Sebatas Nikah Di KUA

Sebatas Nikah Di KUA
The Kid


__ADS_3

Melihat wajah Bai yang tiba-tiba berubah kecut, Emi menjadi ikut khawatir. Sesuatu telah terjadi.


"Ada apa?" tanya Emi.


Bai melihat Emi khawatir. "Sepertinya kita harus kembali," ucapnya.


"Apakah tadi itu Pak Simon ya? Dia bilang apa?" tanya Emi penasaran.


Bai mengangguk, mengiyakan pertanyaan Bai. "Emi, kau pergi tanpa ijin darinya ya?"


"Iya,"


"Sepertinya dia sangat marah."


Mendengar pernyataan Bai, nyali Emi yang tadi pagi telah mendeklarasikan untuk tidak peduli kini menciut.


"Kalau begitu, aku harus kembali." Emi segera memutar badannya dan berjalan cepat menuju pakiran mobil mereka. Dia merasa bersalah karena sepertinya baru saja berbuat dosa kepada suami.


Tetapi saat hendak membuka pintu mobil, tangannya berhenti. Mengapa dia harus mengkhawatirkan kemarahan suami kepada istri yang pergi tanpa ijin? Pikirnya.


Mengapa hanya dia yang selalu merasa terbebani dengan perasaan hubungan suami istri?


Tidak terima, Emi segera mengambil gawainya. Dia sudah memutuskan untuk membuat kenangan liburan yang menyenangkan di Taiwan sebelum kembali menghadapi masa suram di kampusnya.


"Emi, ada apa? Kita harus kembali," Bai mengingatkan Emi yang tak jadi masuk ke dalam mobil.


"Aku baru ingat, aku kan bisa meneleponnya untuk minta ijin," ucap Emi kepada Bai sembari menunggu Simon menjawab panggilannya.


"Hallo," Simon menjawab panggilannya.


"Ini aku, katakan kepadaku mengapa aku harus kembali ke apartemenmu sekarang? Kita tidak akan kembali pergi ke Tainan, kan?" tanya Emi. "Aku sudah membereskan dapur, membersihkan lantai, dan mencuci. Jika ada yang belum selesai, aku akan membereskannya nanti," tutur Emi mengungkapkan hal hal yang mendukungnya untuk bisa pergi jalan jalan keluar bersama Bai meskipun hari ini tidak ada jadwal jalan jalan.


"Kau bisa pergi dengan Bai sesuai jadwal besok."


"Jika aku tidak kembali, apa yang akan kau lakukan?" tanya Emi.


"Tidak ada, hanya saja kau masih harus memberiku pelajaran. Bukankah semalam kau mengatakan akan melakukan kewajibanmu sebagai seorang istri?"


Emi terdiam sejenak memikirkan kalimat Simon. Pria itu selalu membuatnya bingung, sebentar memintanya untuk tidak menganggap serius hubungan mereka yang hanya sebatas surat nikah itu. Sebentar memintanya untuk menganggap serius hubungan suami istri diantara mereka.


"Baiklah, aku mengerti," lirih Emi dan menutup panggilan teleponnya.

__ADS_1


Dengan lesuh dia masuk ke dalam mobil.


Sesuai dengan arahan Simon. Bai mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tidak lebih dari 30km/jam. Sesekali dia melirik Emi yang diam saja, tak bersemangat menatap keluar jendela.


Bai tidak tahu pasti siapa Emi sebenarnya. Bahkan dia tidak tahu siapa pria yang menghubunginya dan memintanya untuk menjadi seorang tour guide. Bai menguasai enam bahasa asing. Profesinya adalah pemandu wisata profesional. Dia telah terbiasa menemani tamu tamu penting.


Awalnya dia mengira akan menemani seorang simpanan pria kaya yang sedang melakukan perjalanan bisnis di Taiwan. Tetapi setelah bertemu dengan Emi. Gadis itu jauh dari sosok seorang sugar baby.


"Emi, apakah aku boleh bertanya sesuatu?" tanya Bai memecah kesunyian di dalam mobil yang akan membawa mereka menuju apartemen Simon.


Merasa Bai memanggil namanya, Emi yang sedang asyik menatap keluar jendela pintu mobil menoleh ke arah Bai. "Ya?"


"Apa hubunganmu yang sebenarnya dengan Tuan Simon?" tanya Bai. Jika Emi hanyalah asisten rumah tangga biasa, maka tidak perlu memakai jasanya yang terbilang cukup mahal.


Emi terdiam sejenak, dia juga sedang memikirkan hal itu. "Aku juga tidak tahu, ini aku sedang memikirkannya. Menurut kakak bagaimana?"


"Aku juga tidak tahu. Apakah tuan Simon sudah menikah?" tanya Bai sembari tetap fokus mengemudi dengan kecepatan kurang dari 30km/jam di jalan yang sepi dari kenderaan lain.


"Hmm, ya. Dia sudah menikah," jawab Emi.


"Kalau begitu, kau sebaiknya jangan memiliki hubungan dengan pria sepertinya," saran Bai kepada Emi.


Emi mendengarkan saran Bai dengan baik. "Menurut kakak begitu?"


Emi mengangguk membenarkan, "ya benar. Aku harap bisa lulus tahun depan."


"Jika kau mau bekerja di sini setelah lulus, aku mungkin bisa membantumu menemukan pekerjaan," tawar Bai.


Wajah Emi yang murung berangsur ceria mendengar penawaran Bai. "Aku harap bisa bekerja di sini setelah lulus nanti," ucapnya.


"Aku harap juga begitu," balas Bai dan memutar kemudinya berbelok memasuki gerbang apartemen tempat tinggal Simon. "Sampai jumpa lagi besok."


"Iya, terima kasih Kak. Sampai jumpa besok," ucap Emi sembari membuka pintu mobil dan keluar.


Mobil Bai berjalan meninggalkan Emi di depan pintu masuk apartemen, tanpa mengunggu gadis itu untuk masuk


Dengan tak bersemangat Emi masuk ke dalam gedung itu. Sepanjang perjalanan menuju unit Simon, Emi memikirkan saran Bai.


Bagaimana caranya agar tidak memiliki hubungan dengan pria yang sudah menikah denganku? Pikirnya bingung.


Itu mudah, kembali ke Indonesia. Sebuah jawaban terlintas di benaknya. Tetapi saat ini, dia sedang ingin menghabiskan libur semesternya dengan nyaman.

__ADS_1


BRUK!


Emi menabrak seorang anak kecil karena melamun saat keluar dari lift. Dia tidak melihat anak kecil yang berlari ke arahnya.


Emi segera jongkok melihat anak kecil yang terjatuh di depannya. "kau tidak apa apa?" tanyanya bernada khawatir, dan penuh penyesalan.


Anak kecil itu mengabaikan pertanyaan Emi. Tangisnya pecah membuat Emi semakin panik.


"Apakah sakit? Dimana?"


"Joe, sudah papa katakan jangan berlari!" suara seorang pria berbahasa Mandarin yang tiba-tiba datang membantu anak kecil itu untuk berdiri, semakin membuat Emi panik.


Emi berpikir pria asing itu sedang memarahinya. "Maaf, saya tidak sengaja menabrak putra Anda," aku Emi dengan perasaan bersalah.


Pria itu menoleh ke arah Emi, "Oh, tidak apa apa. Ini salah putraku yang berlari," ucapnya bernada ramah kepada Emi. "Joe, ayo minta maaf kepadanya!" pria itu kembali membentak putranya, dia menggunakan bahasa Inggris.


"Oh, tidak tidak. Tuan, saya yang harusnya meminta maaf," elak Emi.


"Maaf," ucap anak kecil itu dengan pipi bulatnya. Sejenak Emi terkesima dengan keimutan anak kecil itu.


"Oh, tidak apa apa,"


"Kalau begitu, kami permisi," ucap pria asing itu kepada Emi. "Ayo Joe!"


Tetapi anak kecil itu tetap berdiri, dia terlihat sama sekali tidak ingin ikut dengan pria asing itu. Dia malah mendekati Emi dan menggenggam erat tangan Emi.


"Jie jie, tolong aku," pintanya memelas.


Melihat anak kecil yang tiba-tiba meminta tolong kepadanya saat ada seseorang pria yang hendak membawanya, membuat Emi berpikir pria asing itu adalah penjahat yang hendak menculik anak kecil berbadan subur dan imut itu.


Dengan cepat Emi membawa anak kecil itu kedalam perlindungannya. "Siapa Anda?" tanya Emi dengan tegas.


Pria asing itu mengerutkan keningnya, "Aku? Aku adalah ayahnya."


Emi melirik anak kecil yang berlindung di sebelah. Anak kecil itu menggelengkan kepalanya. Emi semakin yakin jika pria asing itu adalah penculik.


"Joe jangan mengganggu kakak ini." ucapnya Pria asing dengan bahasa Mandarin sembari kembali berjalan menuju ke arah Emi dan bermaksud untuk membawa paksa putranya.


Saat pria itu hendak meraih lengan Joe, Emi dengan sigap mengambil tangan pria itu dan membantingnya.


"Ba ba!" Joe berteriak melihat ayahnya yang terkapar di lantai.

__ADS_1


"Papa?" gumam Emi bingung.


__ADS_2