
Di sebuah rumah peristirahatan yang berada agak di daerah terpencil.
Simon sedang duduk berselonjor di kursi santai di depan kolam renang, menikmati pemandangan sore.
Dia tidak memakai pakaian renangnya, tetapi memakai kain sarung. Kain sarung yang diberikan Emi kepada Kent untuknya. Tadinya dia ingin membuang sarung itu. Tetapi diurungkan mengingat kebermanfaatan sarung itu.
Bagian bawahnya masih terasa nyeri. Dia sampai harus melakukan penerbangan khusus untuk pulang.
Digenggamnya kuat kaleng bir kosong hingga penyok, sorot matanya penuh dengan sesal. Dia sedang berpikir keras untuk membalas perbuatan Emi.
Bukankah dia sudah menegaskan tidak perlu melakukan hal hal yang tidak penting karena mereka tidak benar benar menikah?
Dia bahkan harus menyembunyikan pengorbanannya itu dari keluarganya. Bisa bisa mereka juga akan menertawakannya.
Emi lebih muda 11 tahun darinya. Bagaimana bisa orang dewasa sepertinya kena perangkap anak kecil.
Saat dia hendak membuka kaleng berikutnya, gawainya berbunyi menandakan sebuah pesan masuk.
[Hallo, maaf mengganggu. Bagaimana lukamu? Banyak makan sayur, buah, protein biar lekas sembuh.]
Simon membaca pesan masuk dari Emi tanpa berniat membalasnya. Dia meletakkan gawainya dan melanjutkan membuka kaleng bir nya. Saat hendak meminum bir nya, gawainya kembali berbunyi. Mau tak mau dia membaca pesan masuk untuknya terlebih dahulu.
__ADS_1
[Maaf, ada yang ingin aku tanyakan. Malam itu, apa yang terjadi di tempat kerjaku? Apa yang kau lihat?]
Simon mengerutkan keningnya, dia mengingat salah seorang pria yang tampak mabuk sedang merebahkankan Emi yang tak sadarkan diri di sofa. Saat mencari Emi, seorang pegawai wanita langsung mengantarnya ke ruangan itu.
Simon menaikan ujung bibir kanannya. Dengan cepat jemarinya membalas pesan Emi.
[Kau sangat berantakan bersama dengan teman kencanmu, aku melihat rambutmu, bahumu, kakimu]
Dia tersenyum lebar setelah mengetik kebohongannya kepada Emi.
[Terima kasih, karena kau telah menutup kembali kepalaku dengan baik. Aku bersyukur bisa bertemu dengan orang baik sepertimu]
Simon menaikan sebelah alisnya tak percaya dengan apa yang dia baca, "dia percaya begitu saja apa yang kukatakan?" gumamnya.
"Ck!" decitnya sembari meletakkan kaleng bir itu di atas meja, dan mengambil kembali gawainya. Dia mencoba menghubungi Emi.
Rasa nyeri yang tidak nyaman pada miliknya yang masih bengkak membuat moodnya tidak baik. Dia butuh ketenangan untuk menenangkan emosinya.
Tetapi Emi tiba-tiba mengirimnya pesan dan rasa penasaran kembali menghampirinya.
"Hallo," Emi menjawab panggilan telepon Simon.
__ADS_1
"Ada yang ingin aku tanyakan, apakah kau tertarik kepadaku?" tanya Simon.
Sikap Emi yang kadang terlihat tidak tertarik dengannya, dan kadang terlihat tertarik dengannya, membuatnya harus memastikan hal itu. Dia tidak bisa menikah dengan wanita yang memiliki niat tertentu kepadanya.
"Tidak," suara Emi terdengar tenang. "Eh, iya, mungkin aku tertarik ya? Aku berpikir kau memiliki wajah yang ganteng,"
Sekarang kau terdengar seperti seseorang yang baru menjadi penggemar. Pikir Simon.
"Terima Kasih," Emi kembali lagi besuara, ucapannya terdengar tulus.
"Untuk apa? karena aku sudah terlahir dengan wajah tampan?"
"Ha.. Ha.. Ha.., Tidak. Eh, aku sudah memikirkannya, aku tahu mungkin ini adalah dosa karena bermain dengan pernikahan. Tapi aku akan membantumu untuk mendapatkan akta nikah itu,"
Simon tersenyum sinis menatap kolam renangnya yang tenang, "Bukankah kau seharusnya melakukan itu? kau sudah menerima uangku."
"Benar, sekarang aku siap menjadi janda di usia muda."
Simon mengambil kembali kaleng bir nya, dan meneguknya hingga habis. Lalu meremukkan kalengnya sembari menatap sesuatu yang berada di balik kain sarungnya. Benar benar tidak nyaman.
Rasa nyeri itu kembali menyerang, Simon kembali meredakan emosinya. Dia harus fokus dengan masa penyembuhannya.
__ADS_1
"Aku tutup teleponnya, jika tak ada lagi yang ingin kau katakan." Simon memutuskan sambungan teleponnya secara sepihak.
Sementara itu di pulau yang berbeda, Emi bernapas dengan lega, waktu itu dia mungkin saja akan kehilangan kehormatannya, untunglah dirinya masih diselamatkan dari kecerobohannya. Diselamatkan lewat jalan yang tak disangka sangka, yaitu orang asing yang tak dikenal.