kau masih mengikutiku?!" kesal Emi, dan kembali menyimpan gawainya.


"Kau marah?" tanya Hanna dengan wajah polosnya.


Emi terdiam, sebuah peringatan muncul di kepalanya. Hanna adalah pelanggan tetap. Dia menghela napas dan tersenyum lebar. "Kau adalah pelanggan tetap, pembeli adalah raja," ucap Emi.


Setelah keluar dari gedung fakultas ekonomi dan bisnis, kedua gadis itu tidak langsung pulang. Mereka memilih duduk di cafe yang tak jauh dari kampus untuk menjelek jelekkan dosen mereka.


Kegiatan menggosip itu harus berakhir ketika Emi mendapatkan telepon dari Carolina. Teman sekelasnya itu memberitahu Emi jika pak Ilman memberi kuis.


Ah benar, aku belum sempat bertanya kepada Carolina tentang apa yang terjadi kemarin di cafe.

__ADS_1


***


"


__ADS_2