
Dua minggu telah berlalu dengan cepat bagi Simon, tetapi lamban bagi Emi yang mengalami hari hari sulit dikampusnya.
Tidak ada yang istimewa dengan pernikahan Emi. Itu hanya sebatas ijab kabul di KUA. Sesuai kesepakatan, itu adalah pernikahan demi sepotong surat.
Walau sedikit sulit bagi Emi untuk meyakinkan kedua orang tuanya tentang pernikahan yang tanpa perayaan, pada akhirnya mereka tetap menerimanya. Mendapatkan menantu yang akan melunasi hutang mereka adalah keberuntungan yang tidak boleh dilewatkan.
Tetapi ada satu lagi fakta yang mengejutkan Emi saat melihat indentitas calon suaminya. Dia benar-benar terkejut mengetahui bahwa Simon adalah seorang pria dewasa, lebih tua 11 tahun darinya. Dia berpikir untuk bersikap lebih sopan kepada Simon.
Tapi bibirnya keluh karena tidak tahu bagaimana harus bersikap sopan kepada Simon.
Hari itu adalah hari dia akan menikah. Tidak ada pakaian khusus. Emi hanya mengenakan pakaian terusan dengan paduan krudung berwarna senada yang biasa dia kenakan.
Mereka benar-benar melangsungkan pernikahan di KUA, setelah Simon melakukan ikrar syahadat. Tidak ada keluarga lain yang hadir melihat prosesi akad nikah yang sederhana itu, hanya kedua orang tua Emi, kakak lelaki dan kakak iparnya.
Simon duduk di sebelah Emi, pria itu mengenakan kemeja lengan panjang. Berpakaian rapi membuat ketampanannya naik 0,1%, meskipun dia mengenakan masker. Untuk melindungi privasinya, dia terbiasa untuk menutup wajahnya saat berada tempat umum. Tidak ada yang aneh dengan itu sekarang, karena kehidupan telah terbiasa dengan masker sejak pandemi covid.
Emi menatap tangan kokoh yang menjabat erat tangan penghulu. Warna kulit keduanya begitu kontras.
Aku tidak mencintaimu, dan tidak akan. Ucapan Simon yang tiba-tiba terlintas di kepalanya, kembali membuat jantungnya berdenyut.
Hanya sebatas nikah, bisik Emi dalam hati menghibur dirinya. Dia mengepal erat kedua tangannya yang bersembunyi di bawah meja.
Dicintai seorang pria, melangsungkan akad nikah di sebuah mesjid yang megah, dengan pakaian akad nikah berwarna putih yang berkilau. Bersanding dengan ceria di resepsi pernikahan yang dipenuhi makanan enak adalah impiannya.
Tidak apa apa Emi, ini adalah hal baik. Ayah mendapatkan tokonya kembali, aku bisa membayar kuliah. Emi sekali lagi menguatkan dirinya saat penghulu mulai memimpin doa.
Pernikahan mereka bukan pernikahan normal pada Umumnya. Simon langsung pergi bandara begitu selesai mengantar Emi dan keluarganya. Dia harus segera balik ke negaranya dengan penerbangan sore.
"Kemana suamimu? Mengapa langsung pergi?" Bisik Ratni, istri dari kakak lelaki Emi.
"Eh...," Emi menghentikan langkah kakinya mengikuti kedua orang tua, dan kakak lelakinya masuk ke dalam toko roti yang sekaligus rumah mereka itu. "Dia sedang sakit," jawab Emi. Dia tidak tahu harus berbohong seperti apa.
"Hmm... Karena itu dia tadi terus mengenakan masker," ucap Ratna bernada kecewa. Dia berharap dapat melihat seperti apa wajah pria asing yang menikahi adik iparnya.
"I.. ya," Emi meneruskan langkahnya masuk ke toko.
Malik, kakak lelaki Emi duduk di ruang keluarga yang terletak di lantai dua. Wajah masamnya tidak juga pudar sejak di KUA.
"Apakah aku akan mendapat penjelasan sekarang? Ayah, Bu?" Rahang malik mengeras menahan marah.
Bagaimana bisa dia baru tahu jika adik perempuannya akan menikah hari ini? Ayahnya baru mengubunginya tadi pagi untuk datang ke KUA.
__ADS_1
"Kami baru memberitahumu karena... “ suara Omar terhenti begitu melihat Ratna, menantunya sudah tiba di lantai yang sama dengan mereka. "Kami tidak sempat memberitahumu, karena adikmu menikah mendadak."
"Bang sudahlah, aku hanya menikah. Bukan masalah penting bagi Abang. Yang penting kan sekarang Abang sudah lihat tadi aku menikah di KUA," jelas Emi apa adanya.
"Bukan hal penting, katamu?" Malik kembali meradang, ditatapnya Emi dengan tajam. "Aku tidak mengenal siapa pria asing yang menikahimu, bagaimana kalau dia akan mencelakaimu? Dan sekarang, di mana pria itu?"
Ratna ingin menjawab jika pria yang dipertanyakan suaminya sedang sakit, tetapi dia urungkan. Dia memilih duduk diam di samping suaminya. Bukan tempatnya untuk ikut dalam pembicaraan penting keluarga suaminya.
"Malik, orang itu datang baik baik untuk menikahi Emi. Dia anak yang sopan, dan dia juga sudah beragama islam." Dengan suara lembutnya, Arum memberi penjelasan Malik.
"Benar, kau tidak perlu khawatir. Dia adalah penguasaha yang sibuk. Dia harus kembali ke negaranya. Saat ini, hanya bisa akad nikah dulu. Resepsi akan diadakan nanti," jelas Ayah kepada Malik, nada bicaranya tertata dengan rapi. Diliriknya Emi yang masih berdiri di pinggir tangga, "benar kan, Emi?"
Emi menatap keluarganya bingung, "Eh, iya."
Ratna ikut menjadi bingung, jadi yang mana? Sakit atau sibuk?
"Pengusaha? Di mana kau mengenal orang itu," Malik masih menatap tajam Emi.
"Ah itu..., Instagram," ucap Emi. Benar bukankah aku tiba-tiba bisa berhubungan dengannya lewat postinganku di instagram?
"Media sosial? Bagaimana kau bisa yakin dengan orang yang kau temui dari media sosial semacam itu benar benar serius menikah denganmu?"
Malik terdiam sesaat mencerna perkataaan ayahnya. Dia mengerti, pada akhirnya semuanya tentang uang. Ditatapnya Emi yang terlihat lusuh.
Seharusnya kau bahagia di hari pernikahanmu. Bisiknya dalam hati. Dia sedikit menyesal karena tanpa sadar telah menambah penderitaan adiknya.
Hutang itu harusnya menjadi tanggungjawabnya.
Bekerja sebagai account officer di sebuah bank BUMN, tidak membuatnya lancar lancar saja membayar cicilan hutang. Ironis memang.
"Baiklah kalau begitu, Malik harus segera kembali kerja, Yah, Bu." Malik berdiri dari duduknya dan menyalami kedua orang tuanya bergantian.
"Iya, hati hati."
"Ratna juga pamit pulang, Yah, Bu."
"Iya, hati-hari."
Malik melihat Emi yang masih berdiri di sebelah tangga sekali lagi sebelum menuruni tangga itu, "Emi, ingat jika ada apa apa kau harus segera menghubungiku!" tegasnya.
"Ah.., iya."
__ADS_1
Omar menghela napas berat setelah kepergian putranya. "Aku seperti telah menjual putriku sendiri," lirihnya.
"Tidak Ayah, aku yang ingin menikah, bukan Ayah yang menjualku. Ingat waktu itu saat aku tidak ingin menikah, Ayah tidak memaksaku." Emi berjalan mendekati kedua orang tuanya.
Bantahan Emi tidak lantas membuatnya terbebas dari rasa bersalah. Dia bahkan tidak bisa memberitahu keluarga besarnya tentang putrinya yang telah menikah.
Omar dan Arum tahu hal yang sebenarnya terjadi karena Emi tidak pandai berbohong, jika putri mereka dinikahi hanya untuk sebuah status yang diperlukan Simon. Keduanya akan hidup menjalani kehidupan masing-masing setelah menikah. Dengan status Emi yang seperti itu, mereka mencemaskan masa depan Emi untuk memiliki keluarga bahagia.
"Emi, Ibu sangat berharap kau memiliki keluarga yang sempurna," ucap Arum sembari mengelus kepala putri semata wayangnya.
***
Di sisi lain, Malik yang sedang dalam perjalan mengantar istrinya pulang sebelum kembali ke kantornya tampak masih merasa bersalah dengan adiknya.
"Ada apa? Sepertinya Abang, tidak suka dengan pernikahan Emi?" tanya Arum yang duduk di sebelah Malik.
"Ya, aku tidak akan tinggal diam, jika orang itu mencoba menyakiti Emi," tegas Malik. Matanya menatap lurus ke depan, dan tangannya menggenggam kemudi mobil dengan erat.
Ratni tersenyum mencoba menenangkan suaminya, "Sayang, bukan kah itu hal yang baik? Ayah bilang dia adalah pengusaha, dia juga melunasi hutang kita, ibu bilang dia anak yang sopan. Kita baru hari ini bertemu dengannya, mungkin saja dia orang baik. Dan mungkin saja dia harus segera pergi begitu saja karena suatu alasan, bukan karena dia tidak menghargai Emi dan keluarga kita."
Malik melirik istrinya sekilas. Saat melihat gelagat ayahnya yang terhenti begitu melihat Ratni, dia tahu Ayahnya menyembunyikan sesuatu. Bagaimana dia bisa tenang?
"Kira kira kapan resepsi pernikahannya akan dilaksanakan? Bukankah banyak yang harus dipersiapkan?" tanya Ratni bersemangat.
"Entahlah,"
***
Di sisi lainnya lagi, Simon duduk diam di kursi penumpang mobil yang akan membawanya menuju bandara. Matanya menatap keluar jendela, menghitung berapa pohon yang mereka lewati.
"Ada apa? Apa kau sedang berlatih memerankan karakter misterius?" tanya Kent yang duduk di samping pak supir yang sedang mengemudi.
Dia ingin tahu apa yang membuat Simon bersikap diam setelah dinyatakan sah menikah. Apakah Aktornya kurang istirahat, karena harus baru semalam tiba di Indonesia sudah harus balik lagi ke Taipei. Dia harus menjaga stamina aktornya dengan baik.
"Hmm..," Simon tetap manatap ke luar jendela mobil. Prosesi pernikahannya berjalan dengan lancar tanpa harus meletakkan pikirannya di sana. Dia bahkan mengabaikan Emi dan keluarganya.
Pikirannya dipenuhi dengan Chu Ruiqi yang akan beradu akting dengannya sebagai sepasang kekasih menggantikan aktris pemeran utama yang dikeluarkan dari film Take Me to The Mars karena terlibat skandal.
"Aku sudah memikirkannya, aku akan mundur dari TMtTM," ujar Simon dengan tenang, setenang pak supir yang mengemudikan mobil dengan kecepatan tak lebih dari 40km/jam.
Kent sudah tidak terkejut mendengar hal hal yang seperti itu keluar dari mulut aktornya. Ditatapnya Simon dengan pandangan bosan, "Kau tidak bisa mundur dari film itu, jika kau melakukannya sutradara Wang akan membunuhku. Lebih baik kau tidak usah berpikir daripada menjadi masalah," omel Kent.
__ADS_1