Sebatas Nikah Di KUA

Sebatas Nikah Di KUA
The Wife's Obligation


__ADS_3

Bai mengantar Emi ke suatu tempat di sudut kota Taipe.


Mobilnya... bagus. Emi berdecak kagum melihat mobil Simon yang lebih mewah dari yang kemarin.


Simon langsung menjalankan mobilnya begitu Emi masuk dan duduk di mobilnya.


"Kenakan sabuk pengamanmu," ucap Simon mengingatkan.


"Oh, ok." Emi memasang sabuk pengamannya dengan cepat karena mobil yang ditumpanginya melaju dengan kencang.


Perasaanku saja, atau memang mobilnya ngebut? Emi menelan ludah.


Daripada melihat ke arah Simon, Emi lebih memilih melihat keluar jendela. Sebuah pemandangan baru baginya, dan mungkin akan dilihatnya sekali sumur hidup. Perbukitan hijau yang mengapit jalan toll dua jalur.


"Kita akan melakukan perjalanan jauh, jika kau lapar, ada beberapa camilan di laci ini," ucap Simon seraya menunjuk camilan yang dia maksud.


"Ok," Emi kembali lagi menatap keluar jendela.


Ternyata menikah itu tidak buruk, tidak menyangka bisa berada di sini, duduk nyaman di mobil mewah. Pikir Emi dalam hati. Sejenak dirinya lupa dengan masalahnya di kampus.


"Kau tidak membeli sebuah kamera baru?" tanya Simon kepada Emi tiba-tiba.


"Tidak, aku tidak ingin menambah hutangku," jawab Emi tanpa mengalihkan pandangannya dari kaca jendela mobil.


Mendengar jawaban Emi, Simon mengatup mulutnya dan berpikir, jadi dia tidak menggunakan kartuku karena mengira itu adalah pinjaman? Kupikir karena dia bukan gadis materialis. Simon tertawa kecil.


"Apapun yang kau beli dengan kartu itu, itu adalah hadiah dariku,"


Emi langsung menoleh ke arah Simon yang duduk di sampingnya. "Kau serius?" tanyanya.


Simon mengangguk, "Ya," jawabnya singkat tanpa ragu.


Ternyata dia orang yang dermawan ya? pikir Emi.


"Hmm.., karena kau orang dermawan. Aku tidak akan ragu untuk mengatakan ini, daripada memberikanku hadiah. Aku lebih suka kau memberiku uang saku, tunai."

__ADS_1


Simon mengerutkan keningnya, mengapa dia menggunakan istilah uang saku? Apa dia pikir aku tidak memiliki banyak uang?


"Apa? Uang saku?"


"Ya, kenapa? Pelajar sepertiku membutuhkan uang saku, kau tahu," balas Emi. Dia berpikir Simon berkeberatan memberinya uang saku.


Simon mengangguk mengerti, jangan bilang kau menganggapku sebagai seorang ayah.


"Ok," jawab Simon.


"Terima kasih," Emi tersenyum sumringah, dan mulai memakan camilannya.


Simon melirik Emi yang mulai memakan Camilan yang disediakannya. Gadis itu tampak menikmati camilan itu sembari melihat pemandangan di luar jendela.


Mereka akan melewati sebuah rest area, namun Simon tetap melajukan mobilnya dengan kecepatan 109km/jam.


"Eh, lho itu tempat perhentian istirahat," seru Emi menyaksikan mereka baru saja melewati rest area jalan tol. "Mengapa kita tidak berhenti?" tanya Emi dengan nada menuntut.


"Maaf, aku tidak bisa berhenti."


"Zuhur?"


"Lupakan saja," lirih Emi seraya kembali menatap ke luar jendela. "Dijamak takhir sajalah nanti," gumamnya.


"Emi Talenta maaf, aku tidak tahu jika kau harus sholat saat ini," jelas Simon bernada tulus.


Emi mengerutkan kedua alisnya, "aku?" tanyanya. "Tuan Simon, apakah hanya aku yang muslim di sini?" sindir Emi.


"Oh, ya aku juga muslim, Ash-hadu an la ilaha illa Allah, Wa ash-hadu anna Muhammadan Rasulu-Allah. Lihat, aku menyimpannya di pikiranku," Simon tersenyum bangga menunjukkan kebolehannya.


Emi menatap Simon dengan mata penuh takjub yang sengaja terlihat dibuat buat. "Oh wow," sindirnya.


Lalu bagaimana dengan rukun Islamnya? Haruskah aku membahasnya lagi, meskipun dia sudah mendapatkan kuliah singkat saat masuk Islam?


Apa tidak usah saja?

__ADS_1


Simon melirik sekilas Emi yang berpikir keras. Dia ingin mengingatkan Emi bahwa mereka harus terlihat mesra saat di rumah kakek,


Apa yang harus kukatakan kepadanya? Aku bukan lelaki mesum. Tetapi jika kami tetap menjaga jarak seperti ini di rumah kakek, kakek akan curiga.


"Emi, itu kau tahu__,"


"Tuan Simon, sepertinya aku memiliki sebuah kewajiban sebagai seorang istri," potong Emi dengan wajah serius.


Perkataan Emi membuat wajah Simon memerah, karena berpikir Emi memiliki pemikiran yang sama dengannya. Kewajibannya sebagai istri? Ya tetapi aku tidak akan meminta sampai sejauh itu.


"Kau tidak perlu terbebani dengan kewajibanmu sebagai istri. Santai saja, kau hanya perlu menunjukkan__,"


"Tidak tidak, aku tidak bisa menganggapnya remeh, karena nanti aku akan mendapatkan dosa," potong Emi serius, nadanya terdengar tegas.


Simon menelan ludah mendengar ketegasan Emi. Ada apa dengan gadis ini?


Simon melonggarkan kerah kemejanya, meskipun pendingin mobilnya hidup, dia merasa panas. Apakah Islam juga mengatur tentang kewajiban istri? Menarik.


"Mengapa kau tiba-tiba ingin melakukan kewajibanmu sekarang?" tanya Simon berpura-pura bersikap tenang.


"Karena kau sepertinya tidak serius dengan komitmenmu sebagai seorang muslim. Jadi aku pikir itu adalah kewajibanku sebagai seorang istri untuk terus tetap mengingatkanmu," tegas Emi.


"Oh," Atmosfer panas dalam diri Simon tiba-tiba menjadi dingin. Sudah kuduga, aneh jika dia sampai berpikir sejauh itu.


"Eh, itu bukan berarti aku menganggapmu suami," ucap Emi salah tingkah. Dia takut Simon akan berpikir dia akan menggunakan perasaannya dalam hubungan mereka.


"Ya, aku tahu. Kau tidak menganggapku suami, dan aku tidak menganggapmu istri, kedua hal itu tidak akan berubah. Jadi jangan rusak kesepakatan kita tentang tidak mengatakannya lagi," tegas Simon.


"Maaf," lirih Emi.


Simon membalas permintaan maaf Emi dengan senyum samar.


"Eh, aku jadi lupa kan mau bilang apa," gumam Emi.


Emi menoleh ke arah Simon, menatap tegas pria yang sedang mengemudi di sampingnya. "Tuan Simon, aku memiliki kewajiban mengingatkanmu tentang rukun islam yang kedua, yaitu sholat. Setelah syahadat, kau harus sholat lima waktu sehari."

__ADS_1


Simon bergeming dengan peringatan Emi. Tanpa menoleh ke arah Emi, dia berkata, "sebelum aku melalukan sholat, bukankah kau harus mengajariku terlebih dahulu?" tanyanya dengan tenang.


__ADS_2