
Emi mengatup mulutnya rapat, dia berpikir sejenak. Dia tidak memiliki kapasitas sebagai seorang pembimbing agama.
"Tuan Simon, kau pintar. Kau bisa belajar sendiri. Aku hanya ingin mengingatkan saja," kata Emi.
Simon mengangguk, "Ya, aku cepat belajar. Tapi bukannya kau memiliki kewajiban untuk membantuku?" tanyanya sembari melirik Emi. Dia ingin membuat gadis itu menjadi sibuk, dan sangat sibuk selama tinggal bersamanya.
Emi berdehem, dan sedikit menyerah untuk berdebat. "Sholat itu tidak sulit. Hanya 5 kali sehari. Fajar, Dzuhur, asar, magrib, Isya, masing-masing memiliki waktu waktu yang berbeda. Dan untuk tiap-tiap sholat hanya membutuhkan waktu tidak lebih dari sepuluh menit, ya jika kau tidak memilih membaca bagian Qur'an yang panjang," jelas Emi dan mengakhirinya dengan senyum. Dia melirik gawai Simon. "Bisakah aku meminjam ponselmu?"
Simon melirik gawainya sekilas, dan tersenyum. "Untuk apa? apakah kau juga ingin memeriksa ponselku sebagai seorang istri?"
"Tidak, aku hanya akan membuat alarm." Emi tersenyum lebar melihat Simon, "Ponselmu akan berdering setiap kali waktu sholat, bagaimana?"
Simon mengambil gawainya, dan membuka kunci layarnya. "Terserah kau saja," katanya sembari menyerahkan gawainya kepada Emi.
Gadis itu dengan senang memainkan gawai milik Simon. Karena tuduhan Simon, dia menjadi tertarik untuk memeriksa gawai Simon setelah membuat alarm setiap waktu sholat. "Apanya yang mau periksa kalau hampir semua isinya tulisan beginian," gumamnya.
"Bagaimana jika melewati salah satu sholat itu? Seperti kau yang baru saja melewatkan sholatmu," tanya Simon tiba-tiba mengagetkan Emi.
Emi meletakkan kembali gawai Simon ke tempatnya semula sebelum menjawab, "seorang musafir tidak apa-apa, bisa sholat di waktu sholat berikutnya."
"Musafir?"
"Oh, itu traveller. Jadi aku akan melakukan sholat dzuhur bersama-sama dengan sholat asar nanti."
Oh
"Hmm... sepertinya kau seseorang pious muslim. Jadi karena menikah denganmu, aku juga harus menjadi seseorang yang taat, ya...," ucap Simon sembari berpikir apakah di mampu menjadi seorang muslim yang taat, walaupun pada awalnya dia tidak begitu bersungguh-sungguh memeluk Islam.
Tapi entah mengapa, dia sendiri tidak bisa membedakan apakah dia berpura-pura menyukai penjelasan dan melakukan setiap arahan Emi atau memang dia ingin melakukannya.
Emi mengerutkan keningnya mendengar pendapat Simon tentangnya, Pious? Ah, itu sedikit berlebihan. Batin Emi mengingat dia hanya melakukan hal hal yang wajib saja, jarang mengerjakan yang sunnah.
__ADS_1
"Eh, hanya melakukan sholat 5 waktu, itu belum bisa dikatakan alim?" ralat Emi sadar diri. Dia sangat sadar hingga tidak berani untuk menggurui Simon tentang Islam.
"Mengapa tidak? kau melalukan sholat, dan tidak minum alkohol. Teman kuliahku dulu, beberapa orang Indonesia. Mereka mengatakan mereka adalah muslim, dan tidak makan babi. Tetapi tidak sepertimu. Aku tidak melihat mereka melakukan sholat di waktu waktu yang kau sebutkan tadi. Dan... kami minum alkohol bersama," ucap Simon yakin dia tak salah mengingat.
Emi terbengong mendengar cerita Simon, dia tidak tahu jika ada muslim yang seperti itu. Apa yang harus aku jawab tentang itu?
Simon melirik Emi yang tidak mengeluarkan suara. "Jika kau mengatakan seorang muslim harus melalukan sholat 5 kali, itu artinya aku harus melakukannya, kan?"
"Ya,"
Simon tersenyum samar, "Baiklah,"
Semudah itu? Pikir Emi. Ternyata dia tidak pura-pura masuk Islam.
"Ada gerakan dalam sholat. Berdiri. Takbir..., eh itu kau ucapkan Allahu Akbar. Fatihah..., bab pertama dari Qur'an. Ruku..., itu adalah membungkuk. Sujud..., duduk dengan keningmu menyentuh lantai. Dan Tasyahud..., itu duduk."
"Kedengerannya bukan hal sulit untuk dilakukan," ucap Simon menanggapi penjelasan singkat Emi.
"Zikir?" tanya Simon mengerutkan keningnya. Sepanjang perjalanan ke Tainan, ada banyak kata kata baru yang didengarnya.
"Zikir adalah mengingat Allah, seperti mengucapkan Subhanallâh wal hamdulillâh, wa lâ ilâha illallâh, wallâhu akbar, wa lâ hawla wa lâ quwwata illâ billâh,"
"Bagaimana dengan mem-printnya, jadi bisa dibaca ketika melakukan sholat?" saran Simon untuk dirinya sendiri.
"Oh, itu juga ide bagus. Tetapi, kau tidak bisa membaca arabic, kan?" tebak Emi bingung.
"Hahaha... kau benar," tawa Simon
Apakah artinya aku harus belajar bahasa arab dulu? Mengapa menikah menjadi serumit ini?
Emi tertawa kecil, "Tidak apa apa, mungkin bisa dengan memutar rekaman Al Fatihah. Lagi pula menghapal sesuatu adalah bagian dari pekerjaanmu sebagai seorang aktor, kau tidak akan mengalami kesulitan menghafal bacaan sholat. Mendengarnya setiap saat, kau pasti akan mengingatnya dengan cepat."
__ADS_1
Simon ikut tersenyum melihat Emi tertawa. Simon memperlambat laju mobilnya, karena mereka keluar dari jalan bebas hambatan.
Begitu melihat pinggir bahu jalan yang aman untuk pakir sejenak, Simon menepikan mobilnya di sana.
Emi melihat sekitar sebelum melihat Simon. Mengapa berhenti di sini?
"Emi, kau sudah tahu kita akan mengunjungi keluargaku, kan?" tanya Simon bernada serius, dia memperhatikan Emi.
"Ya," Emi menjawab dengan santai.
"Dan keluargaku benar-benar berpikir kita adalah dua orang yang saling mencintai,"
"Ehm ya, aku tahu."
Simon tersenyum samar, "Lalu, apakah kau tahu bagaimana bersikap sebagai pasangan yang saling mencintai?"
"Kau membuatku gugup, aku sudah belajar semalaman. Seharusnya aku tidak perlu gugup, kan? Hahaha." Emi melepas tawanya tanpa sadar. Sikap Simon yang terbuka dan ramah kepadanya, membuatnya lupa jika mereka hanyalah dua orang asing yang belum lama saling mengenal.
Namun, tawanya tak berlangsung lama karena menyadari Simon yang diam saja melihatnya.
Dia memperhatikan Emi, gadis itu memiliki banyak sikap yang berbeda saat berbicara dengannya. Sikap yang seperti tidak menyukainya, sikap yang seperti robot, sikap seorang gadis penurut, penuntut saat memintanya melakukan wudhu dan sholat, dan sekarang dia tertawa lepas.
Melihat Emi yang berhenti tertawa, Simon tertawa untuk kembali mencairkan suasana.
"Apa yang kau pelajari? Bersikap seperti pasangan itu tidak bisa dipelajari oleh satu orang," ucap Simon di sela tawanya.
"Oh itu," Emi melihat tangan Simon yang masih berada di setir mobil. "Tentu saja bisa, yang kau lakukan hanyalah diam saja saat aku melakukan sesuatu kepadamu,"
Simon menaikkan sebelah alisnya, apa yang akan kau lakukan kepadaku? Aku tidak akan berharap terlalu jauh lagi.
"Ok, aku akan diam saja saat kau melakukan sesuatu kepadaku, dan begitu juga sebaliknya kau harus diam saja saat aku melakukan sesuatu kepadamu. Bagaimana?" tawar Simon sembari tertawa. Tentu saja dia berpikir bagaimana seorang pria dewasa berpikir.
__ADS_1
Melihat Simon yang tertawa, Emi juga ikut tertawa tanpa tahu apa yang dipikirkan Simon. "Ok, deal."