Sebatas Nikah Di KUA

Sebatas Nikah Di KUA
bab 30


__ADS_3

"Kau akan menemui kedua orang tuaku, dan mereka tidak menyukaimu. Dan saudaraku yang lain, kau dapat mengabaikan mereka," ucap Simon memberi informasi yang mungkin berguna untuk Emi.


Mendengarnya, Emi yang tadinya tenang dan santai menjadi gelisah. "Lalu, apa yang harus aku lakukan? apakah aku harus melakukan sesuatu agar mereka menyukaiku?"


Ujung bibir Simon terangkat naik, "Kau tidak perlu melakukan hal yang tidak diperlukan. karena ayahku yang memintaku untuk menikahimu."


"Jadi dia tahu tentang kita berdua?" tebak Emi.


"Ya," Simon mengatup rapat mulutnya dan tersenyum. "Kau hanya perlu berpura-pura dengan kakekku. Satu hal yang kau harus ingat saat di depan kakek, simpan di pikiranmu bahwa Simon Liu mencintaimu. Dengan begitu aktingmu akan sempurna. Apa kau mengerti?"


Emi menggeleng cepat, "Tidak, aku tidak mengerti. Kau tidak mencintaiku, kan?"


"Hanya dengan kakek kau bisa menganggap begitu. Apapun yang akan kau lakukan, aku akan selalu ada dipihakmu. Jadi lakukan sesukamu. Mengerti?"


Emi mengangguk mencoba memahami ucapan Simon. artinya tidak ada hal yang perlu dikhawatirkan, kan? batinnya mengambil kesimpulan.


Simon masih belum menemukan jawaban mengapa kakeknya menyukai Emi, dan menginginkan pernikahannya dengan gadis itu. Tetapi apapun itu, bukan lah hal penting. Sisi baiknya, ayahnya membuat kesepakatan yang menguntungkan ayahnya. Dia membuat kesepakatan dengan ayahnya yang menguntungkannya.


Emi juga membuat kesepakatan dengan Simon yang menguntungkannya.


"Emi, satu lagi yang aku ingin katakan kepadamu. Aku tidak tahu apa yang akan kau lakukan kepadaku. Tetapi aku akan memegang tanganmu, dan mungkin akan memelukmu, apa kau tidak apa-apa dengan itu?" tanya Simon bernada serius menatap Emi yang berstatus sebagai istrinya.


Emi kembali melirik tangan kokoh Simon yang memegang setir mobil kuat. Dia juga berencana akan menggenggam tangan itu saat di rumah keluarga Simon. Tangan pria yang berstatus sebagai suaminya. Dia tahu bahwa tidak perlu menjaga batas dengan pria itu. Bersentuhan dan saling memandang sudah halal bagi mereka. Tetapi batas itu ada karena pernikahan yang hanya sebatas surat nikah.


Emi mengangguk, dan menatap Simon dengan gugup. "Ok," katanya. Hanya untuk kebutuhan akting.


Setelah mendengar kata 'Ok' yang keluar dari mulut Emi, Simon segera menarik Emi ke dalam pelukannya.


"Apakah kau kaku seperti ini, karena aku yang memelukmu, atau ini pertama kalinya kau berpelukan dengan seorang pria?" tanya Simon bernada santai. Sesantai dia memeluk Emi.


Berbeda dengannya yang telah melakukan adegen berpelukan di berbagai drama, dan berpelukan saat fans meeting, Emi terdiam kaku. napasnya seakan terhenti.

__ADS_1


Meskipun parfum yang digunakan Simon sangat lembut, namun terasa sesak bagi Emi.


Emi segera melepaskan dirinya dari pelukan Simon. "Ini karena aku berpelukan dengan seorang pria untuk yang pertama," jawabnya.


Simon kembali menarik Emi kedalam pelukannya, "Kalau begitu kita harus sering berpelukan, dan..." tawanya.


Setan chabul pergilah! batin Simon mengingatkan dirinya. Dia segera melepaskan Emi dari pelukannya dan kembali duduk dengan benar di kursinya.


Emi bernapas lega setelah Simon melepaskannya, "Jangan khawatir, saat di rumah kakek aku tidak akan berbuat kesalahan. Kau tahu, seseorang menjadi bisa di saat terjepit," ucap Emi.


"Sepertinya kau sudah siap untuk menemui keluargaku," ucap Simon sembari memutar setir mobil untuk keluar dari bahu jalan dan masuk ke lintasan jalan.


Mereka meneruskan perjalanan yang tidak jauh lagi ke rumah kakek Simon.


Rumah itu dikelilingi oleh pepohonan yang terawat dengan baik.


Tidak hanya kakek dan kedua orang tua Simon, Yumei dan Lizhu juga ada di sana. Kedua gadis itu penasaran dengan sosok wanita yang dinikahi oleh idola mereka.


"Kakak! Mengapa kau melakukan ini kepada kami? kau mematahkan hati kami," protes Yumei dan Lizhu menyambut Simon. "Kau baru boleh menikah setelah cukup tua dan cocok memerankan peran bapak bapak!" ketus Yumei.


Emi diam memperhatikan kedua gadis yang merengek di depan Simon dengan bahasa yang dia tidak mengerti.


Simon merangkul Emi, dan tersenyum melihat kedua adik sepupunya. "Bagaimana ini, aku akan segera menjadi seorang bapak," gurau Simon menggunakan bahasa Mandarin.


"Shén me?" Kedua gadis itu kaget.


"Jangan bercanda lagi, kakek sudah menunggu istrimu di ruangannya," ucap Yaling, ibu Simon. Wanita yang berusia 50 tahun namun masih terlihat seperti mama muda berusia 35 tahun itu pun berjalan menuju ruang makan.


Simon menggenggam tangan Emi, membawa gadis itu menemui kakek. "Ayo," ucapnya.


"Lakukanlah seperti yang kukatakan," bisik Simon ketika mereka sudah tiba di depan pintu ruangan kakek.

__ADS_1


"Kakek hanya ingin berbicara berdua saja dengannya." Tiba-tiba terdengar suara ayah Simon dari arah samping mereka. Ming Way sengaja menggunakan bahasa inggris agar Emi juga mengerti apa yang dia katakan.


Emi memegang erat tangan Simon, tak ingin pria itu meninggalkannya. Pemandangan itu tak luput dari tangkapan mata ayahnya Simon.


"Ada yang ingin ayah bicarakan denganmu," tegas pria paruh baya itu menatap pasangan bohongan di depannya.


Simon melepaskan tangan Emi yang menggenggam tangannya, "jangan khawatir," ucap Simon bernada rendah sembari membuka pintu ruangan yang sedari tadi nganggur.


Cup sebuah kecupan tiba-tiba mendarat di pipi Emi. Bersamaan dengan dirinya yang didorong masuk oleh Simon ke dalam ruangan kakek.


Simon segera menutup kembali pintunya, "Apa yang ingin ayah bicarakan?" tanyanya kepada Ming Way setelah Emi menghilang di balik pintu.


"hmm..." Ming Way berdehem dan berjalan meninggalkan Simon.


Berpikir ayahnya akan membicarakan hal penting, Simon mengikuti Ming Way.


"Lakukan perceraianmu secepatnya. Buatlah alasan yang sewajarnya," ucap Ming Way setelah mereka berada di ruangan yang dirasa aman.


Simon tersenyum dengan tenang, "Jangan khawatir ayah, aku akan menyingkirkan gadis itu jika aku bosan. Tapi mungkin akan sedikit lebih lama."


"Berhentilah bermain main! kau sudah cukup dewasa untuk menjadi penerusku, dan menghasilkan keturunan Liu. Ibumu sampai masuk rumah sakit gara gara mengetahui kau tidur dengan selebriti itu!" berang Ming Way.


bukannya takut dengan kemarahan ayahnya, Simon justru tertawa. "Itulah mengapa lebih baik jangan mencari tahu tentang kehidupanku."


"Kau... " Ming Way tak sanggup lagi melanjutkan kalimatnya.


"Ayah jangan khawatir, apapun yang kulakukan tidak akan merugikan ayah. Tidak ada yang tahu jika aku adalah putramu. Mereka hanya tahu ayah hanya memiliki seorang putra. Sebaiknya Ayah perhatikan saja kedua putri ayah," kata Simon dengan santai sembari melirik jam tangannya.


Dia harus segera menjemput Emi dari ruangan kakeknya. Terlalu lama meninggalkan gadis itu bukanlah ide yang baik.


"Kedua kakakmu sudah berada di mana seharusnya mereka berada," lirih Yaling yang tiba-tiba datang membawakan teh.

__ADS_1


__ADS_2