
"Ma'af karena menepismu," ucap Simon yang telah menyusul Ruiqi berjalan menuju lift.
"Tidak, harusnya aku yang meminta maaf. Aku terlalu ceroboh hingga tanpa sadar memelukmu di depan orang lain. Sama sepertiku, kau juga tidak ingin ada rumor tentang kita berdua, kan?" Ruiqi menunduk, menunggu lift di depan mereka terbuka. "Saat menyadari aku benar-benar mencintaimu, dan tak ingin kehilanganmu membuatku kehilangan akal sehatku," ucapnya. Dia memutuskan untuk tak ingin lagi lari dari perasaannya kepada Simon begitu mengetahui latar belakang pria itu yang sebenarnya.
Simon tersenyum mendengar pernyataan Ruiqi. "Jadi kau sudah memutuskan hubunganmu dengan pria itu, dan langsung memutuskan sepihak berpacaran denganku?"
Ruiqi tertawa menampilkan deretan giginya yang tersusun rapi, "Ma'af, karena aku mengatakan kepada gadis tadi bahwa aku adalah pacarmu. Zhiming apakah kau masih mencintaiku?"
Simon melirik sekilas ke arah Ruiqi, "Sepertinya begitu."
Ruiqi menatap Simon dengan ceria, "Lalu apakah sekarang kita resmi berpacaran? Atau bagaimana dengan tunangan saja?"
"Baiklah jika kau ingin seperti itu," kata Simon dengan tenang.
"Hmmm..., tapi gadis itu tampak seperti tidak asing," ucap Ruiqi kembali ke awal.
Ting!
Pintu lift di depan mereka terbuka, Simon langsung berjalan masuk diiringi Ruiqi. Lift itu akan membawa mereka langsung menuju pakiran pribadi Simon.
"Tentu saja dia tidak asing, bukan suatu kebetulan dia ada di rumahku." Simon melanjutkan pembicaraan mereka.
"Dia tidak mungkin gadis itu kan?" tebak Ruiqi, skandal yang sempat heboh di forum gosip, tetapi tidak berlangsung lama.
"Dia adalah gadis itu," Simon membenarkan dengan mantap.
"Apa? Bagaimana bisa?"
__ADS_1
Ting!
Tanpa lebih dulu menjawab pertanyaan Ruiqi, Simon langsung melangkahkan kakinya keluar begitu pintu lift terbuka.
"Ruiqi," katanya dan menghentikan langkahnya di depan sebuah mobil range rover. "Gadis itu akan tinggal bersamaku selama sebulan."
"Apa?" raut wajah Ruiqi berubah kaget. Dia tidak pernah berpikir Simon bisa tinggal bersama wanita lain selain dirinya.
"Masuklah! Aku akan mengantarmu pulang," Simon membuka pintu mobil untuk dirinya sendiri, dan duduk dengan nyaman di kursi pengemudi.
Ruiqi yang sudah kaget, menjadi semakin kaget karena Simon meninggalkannya di luar tanpa membukakan pintu untuknya terlebih dahulu.
Mau tidak mau dia harus bersabar menghadapi perubahan sikap Simon kepadanya. Wanita itu pun akhirnya membuka pintu mobil untuk dirinya sendiri.
Mungkin dia ingin mengujiku setelah aku menyatakan perasaanku. Pikir Ruiqi.
Simon tertawa mendengar ocehan Ruiqi sembari menjalankan mobilnya. "Bisa dibilang dia menjadi tanggung jawabku untuk sementara, karena skandal itu."
"Tidak!" Ruiqi meraih tangan Simon yang memegang kemudi mobil. "Kau mencintaiku kan? dan aku sangat mencintaimu. Tidak bisakah hanya ada kau dan aku sekarang?" pintanya dengan wajah memelas. Apapun yang dia lakukan, Ruiqi tetap terlihat cantik. Itu adalah daya tariknya.
"Ma'af," Simon melepaskan tangannya dari genggaman Ruiqi. "Ruiqi, sebaiknya mulai sekarang kita berhenti melakukan kontak fisik."
Ruiqi menatap dirinya, berpikir apakah dirinya terlalu terburu-buru?
"Mengapa kau seperti ini? Apakah karena gadis itu? Apakah ada sesuatu diantar kalian yang tidak kuketahui?" Cecar Ruiqi mengenyampingkan harga dirinya sebagai seorang wanita yang dengan mudah melemparkan tubuhnya kepada pria mana saja yang diinginkannya.
Simon terdiam memikirkan jawaban dari pertanyaan Ruiqi yang juga merupakan pertanyaannya.
__ADS_1
"Aku masih belum terbiasa dengan ini, saat ini bagiku kau masih milik pria lain," jawab Simon dengan tegas.
Ruiqi tertawa getir, "Lalu, apakah kau juga ingin aku pergi dari kehidupanmu?" tanyanya. Kedua tangannya gemetar, dia takut mendengar jawaban 'Ya' keluar dari mulut pria yang duduk di sebelahnya.
"Aku tidak akan menahanmu untuk tetap bersamaku," jawab Simon datar. Dia mengangkat kakinya sedikit dari pedal gas. Sepertinya pembicaraan mereka akan berlangsung lama, jadi dia memperlama laju kenderaannya.
Ruiqi tersenyum getir mendengarnya, "Kau tahu, dulu aku sangat berharap kau menahanku untuk tidak pergi bersama pria lain. kau mencintaiku kan?"
"Kau benar, aku mencintaimu."
"Lalu mengapa? Mengapa kau tidak berusaha untuk menahanku?"
"Aku ingin kau bahagia meskipun itu bukan bersamaku. Sebesar itulah aku mencintaimu." jawab Simon.
Tapi dia bukan pria yang membuatku bahagia, Ruiqi mentertawakannya dirinya sendiri yang meninggalkan Simon karena memilih realita saat seorang putra konglomerat mendekatinya.
Bagaimana bisa dia meninggalkan Simon demi pria seperti Luo hong yi. Tetapi melihat Emi hanyalah seorang gadis biasa, Ruiqi berpikir dirinya tidak perlu khawatir karna dia yakin Simon tidak akan benar benar jatuh cinta kepada gadis itu.
Begitu tiba di apartemen Ruiqi, Simon langsung mengemudikan mobilnya menuju pakiran. Dan berhenti di sana.
"Kau tidak ingin minum teh sebelum pergi?" tanya Ruiqi.
"Tidak, aku hanya akan mengantarmu pulang, istirahat lah. Kau pasti lelah," ujar Simon, sebuah senyum mengakhiri kalimatnya.
"Aku belum terlambat untuk kembali kepadamu, kan? Jangan mencintai gadis itu, kumohon," lirih Ruiqi dengan bibirnya yang bergetar.
Cairan bening berhasil lolos dari sudut matanya. Dia berusaha untuk itu, berusaha menarik simpati pria yang ingin dimilikinya. Dan benar. Sesuai pekiraannya, pria itu tidak akan bisa melihatnya menangis.
__ADS_1
Simon menarik tengkuk leher Ruiqi dan mencium kedua bibir wanita itu dengan lembut.