Sebatas Nikah Di KUA

Sebatas Nikah Di KUA
bab 34


__ADS_3

Di tempat lain, di dapur yang berbeda, Simon juga sedang memasak soup daging sapi dengan tauge.


"Zhiming, bagaimana menurutmu kalau kita pura pura pacaran saja? Banyak hubungan yang berawal dari cinta lokasi, bahkan perselingkuhan," tawar Ruiqi yang duduk di kursi meja dapur menunggu soupnya.


"Entahlah," jawab Simon tersenyum seraya memindahkan sebagian soup dari panci ke dalam sebuah mangkukmangkuk berukuran sedang.


Ruiqi memperhatikan mangkuk soup yang dibawa Simon, dia menunjukkan ekspresi memelasnya. "Ayo lah, tidak ada yg dirugikan dari pernyataan hubungan kita kan?"


"Ruiqi, jangan salah paham, sebagai temanmu aku tidak serelawan itu hingga mau menjadi pacar bohonganmu. Aku hanya tidak ingin kondisimu jadi kacau, karena itu akan merugikanku juga. Kau akan mulai syuting iklan hari ini, kan?" Simon memberi penjelasan dengan santai.


Semangkuk soup panas telah tersaji di hadapan Ruiqi. Sudah lama dia tidak makan masakan Simon. Tampilan soup itu terlihat sama seperti dulu. Namun sikap Simon kepadanya semakin lama semakin berbeda.


Ruiqi menunduk menatap soupnya, "Jangan khawatir. Aku meninggalkan masalah pribadiku saat berada di lokasi syuting."


Tapi mengapa syuting iklanku bisa merugikanmu? Pikir Ruiqi bingung.


Simon mengulurkan tangannya, berniat ingin mengusap rambut panjang Ruiqi. Namun sejurus kemudian menarik tangannya kembali, "Ruiqi nikmati makananmu, aku harus pergi," katanya dan bergegas pergi.


"Kau tidak ikut makan bersamaku?" tanya Ruiqi. Dia ingin lebih lama menghabiskan waktu dengan Simon di saat galau.


"Tidak, sampai jumpa besok, bye," ucap Simon sebelum menghilang di balik pintu apartemen Ruiqi.


Selepas kepergian Simon, Ruiqi tersenyum samar menatap soupnya. Kau tidak akan bisa meninggalkanku, batin Ruiqi.

__ADS_1


***


"CEO seperti apa kau ini yang selalu membiarkan kantornya menjadi ruangan hantu? Menyerahkan semuanya kepadaku, kau hanya ingin makan gaji buta, ya?" Omel Wu zhang Wei kepada Simon melalui sambungan telepon.


Simon yang sedang dalam perjalanan menuju unit apartmentnya, harus mendengarkan omelan Wu Zhang Wei di sepanjang perjalanan.


"Itu kasar sekali mengatakan pemilik sebagai orang yang makan gaji buta," tawa Simon.


"Apa yang terjadi? Mengapa Z.Z Entertainment yang hidup segan mati tak mau, dibuat sibuk oleh Ohm group?" tanya Zhang Wei dengan perasaan senang, dan kesal karena terus terusan menjadi perwakilan Simon.


Simon memilih lebih dahulu membuka pintu rumahnya, sebelum menjawab pertanyaan Zhang Wei.


"Entahlah, mungkin karena aku baru saja memungut seorang gadis kecil," jawab Simon sembari masuk ke dalam rumahnya.


"Berhentilah bercanda, kau harus masuk kerja hari ini!" seru Zhang Wei.


"Wu Zhang Wei, andai kau tahu apa yang kulakukan hingga membuat Ohm group melirik agensi kita, kau akan berlutut kepadaku tiga hari dua malam."


"Oh tidak, apa kau berlutut kepada ayahmu tiga hari dua malam?" tanya Zhang Wei. Sepengetahuannya, keluarga Simon adalah keluarga yang keras. Bahkan hanya karena berbeda pilihan saat pemilu, Ayahnya tidak memberikan Simon posisi di Ohm group.


"Lebih dari itu. Zhang Wei, kembali lah bekerja. Aku tutup teleponnya, bye," ucap Simon, dan memutuskan sambungan teleponnya secara sepihak.


Dia mengedarkan pandangannya ke sekeliling unit apartmentnya, tetapi tidak menemukan sosok Emi.

__ADS_1


Saat melewati dapur sekali lagi, ujung mata Simon menangkap sesuatu di atas meja makan.


Penasaran, Simon melihatnya dari dekat. Sebuah tutup saji dengan secarik kertas di atas meja.


Jangan khawatir aku akan membuangnya nanti setelah aku pulang, jika kau tidak memakannya, Simon tersenyum membaca tulisan tangan Emi.


Dia segera mengangkat tutup saji itu, dan menemukan empat potong sandwich. Sandwich bakar yang dibuat dengan sedikit sentuhan seni karena sedang gabut.


Simon mengambil sepotong sandwich itu, sembari mengambil gawainya. Mendapati Emi tidak ada di rumahnya, dia yakin gadis itu sedang bersama Bai.


"Rasanya tidak buruk," gumam Simon setelah gigitan sandwich pertamanya.


Dia menghubungi Bai. Sudah jelas dia mengatakan hari ini tidak perlu menjemput Emi.


"Hallo, Tuan Simon." Terdengar suara Bai dari gawai milik Simon. Suaranya terdengar santai. "Itu bos kita yang menelepon ya?" Suara Emi yang berbahasa Indonesia ikutan terdengar di gawainya.


"Mengapa kau menjemputnya?" tanya Simon bernada tajam.


"Nona Emi Telenta menghubungiku, dan__"


"Dalam waktu sepuluh menit, dia harus sudah tiba di apartemenku," tegas Simon dan memutuskan sambungan teleponnya. Namun sejurus kemudian dia menghubungi Bai kembali. "Kau harus mengemudi dengan kecepatan tidak boleh lebih dari 30km/jam."


"Itu.."

__ADS_1


Simon memutuskan sambungan teleponnya tanpa menunggu Bai menyelesaikan kalimatnya.


__ADS_2