Sebatas Nikah Di KUA

Sebatas Nikah Di KUA
Look Like Newlyweds


__ADS_3

Kent si pelaku yang membunyikan bel pintu, masuk begitu saja tanpa menunggu seseorang membukakan pintu untuknya dari dalam. Dia memiliki akses pintu apartemen Simon.


"Hallo, Selamat pagi." Dia tersenyum kecut menyapa Emi yang berdiri di depan pintu masuk.


Sebuah pisau dapur dengan kilatan tajam ada di tangan kanan Emi.


"Hallo," balas Emi datar, dan kembali berjalan ke dapur meninggalkan Kent yang berusaha akrab dengannya. Mengapa membunyikan bel jika dia bisa membuka pintu sendiri, gerutunya dalam hati.


Tidak patah semangat, Kent mengikuti Emi. "Kau bisa memasak?" tanyanya kepada Emi setelah mendapati beraneka ragam kotak bekal.


"Ya," jawab Emi singkat sembari memberikan bungkusan kepada Kent. "Aku tidak tahu apa yang Tuan Kent suka, jadi aku membawakan banyak untuk Tuan Kent."


Kent menerima bungkusan kotak makan malam itu dengan sumeringah, "terima kasih, kami akan memakannya dengan baik."


"Kalian sedang apa?" tanya Simon yang telah berganti pakaian berjalan melewati keduanya menuju pintu keluar.


Dia seperti hantu yang berjalan tanpa suara, tiba tiba saja sudah muncul.


"Bye bye Emi Talenta, jika terjadi sesuatu segera menghubungiku." Kent menyusul Simon dengan barang bawaannya.


Tidak mau ketinggalan, Emi juga mengikuti keduanya hingga ke depan pintu. Itu adalah hari pertamanya mengantar suaminya pergi mencari rejeki. Tidak, maksudnya bukan suami sungguhan.


"Melihat Emi Talenta mengantarmu, kalian jadi kelihatan seperti sepasang pengantin baru sungguhan," gurau Kent kepada Simon dengan menggunakan bahasa Mandarin.

__ADS_1


Mendengar gurauan Kent, Simon tersenyum samar menoleh ke belakang. Emi ada di sana berdiri, ekspresinya datar dan terkesan dingin dalam pandangan Simon.


Sepasang pengantin baru? Batin Simon, entah mengapa dia tidak terganggu dengan gurauan Kent.


Tanpa berkata-kata lagi, kedua pria itu berlalu meninggalkan Emi seorang diri di rumah Simon yang lumayan besar itu.


Sekarang apa yang harus kukerjakan? Menonton tv? bisik Emi dalam hati. Hanya sebulan, dia memiliki waktu sebulan tinggal bersama pria yang berstatus suami. Jadi harus benar-benar menikmati liburan semesternya.


***


Mobil van yang mengangkut Simon melaju meninggalkan gedung apartemen menuju lokasi syuting.


"Apa ini?" tanya Simon menunjuk sebuah kotak yang tidak seperti biasanya.


"Aku tahu, tapi mengapa kau mengganti makan malamku dengan ini?"


Kent sekali lagi melirik Simon lewat kaca spion, "Bukankah kau memintanya bekerja menjadi asisten di rumahmu?"


"Ya, tetapi aku tidak memintamu untuk mengubah apapun tentangku,"


Kent menghela napas bosan, "Kita akan terlambat jika aku harus putar balik membeli makan malam yang biasanya. Sudahlah, untuk hari ini kumohon."


Simon melirik susunan kotak lain di atas kursi sebelahnya, "Lalu apa itu? Jangan bilang kau akan membuat itu menjadi makan malamku juga,"

__ADS_1


Kent tertawa kecil karena tuduhan Simon tidak benar, "itu milikku, bukan milikmu. Milikmu hanya kotak kecil yang ada di depanmu itu saja."


"Apa?! Kau bercanda? Mengapa dia membuatkan lebih banyak untukmu?"


"Mengapa kau jadi protes? Bukankah kau tidak akan memakannya?"


Simon terdiam sesaat mendengar komentar Kent. Dia benar, masa bodoh, aku juga tidak akan memakannya.


"Apa dia tidak tahu siapa yang menjadi bosnya? Siapa yang membayarnya," gerutu Simon kesal sembari menatap keluar jendela. "Sebagai seniornya, kau harus membimbingnya dengan baik!" perintahnya kemudian kepada Kent.


Kent melirik Simon dari kaca spion, Ya ampun lihatlah dia, apakah dia kesal karena istrinya lebih memperhatikan pria lain?


"Beritahu sutradara Wang untuk memundurkan jadwal syutingku besok siang," kata Simon menganti topik tentang kotak yang tidak adil itu.


"Kau akan beradegan dengan Chu Ruiqi. Bukankah lebih baik kau membujuknya terlebih dahulu? Lagi pula dia sangat dekat dengan sutradara Wang," balas Kent yang tidak ingin menjadi sasaran kemarahan sutradara. Lebih baik pihak Chu Ruiqi yang menghubungi sutradara Wang.


Kent melirik spion, menyadari perubahan raut wajah Simon yang kesal menjadi diam memikirkan sesuatu. "Ada apa? Apa kau ingin aku yang menghubungi manajer Chu Ruiqi?"


"Tentu saja, kau harus mengaturnya sendiri," ucap Simon datar.


"Baiklah," nada suara Kent terdengar tak bersemangat. Dia sadar jika aktor yang sedang diurusnya bukanlah seorang aktor yang terkenal dengan kerendahan hati, dan bukan orang yang mudah berosilasi menjalin pertemanan.


Dilihat bagaimanapun juga, Chu Ruiqi aktris yang sangat jelas menaruh perasaan kepadanya. Jika wanita secantik Chu Ruiqi bukan tipenya, lalu wanita yang seperti apa tipenya? Emi Talenta? pikiran Kent yang tidak mengetahui jika aktornya menyukai Ruiqi itu berkenala kemana-mana hingga mereka tiba di lokasi syuting Supper Restaurant.

__ADS_1


__ADS_2