
Setelah 30 menit berlalu, hingga Emi dan Simon belajar membaca Iqra 1 di layar komputer milik Simon. Mereka bahkan sudah mengunduh 6 jilid Iqro dari internet.
"Ok selesai. Kita akhiri sampai disini," ucap Emi.
"Mengapa?"
"Sudah 30 menit, kuberitahu kepadamu bahwa waktu belajar efektif itu adalah 30 menit."
Dahi Simon berkerut mendengar alasan yang dibuat Emi. "Bagaimana bisa begitu?"
"Ingat, aku adalah seorang pelajar. Jadi aku tahu berapa lama waktu untuk belajar," kata Emi dengan penuh keyakinan, dan menularkan keyakinannya itu kepada Simon.
Salah satu ujung bibir Simon sedikit naik, "Ya, kau adalah seorang pelajar. Jika kau mengatakan demikian, maka itu adalah benar." tawa Simon.
"Tentu saja," ucap Emi dengan bangga. "Lalu? Apakah aku sudah bisa pergi?" tanya Emi. Dia benar-benar ingin mendapatkan banyak waktu untuk liburan berkeliling.
Simon mematikan komputernya, dia mungkin akan melanjutkan belajar sendiri nanti karena dia merasa tertarik untuk bisa membaca Quran.
"Kau tidak akan pergi kemana-mana jika aku ada di rumah," tegas Simon.
Emi berdiri dari kursinya dan berdiri menjauh dari Simon. "Kenapa? aku sudah melakukan pekerjaan rumah," keluh Emi.
Simon menatap raut wajah keberatan Emi. Dia juga tidak tahu mengapa dia melarang gadis itu untuk pergi. Biasanya dia akan menghabiskan hari liburnya dengan bekerja di kantornya. Tetapi Wu zhang Wei sudah melakukan pekerjaannya dengan baik.
"Aku lapar," ucap Simon tiba-tiba. Sebuah alasan random yang tiba tiba terlintas dipikirannya untuk menahan Emi.
"Ok, aku akan segera memasak!" seru Emi dan bergegas pergi ke dapur.
Selepas kepergian Emi, Simon hanya duduk memutar kursinya ke kanan dan ke kiri. "Ada apa denganku?" gumamnya bingung mengapa dia ingin Emi tetap ada dalam pandangannya. Aku tidak mungkin menyukainya kan? tawanya tidak terima.
__ADS_1
Ini bukan rasa suka, yang kurasakan hanya rasa penasaran, Sisi dirinya yang lain mencoba memberikan alasan yang lebih bisa diterima.
Kini Simon yakin alasan mengapa dirinya terus memikirkan Emi adalah karena sebuah rasa penasaran kepada gadis itu. Gadis asing yang berbeda dengannya. Perbedaan selalu depat memancing rasa ingin tahu.
Karena rasa penasaran itu, Simon pun memutuskan untuk menyusul Emi ke dapur. Dia ingin melihat apa yang akan di masak oleh gadis itu, karena dia benar benar penasaran akan hal itu.
"Apa yang akan kau masak?" tanya Simon kepada Emi, begitu dia tiba di dapur.
Emi yang tengah mencuci sayuran dikejutkan oleh suara Simon. Dia menoleh kebelakang. "Ah itu.." Emi menjeda kalimatnya karena dia juga tidak tahu apa yang akan dia masak. Dia sama sekali tidak mengerti bahan bahan yang ada di kulkas Simon.
Simon melihat apa saja yang dikeluarkan Emi dari dalam kulkas. "Apa kau benar benar tidak bisa memasak?" tebak Simon mentertawakan Emi.
Pantas saja, makanan yang selama ini kumakan terasa aneh. Ternyata memang kau memberikanku makanan yang tak layak dimakan. Batin Simon sadar akan sesuatu.
"Bukan begitu, jika di Indonesia aku sangat pandai dengan pekerjaan ini," elak Emi. Dia mencoba mempertahankan harga dirinya sebagai seorang wanita yang pandai dalam urusan masak memasak.
"Ya, sayangnya kita tidak sedang berada di Indonesia," ucap Simon seraya berjalan menuju lemari dapurnya, dan mengambil sebuah apron.
"Ya, dan kau harus memperhatikannya dengan baik," ucap Simon mulai menyiapkan bahan memasaknya.
"Kau bisa memasak?" ledek Emi.
Simon menyunggingkan senyumnya, "Kau akan segera tahu." Dia mulai menggunakan pisaunya untuk mencacah bawang, paprika, wortel, jamur.
Simon akan memasak tumis daging sapi. Dia memainkan alat memasak layaknya seorang chef profesional.
Emi melihat aksi memasak Simon dari kursi meja makan dengan takjub, serasa melihat acara tv.
Setelah sudah selesai, Simon menyajikan masakannya ke atas sebuah piring, dan menatanya dengan cantik. Sebuah hidangan hotel bintang 5.
__ADS_1
"Wow, kelihatannya enak!" seru Emi menatap hidangan yang disajikan Simon di hadapannya, tetapi sejurus kemudian dia bingung. "Bukannya itu kau yang lapar? Mengapa hanya ada satu piring?" Emi menoleh menatap Simon yang berdiri di sebelahnya.
Senyum di wajah Simon seketika sirna, "Aku hanya ingin menunjukkannya saja kepadamu, bukan memintamu untuk memakannya," ucap Simon. Dia mengambil kembali hidangan itu dan membawanya ke sisi meja yang lain, dan duduk di depannya.
Tak peduli Emi menatap intens ke arahnya, Simon tersenyum senang. Dia siap menyantap masakannya sendiri dengan tenang. Benar benar akan makan sendiri dengan tenang. Namun dalam hatinya, dia tidak tenang. Lagi, dia baru saja bertindak di luar nalar. Apakah aku baru saja mencoba membuatnya terkesan? Untuk apa?
Di sisi lain, ada Emi yang juga kesal.
Orang ini, bisa bisanya dia akan makan sendiri, aku kan mau. Kelihatannya enak. Batin Emi menitikkan air liur melihat Simon yang hendak menyantap hidangannya dengan tenang.
Simon meletakkan kembali sumpit yang belum digunakannya, "Aku sudah tidak lapar," ucapnya sembari beranjak berdiri dari kursinya, dan melihat Emi yang duduk di depannya, "Buang ini, dan bersihkan dapurku!" tunjuknya ke arah dapur yang sangat sangat berantakan, sebelum dia beranjak pergi mengambil kunci mobilnya.
Kedua ujung bibir Emi terangkat naik, menatap bingung Simon, Ada apa lagi dengan orang ini?
Apakah dia tidak tahu kalau buang buang makanan itu tidak boleh? Ck ck, pikir Emi menatap iba ke arah hidangan yang belum ternodai itu.
"Jangan coba coba pergi keluar sebelum membersihkan tiap ruangan rumahku, mengerti!" seru Simon sembari berjalan menuju pintu keluar.
Bukannya kesal, Emi justru senang mendengar titah Simon. Dia bergegas mengikuti Simon, "artinya kau mengijinkan untuk pergi, kan? Benar kan? Kau tidak akan tiba-tiba menghubungiku dan menyuruhku pulang, kan?" Emi mencecar Simon hingga di depan pintu.
Simon tersenyum melihat semangat Emi. "Benar, dan kau boleh pulang malam," katanya dan menghilang dibalik pintu.
Bagus! Ayo Emi cepat bereskan rumahnya dan pergi main! Batin Emi menyemangati dirinya begitu Simon pergi.
Namun senyum semangat Emi sirna dari wajahnya begitu mendapati ruangan kerja dan kamar pribadi Simon yang sangat berantakan seperti habis digondol maling.
"Apa dia sengaja menambah pekerjaan rumahku karena telah memberiku uang saku ya?" gumam Emi. Dia sudah memperkirakan apa yang akan terjadi setelah menerima kebaikan seseorang. Tidak ada yang gratis di dunia ini.
Tidak kehilangan semangat, Emi mulai membersihkan rumah Simon. "Apa aku pergi ke Georgia saja?" gumamnya.
__ADS_1
Terlintas di benaknya untuk menghabis sisa waktu libur semesternya di Georgia. Setelah mengkalkulasikan biaya perjalanan di negara itu, Emi menyimpulkan uang saku yang dimilikinya lebih dari cukup.