
Tidak ada yang berubah dengan kehidupan Emi setelah resmi menikah. Dia tetap pergi kuliah seperti biasa pagi itu. Bahkan pria yang baru saja menikahinya, hanya mengirim sebuah pesan.
[Hubungi aku jika kau telah memiliki paspor dan visa. Sisa uangmu akan kuberikan setelah datang wawancara.]
[Ok]
Emi tersenyum kecut mengingat kembali percakapan singkat dengan Simon di gawainya.
Dia melarangku untuk menghubunginya? Keluh Emi dalam hati. Dia pikir akan mendapat teman baru untuk berbagi cerita. Meskipun bukan sebagai suami, tapi setidaknya sebagai teman.
Realitanya dia bahkan dilarang untuk menghubungi pria itu. Berpikir seperti itu membuatnya semakin lesuh.
Emi menepuk nepuk kedua pipinya, sadarlah Emi kau bukan Cinderella.
Gadis itu pun lanjut berjalan dengan lesu menuju gedung kuliahnya.
Langkah kaki Emi terhenti saat melihat sosok pak Ilman yang baru turun dari mobilnya.
Haruskah dia meminta maaf sekali lagi?
Dosen itu bisa menjadi ancaman terhadap rencananya yang ingin cepat tamat dengan nilai yang memuaskan.
Tak menyerah, Emi berjalan mengikuti Ilman, "Pak, saya kemarin sudah mengumpulkan kuis, teman yang lain sudah mendapatkan nilai di akun lms." ucap Emi setelah dapat memposisikan dirinya berjalan di sebelah pak Ilman.
Ilman menghentikan langkahnya tiba-tiba, dan menoleh ke arah Emi, "lalu?"
"Bapak belum menilai pekerjaan saya," komentar Emi dengan nada memelas.
Raut wajah memelas minta dikasihani Emi, sayangnya tidak mempengaruhi Ilman untuk tetap setia dengan kontrak perkuliahan yang telah disepakati bersama.
"Tidak ada kuis susulan, berusahalah sebaik mungkin di ujian semester besok," katanya tanpa jeda, dan langsung melangkah pergi meninggalkan Emi.
Emi menggaruk kepalanya frustrasi. Artinya kuis akan bernilai nol?
5 poin cukup berharga, mampu untuk mengubah B menjadi B-. Emi menghela napas, berusaha untuk mencoba Ikhlas.
Dengan lesu dia berjalan masuk ke gedung kuliahnya.
Hampir semua mata melihat ke arah Emi saat dirinya masuk ke kelas. Tatapan itu terkesan sinis dan dingin.
__ADS_1
Tak ingin ambil pusing, Emi berjalan santai menuju salah satu bangku kosong di baris kedua. Para mahasiswa yang ada di dekat sana, dengan teratur meninggalkan bangku mereka mencari tempat duduk lain. Sangat jelas mereka menjauhi Emi. Mereka menatapnya seperti melihat kotoran yang harus dihindari.
Bahkan Carolina dan keduanya temannya juga terang terangan memusuhinya. Bukan kah seharusnya dia yang marah kepada mereka?
Sebenarnya dia sedikit penasaran dengan apa yang terjadi. Ada apa dengan tatapan sinis itu?
Tetapi dia tidak tahu harus bertanya kepada siapa.
Tapi, ujian pagi itu lebih penting. Diabaikannya rasa penasaran itu. Emi fokus dengan lembar jawabannya saat ujian telah dimulai.
Kembali fokus dengan tujuannya, kuliah dan tamat tepat waktu.
Gawainya berbunyi tepat saat ujian telah berakhir. Emi memeriksa gawainya setelah mengumpulkan lembar jawabannya.
Hanna?
[Ayo bertemu sekarang di depan gedung PKSI]
Karena Hanna adalah pelanggan tetapnya, mau tidak mau Emi mengikuti permintaan Hanna untuk menjaga hubungan baik.
Tidak memerlukan waktu lama berjalan kaki menuju gedung PKSI dari gedung fakultasnya.
"Emi, aku bisa membantumu jika kau membutuhkan uang. Tolong berhentilah melakukan itu." Nada suara Hanna terdengar tulus.
Emi mengerutkan keningnya, "apa maksudmu?"
"Jangan berpura-pura tidak tahu ketika orang- orang sudah mengetahuinya. Kau tahu apa yang aku maksud. Pekerjaan harammu." Hanna mengamati Emi.
"Pekerjaan Haram?"
Tak sabar menunggu Emi mengerti apa yang dia maksud, Hanna segera menunjukkan video berdurasi sepuluh detik. "Gadis yang ada di video ini kau kan?"
Emi melihat video itu, dan gadis di dalam video itu mengenakan kerudung bermotif yang sama dengan yang dipakainya sekarang.
Itu adalah video saat Emi tak sadarkan diri di club tempatnya berkerja. Empat orang pria sedang mengelilingi Emi, namun video itu selesai saat kerudung yang dikenakan akan dilepas.
Emi melihat video itu dengan kemarahan yang ingin meledak ledak. Meskipun di video itu mereka belum menyentuh tubuhnya yang berharga. Tetap saja, mungkin saja sudah?
"Bagaimana bisa?"
__ADS_1
Mereka merekamnya?
Hanna mengamati ekspresi Emi, "Apakah kau terkejut? Aku juga sangat terkejut." Dia menghela napas menunjukkan kekecewaannya. "Apakah kau sudah lama melayani pria hidung belang?"
Emi mendengar pertanyaan Hanna. dia ingin marah, tetapi tidak tahu caranya. dan kepada siapa. Kakinya gemetar. Apakah semua orang telah melihat video memalukan itu? Meskipun wajahhya tidak begitu jelas.
Tapi... mengapa hari ini dia menggunakan kerudung itu?
"Aku bukan wanita seperti itu," ucap Emi dengan nada gemetar.
Hanna melihat kilatan di Pergelangan tangan Emi. "Wow gelangmu sangat cantik."
Emi melangkah mundur saat Hanna mencoba lebih dekat melihat gelang emas yang dikenakannya. Itu adalah perhiasan yang diberikan Simon Liu menggantikan cincin nikah sekaligus mahar. Dia baru mengenakannya hari ini.
"Apakah itu yang kau dapatkan?" tanya Hanna.
"Ini hadiah ulang tahun dari ayahku," jawab Emi berbohong. Meskipun pikirannya benar-benar kalut, otaknya masih bisa berpikir untuk berbohong.
Hanna tersenyum simpati, "Sudahlah jangan berbohong," dia mengambil tangan Emi dan menggenggamnya. "Aku tidak peduli dengan pekerjaan gelapmu. Aku tetap menganggapmu teman. Sebagai temanmu, aku memintamu untuk berhenti."
Emi melepaskan tangan Hanna, "video itu adalah fitnah, mereka datang ke tempat kerjaku dan mencoba melecehkanku."
Hanna menutup mulut seolah ingin menutupi rasa terkejutnya. "Kau benar- benar bekerja di tempat seperti itu? itu adalah club yang menyediakan layanan protitusi," terangnya kemudian.
Pernyataan Hanna membuat Emi terkejut, dia tidak tahu akan hal itu. Dan dirinya lebih terkejut lagi serasa ingin menghilang ditelan bumi saat melihat pak Ilman tiba-tiba muncul dari balik tembok gedung.
"Pak Ilman?"
Mendengar Emi menyebut nama seorang dosen, Hanna memutar kepalanya melihat apa yang dilihat Emi. Dia menutup mulut dengan tangannya sekali lagi.
Ilman berlalu begitu saja meninggalkan kedua gadis itu.
Emi menatap horor kepergian pak Ilman. apakah dia mendengarnya? bertambah lagi satu orang yang menganggapnya wanita yang menjajakan diri kepada pria hidung belang.
Hanna mengambil langkah berdiri di sebelah Emi. Mereka sama - sama menatap punggung pak Ilman yang terus menjauh. "Jangan khawatir." Hanna menggenggam tangan Emi, "semua akan baik-baik saja, aku berada di pihakmu," katanya meyakinkan Emi.
Emi melepaskan tangan Hanna, "terima kasih," katanya dengan dingin dan pergi meninggalkan Emi.
Saat ini dia benar-benar kehilangan keberanian untuk tetap terlihat di kampus.
__ADS_1
Akhirnya Emi tahu apa yang membuat teman sekalasnya menatapnya dingin. Meskipun rumor tentang dirinya tidak benar. Tetap saja itu membuatnya malu yang tiada tara.