
Setelah puas bercerita tidak jelas karena mabuk, akhirnya Ruiqi tertidur lelap di depan Simon.
Simon menghela napas, dengan hati-hati dia memindahkan Ruiqi ke kamarnya, dan membaringkannya di atas tempat tidur.
Sebelum memutuskan untuk pergi, Simon memperhatikan Ruiqi yang tertidur lelap di balik selimut di atas tempat tidurnya. Wanita yang mampu berciuman dan tidur dengannya tanpa perasaan.
"Aku tidak tahu apa hebatnya pria bernama Luo Hong Yi, sampai kau begitu menginginkannya," gumam Simon masih tak mengerti, seraya melirik jam tangannya yang menunjukkan pukul 2 dini hari. Dia harus segera kembali pulang.
Simon menatap botol minuman keras yang tadi diminum Ruiqi. Seharusnya aku tidak memberikan beberapa mirasku kepadanya, batin Simon.
Tapi juga terlalu sayang untuk dibuang begitu saja.
Padahal dia bisa minum miras tanpa sepengetahuan Emi, tapi entah mengapa dia kehilangan mood untuk meminum miras. Jadinya dia mendonasikan koleksi mirasnya kepada Chu Ruiqi, Wu zhang Wei, dan Kent Chen.
Dan dia juga baru saja menolak godaan Ruiqi untuk melakukan kegiatan manusia berkembang biak di sofa. Hubungan benefitnya dengan Ruiqi berakhir sejak wanita itu menjalin hubungan dengan Luo Hong Yi, seorang konglomerat, salah satu pewaris sebuah perusahaan petrokimia.
Simon menyisir rambutnya dengan jemarinya secara kasar. Ada apa denganku? Apakah ini efek dari kejantananku yang dipotong? Simon melirik horor miliknya.
Dengan tenang Simon meninggalkan apartemen Ruiqi, dan kembali pulang.
Sesampainya di rumahnya, dia dikejutkan oleh penampakan Emi yang duduk tertidur di sofa ruang tengah dengan tv yang menyala.
Dalam semalam dia dihadapkan oleh dua wanita yang tertidur. Dia mensyukuri dirinya sendiri karena terlahir bukan sebagai binatang buas dan chabul.
"Apa asyiknya melihat acara tv yang kau tidak mengerti apa yang mereka katakan," gumam Simon seraya mematikan tv nya.
"Kenapa kau mematikan tv nya?" tanya Emi yang tiba-tiba bangun karena tidak mendengar suara tv.
__ADS_1
"Kau tertidur ketika menonton tv?"
"Tidak, aku menunggumu pulang," kata Emi seraya berdiri, dan meluruskan kedua tangannya ke atas. "Selamat malam," katanya begitu saja sembari berjalan menuju kamarnya. Dia terlalu mengantuk untuk berbicara lebih lanjut dengan Simon.
lagi pula dia tidak akan bertanya suaminya itu darimana, karena dia tahu pria itu akan kembali mengingatkan statusnya sebagai bukan seorang istri.
"Lain kali kau tidak perlu menungguku pulang, kita tidak berada dalam hubungan yang seperti itu," Perkataan Simon menghentikan langkah Emi.
Benar kan? padahal aku tidak bertanya. dia sudah berkata begitu. Batin Emi kesal.
Emi tahu bahwa mereka tidak berada dalam hubungan yang harus saling mencemaskan. Tetapi sebagai dua orang yang saling mengenal dan tinggal serumah, tidakkah itu cukup untuk memiliki sikap peka pada lingkungan?
"Sebenarnya aku juga tidak ingin menunggumu pulang, aku tidak bisa tidur karena bayangan mobilmu menghantam truk dan hancur berkeping-keping terus terlintas di kepalaku. Kau mengemudikan mobil dengan gila, itu..," Emi menghentikan penjelasannya sampai disitu.
itu membuatku khawatir.
"Ok, bagus!" Emi bergegas masuk ke kamarnya.
Simon tersenyum samar menatap pintu kamar Emi, dia mengkhawatirkanku? tanyanya dalam hati. Dia hanya tidak ingin gadis itu terbebani untuk menunggunya hingga tertidur di luar.
Sementara di sisi lain, Emi meluapkan kekesalannya begitu menutup pintu kamarnya.
"Kita tidak berada dalam hubungan yang seperti itu," gumam Emi menirukan nada bicara Simon.
Mengapa juga aku mengkhawatirkannya? Dia hanyalah seseorang diantara 8 miliar total umat manusia di bumi. Setiap hari ada yang kecelakaan, mati, sakit. Batin Emi kesal.
Emi segera menjatuhkan tubuhnya ke atas tempat tidur, tetapi dia tetap tidak bisa tidur karena menahan kesal yang tak menentu.
__ADS_1
Meskipun tidak bisa tidur hingga entah pukul berapa, Emi tetap bangun pagi seperti biasa menjalankan sholat subuh.
Diliriknya gawai yang tergelak di atas meja sebelah tempat tidur, begitu dia selesai sholat.
Haruskah aku membangunkannya untuk sholat subuh? tanyanya dalam hati.
Ah masa bodo! diantara 8 miliar umat manusia ada banyak umat muslim yang tidak sholat subuh.
Meskipun memutuskan untuk tidak peduli dengan Simon, Emi bolak balik menatap pintu kamar Simon selama memasak di dapur. Menunggu pintu itu terbuka.
Karena Simon tak kunjung keluar dari kamarnya, Emi memutuskan untuk pergi membangun pria itu.
Dia yakin pintu kamar Simon terkunci hingga tanpa ragu dia mendorongnya, dan pintu itu langsung terbuka begitu saja.
"Maaf!" serunya panik karena tiba-tiba membuka pintu kamar orang.
Kepanikannya menghilang begitu mendapati kamar itu kosong. "Eh dia tidak ada?" gumamnya sembari menutup kembali pintu kamar Simon.
Mungkin dia pergi berolahraga keluar. Sudahlah bukan urusanku! Batin Emi mengingatkan dirinya.
Emi melirik gawainya, sudah tiga hari dia berada di negara asing. Dia juga sudah meyakinkan kedua orang tuanya bahwa dia tinggal dengan nyaman dan menyenangkan di rumah suaminya.
Menyenangkan? Benar harus memanfaatkan Keberadaanku di sini sebagai liburan yang menyenangkan. Mendokumentasikan liburan.
Gadis itu berusaha untuk berpikir positif, sembari menyusun sandwich buatannya ke dalam kotak untuk bekalnya pergi jalan jalan dengan Bai.
Dia tidak memiliki jadwal tour dengan Bai karena seharusnya hari ini dia masih berada di Tainan. Tetapi karena pagi ini dia sudah di Taipei, sayang jika hanya berada di rumah saja.
__ADS_1
Untungnya Bai berbaik hati bersedia menemaninya pergi tour pagi ini.