
"Dia belum pulang?" gumam Emi begitu mendapati lampu belum dihidupkan. Gadis itu bernapas lega.
Biasanya, ayahnya akan mengamuk jika dirinya pulang malam. Tapi kini dirinya tidak perlu khawatir karena tidak berada di rumah pak Omar. Tidak ada seseorang di rumah Simon yang akan memarahinya.
Dengan perasaan senang Emi berjalan menuju kamarnya tanpa menghidupkan lampu. Dia harus banyak banyak mengisi energinya di tempat tidur untuk perjalanan besok.
Cklak!
Suara pintu rumah yang terbuka dan hampir seluruh ruang menjadi terang benderang menghentikan langkah Emi.
"Mengapa kau tidak menghidupkan lampu?" tanya Simon yang baru pulang, dan memergoki Emi berdiri di depannya sedang berusaha menggapai kamar di tengah kegelapan.
"Karena untuk hemat energi. Ok selamat malam," Emi segera melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti.
Simon mengatup giginya, menahan sesuatu yang membuatnya kesal. Dia kesal mengapa dirinya menjadi kesal melihat Emi yang begitu akrab dengan pria tetangga.
"Kau tidak ingin bertanya apa yang kulakukan bersama pacarku hingga malam?" pertanyaan Simon kembali menghentikan langkah kaki Emi.
Dia ingin menghindar dari Simon, karena beberapa hari tinggal bersama Simon sangat berbahaya untuk kesehatan mentalnya. Tetapi pria itu seperti tidak bisa diajak kompromi. Jika ingin hubungan mereka hanya sebatas surat nikah, seharusnya Simon tidak membuatnya bingung.
"Aku tidak ingin tahu. Jangan khawatir, aku akan segera pergi. Satu minggu lagi," jelas Emi dengan tenang. Dia berusaha untuk tidak melewati batas mencampuri kehidupan Simon.
Emi mengingatkan dirinya jika tugasnya hanyalah mengingatkan Simon tentang hidup sebagai seorang muslim.
Melihat ketenangan Emi, senyum penuh arti terukir di wajah Simon. "Menarik," desisnya sembari berjalan mendekati Emi.
"Apa?" lirih Emi bingung.
"Hey Emi, apa kau benar-benar hanyalah seorang gadis polos?" tanya Simon dengan nada menyindir karena mendapati Emi yang sedang mencoba menarik perhatian BoYu, tetangganya yang dia sendiri tidak kenal. Di matanya, istrinya sedang menggoda pria lain.
Emi menatap bingung Simon, mencoba menafsirkan apa maksud dari pertanyaan pria itu.
Emi tidak tahu apa yang dipikirkan Simon. Namun melihat pria itu menatapnya begitu lekat, insting Emi memintanya untuk segera kabur dari sana.
Namun, langkah Emi kalah panjang dari Simon. Gadis itu tersentak dan membentur tubuh Simon, saat pria itu menarik lengannya.
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan?!" Pekik Emi mencoba untuk melepaskan diri dari dekapan Simon.
"Akhh!!" Emi kembali berteriak saat dirinya tiba tiba terangkat dan mendarat di pundak Simon. "Tuan Simon! Apa yang kau lakukan? turunkan aku!"
Simon tidak memperdulikan Emi yang terus merontak. Dia membawa tubuh kecil Emi ke kamarnya, dan melatakkan gadis itu di atas tempat tidurnya.
Jantung Emi berdegup kencang, Simon yang sepertinya sedang kesurupan berada di atasnya, menatap lekat dirinya. Kedua lengan Simon mengurungnya.
Emi menelan ludah, "Tuan Simon, apa kau mabuk?" tanyanya dengan hati hati.
"Aku tidak minum." Simon tersenyum, dan mendaratkan bibirnya di atas bibir Emi.
Bruk!!
"Akhh!!" Pekik Simon memegang miliknya yang sangat berharga, dan mengusap jidatnya yang mendenyut setelah terkena benturan jidat Emi.
Emi segera duduk setelah terbebas dari kurungan Simon, dan ikut mengusap jidatnya yang juga agak sedikit sakit. Dia sedikit merasa bersalah melihat Simon yang terlihat kesakitan.
Aku hanya menendangnya dengan pelan, apa begitu sakit? Pikir Emi.
"Apa yang kau lakukan?!"
"Aku hanya ingin menciummu!"
"Aku sudah menduganya. Itu yang akan kau dapatkan jika berbuat sembarangan," ucap Emi membela diri.
Berbuat sembarangan, katanya? Simon duduk di pinggir tempat tidurnya, menenangkan dirinya dirundung ngilu. "Hey Emi Talenta, apa kau lupa jika kita sudah menikah? Aku memiliki kebebasan menyentuhmu semauku,"
Ah benar orang ini adalah suamiku.
"Ma'af," kata Emi sembari menundukkan kepalanya.
"Apakah begitu sakit? Apakah kah kau ingin dikompres dengan air dingin?" tanya Emi sembari menatap ngeri ke arah benda pusaka milik Simon. Apakah benda itu hancur?
"Apa yang kau lihat?" Simon menutup wajah Emi dengan bantal dan menjatuhkan gadis itu kembali ke tempat tidur. Melihat Emi yang begitu fokus menatap selangkangannya, membuatnya jadi berpikiran cabul.
__ADS_1
Emi menyingkirkan bantal itu dari wajahnya, dan segera kembali duduk. Orang ini gila ya?
"Kau tidur di sini malam ini. Aku ingin memastikan sesuatu!" tegas Simon.
"Apa yang ingin kau pastikan?" tanya Emi bernada cemas.
"Pffft..., apa kau takut? Hanya tidur, aku tidak akan memperkosamu," kata Simon dengan tenang.
Dia sangat yakin akan tidur dengan tenang di sebelah Emi, karena tidak memiliki perasaan apa apa kepada gadis itu. Dan malam ini dia akan memastikan hal itu.
"Aku tidak takut," tegas Emi. "Tapi aku harus ke kamarku dulu untuk menggosok gigi sebelum tidur."
"Kau bisa menggunakan kamar mandi di kamarku. Ada sikat gigi baru disana."
"Tapi aku harus mencuci muka juga sebelum tidur,"
"Di kamar mandiku ada sabun."
"... Aku harus mengganti baju."
"kau bisa menggunakan bajuku."
"Mengapa aku harus menggunakan baju milikmu? kamarku hanya sepuluh langkah dari sini!"
"Entahlah, apa mungkin karena aku yakin kau tidak akan kembali ke kamarku setelah keluar dari sini." Senyum mencemooh terukir di wajah Simon.
Emi berkedip menatap Simon, "Bagaimana kau bisa tahu?"
"Aku bisa membaca apa yang otak kecilmu pikirkan," jawab Simon yang jauh lebih tua dari Emi.
Meski tidak percaya dengan gurauan Simon, Emi memegang kepalanya, dan segera pergi ke kamar mandi. Takut pria itu akan membaca pikirannya.
Simon terbengong menatap kepergian Emi, apa dia benar benar percaya aku bisa membaca pikirannya?
***
__ADS_1