Sebatas Nikah Di KUA

Sebatas Nikah Di KUA
Rumor Has It


__ADS_3

Operasi kecil itu berjalan dengan lancar, Simon yang masih dipengaruhi oleh obat bius hanya bisa membiarkan Kent yang tak henti hentinya menyalahkan dirinya sendiri yang tidak bisa menjaga aktornya dengan baik.


Meskipun Emi tidak mengerti apa yang dikatakan oleh Kent, dia paham pria itu sedang kesal dan mungkin akan menuntutnya.


Eh sebentar..., menuntutku? Pikir Emi mulai sedikit panik.


"Sekarang, apa yang akan kau katakan?!" Kent bertanya dalam bahasa Inggris kepada Emi.


"Maaf," lirih Emi. Saat berpikir kilas balik, bukankah dirinya sudah memberi peringatan? Sebenarnya siapa yang salah?


"Tuan Chen, jangan membentak calon istriku," ucap Simon berbahasa Inggris, dia telah sepenuhnya sadar dari pengaruh obat bius.


Emi mengangkat kepalanya dan melihat ke arah Simon. Pria itu tersenyum kepadanya. Membuat bulu kuduk Emi berdiri. Mengapa wajah senyumnya itu lebih menyeramkan dari wajah marah? batin Emi tidak tenang.


"Kau tahu ini bukan jadwal libur, kau malah nekat datang ke sini, dan apa yang terjadi? Kita harus menunda jadwal syuting minggu depan," protes Kent dalam bahasa Mandarin.


"Oh..."


Kent menghela napas melihat Simon yang begitu tenang. "Kita tidak bisa kembali sekarang dengan kondisimu yang seperti ini," katanya, dan menoleh ke arah Emi.


Simon juga ikut melihat ke arahnya. Emi yang menjadi pusat perhatian bingung harus berkata apa. "Apa?" lirihnya.


"Aku akan menemuimu lagi nanti, kau bisa pulang sekarang," kata Simon dengan tenang kepada Emi.

__ADS_1


"Baik, semoga lekas sembuh!" seru Emi dan lekas keluar dari ruangan itu.


Blam!


"Fiuh!!" Emi menghela napas lega setelah keluar dari ruangan itu, apa yang sedang mereka bicarakan? Apakah membicarakanku?pikirnya penasaran, namun tetap melanjutkan perjalanannya untuk segera pulang ke rumahnya.


Sementara itu, senyum Simon memudar bersamaan dengan kepergian Emi.


"Kau tidak apa-apa?" tanya Kent khawatir dengan Simon yang tiba-tiba memucat.


"Itu..,"


"Itu?"


Stress Kent tiba-tiba hilang melihat Simon yang terlihat sangat menderita seperti anak kecil yang kehilangan mainannya, "Ha.ha.ha, ya, aku turut prihatin," ucap Kent di sela sela tawanya.


***


Beberapa hari telah berlalu, sejak sunatan yang dilakukan Simon, Emi tidak pernah mendapatkan kabar lagi dari pria itu. Dia pergi kuliah seperti biasanya.


Satu sisi dia merasa bersalah, sisi lainnya dia merasa sudah melakukan hal yang benar.


Langkah kakinya terhenti begitu melihat Carolina. Dia berpikir harus bertanya kepada teman sekelasnya itu, apa yang terjadi waktu itu.

__ADS_1


"Emi, ada apa?" Tanpa rasa bersalah Carolina tersenyum melihat kedatangan Emi.


"Katakan apa yang terjadi di cafe?"


"Apa yang sedang kau bicarakan?" Carolina memasang wajah pura pura bingung yang kentara.


Emi berjalan mendekat, dia tidak peduli beberapa orang yang berada di sekitar meraka mulai melirik ke arah mereka. "Mengapa kau meninggalkanku? Kau seharusnya tidak meninggalkanku bersama.." Emi menghentikan perkataannya.


Bersama teman teman priamu.


Dia tidak bisa melanjutkan perkataannya, jika orang orang mendengarnya akan salah paham.


Carolina tersenyum sinis, "apakah kau pura pura tidak tahu..." Dia berjalan mendekatkan kepalanya ke telinga Emi, "kau bekerja di tempat seperti apa? Bagaimana rasanya melayani empat pria sekaligus? Kau marah karena mereka tidak membayarmu dengan pantas?" bisik Carolina.


Wajah Emi memerah menahan marah mendengarnya. Dia ingin mendorong Carolina saat itu juga. Tapi tubuhnya tiba-tiba membeku.


"Jangan khawatir aku tidak akan memberitahu siapapun tentang pekerjaan," ucap Carolina sembari berjalan pergi meninggalkan Emi yang mematung seorang diri.


Ucapan Carolina masih terus terngiang ngiang di telinganya. Meskipun dia tidak benar-benar wanita yang menjajakan diri, dia merasa seperti wanita yang begitu. Dan merasa kotor akan dirinya.


Usai perkuliahan, Emi tidak langsung pulang ke rumahnya. Dia masih ingin duduk di salah satu taman kampus. Melihat ke sekitar, beberapa mahasiswa dengan ceria duduk berkumpul menikmati pemandangan sore hari setelah asar.


Seharusnya dirinya tidak berada di sana, tidak kuliah di sana. Itu bukan tempatnya.

__ADS_1


***


__ADS_2