
Drrtt... bunyi alarm Gawai Emi menggema di seluruh sudut kamar Simon.
Tanpa membuka matanya, Emi mencari cari sumber bunyi yang membangunkannya. Tak cukup menggunakan kakinya untuk mencari gawainya, Emi juga menggunakan tangannya meraba raba tempat tidurnya.
Dia sering tidur bersama gawainya di tempat tidur.
Apa ini? tanyanya penasaran ketika tangannya menyentuh sesuatu yang empuk.
Tak ingin larut dalam rasa penasaran, Emi membuka matanya. Ternyata dia menyentuh otot perut sebuah patung yunani yang terbuat dari daging manusia asli.
"Ah!! kau pervert!" teriak Emi sembari bangun dari tidurnya.
Simon yang terbangun karena Emi meraba-raba tubuhnya, jelas tidak terima dengan tuduhan Emi. "Apa? kau memanggilku pervert?" tanya Simon memastikan pendengarannya. "Hey Emi, itu kau yang menyentuhku dengan cabul," katanya lagi.
"Mengapa kau tidak memakai baju?" protes Emi dan buru buru turun dari tempat tidur karena Melihat Simon yang mencoba untuk duduk.
"Aku memakainya," jawab Simon membela diri sembari menunjukkan piyama kimono yang dikenakannya, hanya talinya saja yang terlepas hingga mengekspos tubuhnya. Namun, dia tak berniat mengancingnya kembali.
Karena Emi terburu- buru turun dari tempat tidur, kakinya terlilit selimut dan jatuh ke lantai. Selimut yang menutup sebagian tubuh Simon ikut terseret jatuh bersama Emi.
Simon tidak memiliki waktu untuk menutupi aset berharga miliknya satu satunya atau emang tidak memiliki niat untuk itu. Emi yang terduduk di lantai sudah keburu melihat ke arahnya.
"Astaghfirullah! kau benar benar pervert!" teriak Emi melotot kaget sembari menunjuk ke benda yang berdiri tegak, dan menutup kedua matanya dengan telapak tangan. Sebenarnya dia sedikit penasaran untuk melihat lebih jelas alat reproduksi yang digambar di buku biologi, kini terpampang nyata di hadapannya. Tetapi rasa malu dan ingat dosa, meredam rasa penasarannya.
__ADS_1
Dia gila tidak pakai celana. protes Emi dalam hati.
"Aku bukan perverts atau exhibitionists. Itu kebiasaan tidurku commando," jelas Simon bernada tenang. "Lagi pula, kita adalah pasangan yang sudah menikah, tidak ada masalah bertel@njang, kan?" protesnya kemudian.
Begitu ya, batin Emi mulai setuju dengan perkataan Simon. "Commando?" tanya Emi, mengabaikan protes Simon.
"Tidak memakai pakaian dalam." Simon memperjelas pilihan kata yang digunakannya.
"Tetapi seharusnya kau pakai celana, karena aku ada di sini," protes Emi sembari membuka matanya. Dia pikir Simon sudah memakai bajunya dengan benar. Tetapi pria itu masih duduk santai di sana.
"Ya Tuhan, mengapa kau masih belum menutupnya? itu berdiri begitu karena kau tidak pakai celana, dasar cabul!" Emi segera berdiri, dan berniat segera kabur meninggalkan kamar Simon.
"Hey Emi, kau seharusnya senang karena menikah dengan pria normal. Ini adalah hal wajar bagi pria setiap bangun tidur." Simon akhirnya memakai piyama kimononya dengan benar.
"Sekali cabul, tetap cabul!" Emi berhasil keluar dari kamar Simon setelah dua kali jatuh terbentur lantai dan terjedot kursi.
"Itu pasti sakit, perlukan aku membawanya ke rumah sakit?" gumam Simon menatap kepergian Emi.
Di kamar mandi umum, Emi membersihkan dirinya sebelum sholat subuh. Dia pikir mandi wajib diperlukan agaknya, setelah melihat hal yang tidak senonoh. Entah mengapa pula dia memilih option A tadi malam.
***
Setelah selesai melaksanakan sholat subuh, Emi menyiapkan bekal di dapur untuk pergi jalan jalan dengan Joe dan Bai.
__ADS_1
Meski telah mandi dan sholat, bayangan tentang penampakan benda milik Simon yang mencuat tetap mengotori pikirannya.
Dia benar benar orang mesum dan gila, apa aku pergi saja dari sini? Batin Emi tidak tenang.
Namun kepanikannya tidak bertahan lama karena menyadari tidak ada yang salah, dan aneh dengan badannya. Dia masih berpakaian lengkap saat bangun.
"Apa lututmu baik baik saja?" suara Simon yang tiba-tiba bertanya kepadanya mengagetkan Emi.
Pria itu berdiri di sana, di depan dispenser. Sedang meminum air hangat.
Emi yang sedang mengaduk aduk nasi di dalam wajan, tidak berani melihat ke arah Simon. "Ada apa dengan lututku? mengapa kau bertanya? apakah kau sudah melakukan sesuatu kepadaku?"
"Aku tidak melakukan apapun kepadamu. Aku bertanya karena kau jatuh cukup keras tadi pagi," elak Simon sembari berjalan mendekat ke arah Emi. Dia penasaran apa yang sedang dimasak Emi, karena gadis itu mengaduk ngaduk nasi gorengnya dengan penuh semangat.
"Jangan mendekat! kau mau apa?" hardik Emi yang mencurigai Simon akan melakukan hal hal tidak senonoh kepadanya.
Simon menghentikan langkahnya, memperhatikan Emi. "Apa? aku hanya ingin melihat apa yang sedang kau masak?"
"Nasi goreng, ini bukan untukmu. Ini untuk Joe, aku menambahkan banyak sosis." jawab Emi berterus terang.
Simon mengerutkan dahinya, "Siapa Joe?"
"Oh kau tidak mengenal orang yang tinggal di depan rumahmu?" tanya Emi tidak heran karena mungkin saja penghuni gedung apartemen tidak saling mengenal.
__ADS_1
Wah, Emi Talenta kau sungguh luar biasa. Kau memberikan sosisku untuk pria tetangga? batin Simon berang.
"Hey Emi, apa kau ingin aku tunjukkan seperti apa pria cabul itu?" tanya Simon sembari tersenyum. Dia sudah cukup bersabar menahan diri untuk tidak meng-unboxing gadis yang dinikahinya.