
Simon mengendus dan meniup air dari lubang hidungnya dengan baik setelah percobaan kedua.
"Ok, selanjutnya. Langkah 5. Cuci wajah. Setiap bagian wajah harus dibersihkan dari telinga kiri hingga ke telinga kanan, dan dari atas kepala hingga ke bawah dagu. Seperti ini." Tanpa air Emi membasuh wajahnya ddengan kedua telapak tangannya. "Lakukan seperti itu tiga kali," ucapnya kemudian.
Simon mengikuti apa yang dilakukan Emi, sebanyak tiga kali dengan air keran. Dia mulai menikmati arahan Emi tentang berwudhu, meskipun sebenarnya dia sedang diburu oleh waktu.
Bulir air membasahi seluruh wajahnya, hingga membasahi kerah leher kaos yang dikenakannya.
Tanpa sadar Emi terus menatap Simon, apa yang kulakukan? tanyanya dalam hati. Dia pun memalingkan wajahnya, berhenti melihat pemandangan yang membuat jantungan.
Duh, jantung tenanglah tenang. Batin Emi menahan jantungnya yang tiba-tiba berdebar melihat Simon membasuh wajahnya.
Emi kembali menoleh ke arah Simon begitu tidak lagi mendengar suara air.
"Langkah 6. Cuci Lengan Anda. Mulai dari ujung jari dan basuh lengan kanan hingga siku. Pastikan semua bagian basah," jelas Emi seraya menunjuk sikunya. "Lakukan seperti ini tiga kali, dan langkah 7. Bersihkan kepala. Kau tidak mencucinya, tetapi menyekanya dengan tangan yang basah. Seka dari atas dahi hingga kebelakang kepala, dan dari belakang ke dahi. Dan langkah 8, masih dengan tangan yang basah gunakan jari telunjuk untuk membersihkan bagian dalam telinga, dan ibu jari untuk membersihkan belakang telinga." Emi memperagakannya tanpa membuka kerudungnya.
"Ok, aku akan mencobanya," ucap Simon seraya menghidupkan air keran.
Emi menyerahkan mangkok pencuci beras yang tadi dibawanya kepada Simon setelah pria itu melakukan semua apa yang dikatakannya. "Ambil ini untuk mencuci kaki,"
"Apa?" Simon menerima mangkok itu dengan bingung.
"Gunakan itu untuk mengambil air dan mencuci kaki," ucap Emi seraya menunjuk ke arah kaki Simon.
"Itu akan membasahi lantai," protes Simon.
"Siapa suruh bikin kamar mandi besar besar tapi nggak punya keran," gumam Emi.
Simon mengerutkan kedua alisnya mencoba memahami gumaman Emi. "Ok, ok," ucapnya dan kemudian menampung air dengan mangkok pencuci beras.
"Mulai dari jari-jari kaki kanan dan basuh hingga dan termasuk pergelangan kaki. Pastikan air menyentuh setiap area kaki kanan. Lakukan tiga kali," jelas Emi.
Simon melihat ke arah kaki Emi yang terbalut kaos kaki. "Jika kau tetap berdiri di sana, kau akan mengenakan kaos kaki yang basah," ucap Simon.
__ADS_1
Emi melihat kakinya, "Oh iya lupa!" serunya berbahasa Indonesia dan segera menjauh dari Simon. "Lakukan juga dengan benar pada kaki kiri!"
Simon tersenyum samar melihat Emi yang berlari ke arah pintu masuk kamar mandi. Dan mulai membasuh kakinya satu persatu sebanyak tiga kali.
"Selesai, kau bisa keluar," ucap Emi.
"Hey Emi, berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk sholat?" tanya Simon seraya keluar dari kamar mandi.
"Katakan Asyhadu al laa ilaaha illallah wahdahu laa syariika lah, wa asyhadu anna muhammadan 'abduhu wa rasuluhu.." kata Emi.
"Apa?" Simon mengerutkan keningnya, dia berpikir seperti pernah mendengar kalimat yang diucapkan Emi, meskipun terlalu cepat.
"Kau tidak menghafalnya?" tanya Emi dengan wajah bingung. Serius nggak sih dia masuk islamnya?
"Ok, aku akan menghafalnya nanti. Aku pikir cukup untuk hari ini. Aku harus segera bersiap untuk pergi. Lanjutkan memasakmu," ucap Simon seraya pergi ke kamarnya.
"Hoi, Tuan Simon, kau belum berdoa setelah wudhu! Dan kau harus sholat!" seru Emi, namun Simon telah menghilang di balik pintu kamarnya.
Eh! Mangkok pencuci berasnya. Emi kembali lagi ke kamar mandi karena teringat dengan mangkok pencuci beras.
Beberapa menit kemudian, Simon keluar dari kamarnya dengan penampilan kasual.
"Sebentar lagi ada seseorang yang akan meneleponmu. Dia akan menemanimu melakukan tour ke beberapa tempat hingga pukul 12 siang," jelas Simon kepada Emi yang tengah memasak di dapur.
"Ok,"
"Dan ini," Simon memberikan sebuah kartu berwarna hitam kepada Emi. "Jika kau ingin membeli sesuatu, kau bisa menggunakannya."
"Tidak apa-apa, aku hanya akan berfoto saja." Tolak Emi seraya menunjukkan gawainya.
"Kalau begitu belilah sebuah kamera dengan ini,"
Emi mengerutkan keningnya, memperhatikan gawainya. Apakah milikku ini terlihat menyedihkan?
__ADS_1
Simon meletakkan kartu kredit miliknya di atas meja makan. "Aku tidak ingin dianggap sebagai bos yang buruk. Terserah kau ingin memakainya atau tidak."
"Ok," ucap Emi datar.
"Sampai bertemu nanti siang. Kita akan pergi ke Tainan mengunjungi kakek." kata Simon pada akhirnya, dan menghilang di balik pintu.
"Ok...," balas Emi murung, karena pintu sudah keburu ditutup sebelum dia sempat menjawab.
Gadis itu kembali ceria, karena mengingat dia akan pergi jalan jalan.
Sesuai dengan perkataan Simon, seorang wanita yang fasih berbahasa Indonesia datang menjemput Emi. Wanita itu memperkenalkan namanya sebagai Bai.
Bai membawa Emi ke Taipei 101. Gedung tertinggi pertama di dunia yang terdiri dari 101 lantai. Bagian bawah gedung adalah tempat belanja berkelas dunia yang menjual produk-produk mewah, fesyen terkini.
Bai langsung membawa Emi ke lantai 89 gedung Taipe 101, di mana observatory ada di di lantai itu. Tentu saja Emi tidak melewatkannya untuk berfoto foto, menfoto panorama yang menakjubkan dari kota Taipei.
Setelah puas di lantai 89, Bai membawa Emi berkeliling dibagian bawah gedung.
"Kita bisa berkeliling melihat lihat di sini menunggu pukul 12, mungkin kau ingin membeli tas atau sepatu," ucap Bai.
"Oh itu, maaf, Kak apakah kita bisa keliling keliling saja melihat lihat kota Taipe? Naik bus bertingkat?" usul Emi. Dia sama sekali tidak berminat untuk masuk ke salah satu outlet merek mewah itu.
"Kau ingin mencoba naik bus?" tanya Bai.
"Ya, ya. Bus yang atapnya terbuka itu," jawab Emi bersemangat
Bai tersenyum menjawab, "Baik,"
"Ya, ya ayo," ucap Emi tersenyum senang mengikuti Bai.
Namun senyumnya tak berlangsung lama, karena mendapat pesan masuk dari Simon yang mengabarkan syutingnya selesai lebih cepat. Artinya mereka akan pergi ke Tainan lebih cepat.
Batal sudah rencana naik bus dengan atap terbuka.
__ADS_1