Sebatas Nikah Di KUA

Sebatas Nikah Di KUA
I Took You Home


__ADS_3

Selama Simon melakukan syutingnya, Kent bersantai di mobil van. Sudah waktunya makan malam. Sebenarnya di lokasi syuting disediakan makan malam untuk semua kru dan para pemain.


Tetapi Simon yang pemilih makanan jadi sedikit merepotkan Kent.


Kent membuka kotak makanan yang diberikan Emi untuknya, dan mencoba memakannya. "Eh? Seharusnya aku tetap membeli makan malam seperti biasa," gumamnya setelah mencoba masakan Emi. Di menutup kembali kotak itu, dan mengambil gawainya. Saatnya menggunakan layanan pesan antar.


Tunggu! Batin Kent teringat sesuatu. Aku tidak mendengar komentarnya, Apakah Simon melewati makan malamnya? pandangannya beralih ke kursi bekas tempat duduk Simon.


Kotak makan malam milik Simon ternyata sudah kosong.


***


Sementara itu di lokasi syuting, Simon yang berperan sebagai juru masak di restoran itu harus menghadapi para preman yang mencari salah satu karyawan restoran.


Mereka terlibat percekcokan. Simon sangat kesal dan menahan emosi saat preman preman itu memporak-porandakan restorannya.


Tangannya memegang erat sebuah gagang pisau, dia menahan sakit perutnya yang tiba-tiba mulas setelah menghabiskan makan malamnya yang sangat pedas.


Dilayar monitor, ekspresi Simon menahan mulas terlihat seperti menahan emosi dengan mendalam saat melihat restorannya di porak-porandakan namun tak bisa berbuat apa-apa.


Cut!


Teriakan sutradara membebaskan Simon. Dia segara berlari menuju toilet.


Seharusnya aku tidak menghabiskannya..., gadis itu, dia ingin membunuhku, ya? keluh Simon dalam hati di toilet.


Setelahnya dia tetap melanjutkan syutingnya secara profesional.


Syuting yang memelelahkan itu akhir selesai pukul 12 malam. Dari spion mobil, Kent melirik Simon yang duduk diam menatap keluar jendela.


"Kau tidak apa-apa? Apa kau ingin ke rumah sakit?" tanya Kent dengan perasaan bersalah karena tidak membeli makan malam seperti biasanya, dan memaksa aktornya makan makanan berbahaya.


"Hmm," tak ingin menjawab, Simon menyandarkan tubuhnya dan menutup mata. Dia terlalu lelah. Bahkan untuk bernapas.


"Aku tidak akan membawamu masuk dari pintu belakang, apa kau yakin tidak ingin ke rumah sakit?"


"Bangunkan aku jika sudah sampai," ucap Simon tanpa membuka matanya.


Kent kembali fokus menyetir. "Itu adalah kesalahanku karena aku yang lupa memberitahunya tentang kau yang tidak bisa memakan sesuatu yang pedas. Melihatmu tidak berkomentar apa- apa itu lebih menyeramkan."


".... "


Mobil van berwarna putih itu melintas di kesunyian malam dengan tenang. Simon tiba di apartemennya pukul 12 lewat 15 menit.

__ADS_1


Dia disambut oleh cahaya lampu terang benderang saat membuka pintu rumahnya.


Emi ada disana berdiri di samping sofa yang ada di tengah-tengah rumahnya. Dia tidak bisa tidur dengan nyaman dikamarnya.


"Kau belum tidur?" tanya Simon. Dia ingin mempermasalahkan tentang apa yang membuatnya sakit perut. Tapi dia terlalu lelah untuk itu.


"Apakah kau ingin aku membuatkanmu segelas $usu hangat?" tanya Emi bernada khawatir.


"Ok,"


"Ok!" Emi bersemangat menuju dapur, dan membuatkan $usu hangat untuk Simon.


Dia sadar telah melakukan kesalahan, karena memberikan cabai secara berlebih tanpa tahu itu cabe tingkat kepedasannya lebih tinggi dari cabai yang biasa dia masak di Indonesia. Dia tidak mencobanya dulu sebelum memberikannya kepada Kent.


Emi mengambil gelas $usu dari microwave dan meletakkannya di atas meja makan di mana Simon duduk dengan tenang di sana.


Dia mengambil tempat, dan duduk di kursi meja makan yang berhadapan dengan Simon. "Apakah kau tadi memakannya?" tanya Emi ragu.


Simon melirik gelas $usu di hadapannya, "Apakah kau ingin meminta maaf dengan ini?"


"Iya, bagaimana kau bisa tahu?" tanya Emi melotot kaget. Dia berharap Simon tidak akan segera memulangkannya, dia belum berkeliling kota Taipei.


Simon tersenyum samar. "Baiklah, aku terima permintaan maafmu."


"Duduklah kembali, kau tidak boleh pergi sebelum aku menghabiskan permintaan maafmu ini,"


Emi pun kembali duduk. "Ok! Cepatlah minum, itu bagus untuk usus setelah makan pedas."


Simon tersenyum samar, menertawakan dirinya yang dengan mudah melupakan umpatannya kepada Emi setelah melihat gadis itu. Seharusnya aku tidak terlahir sebagai pria yang berhati lembut? Pikirnya.


"Apakah kau selalu menutup kepalamu?" tanya Simon setelah meneguk permintaan maaf Emi.


"Ah tidak, ini karena kau sudah di rumah. Jadi begini, seorang muslimah boleh tidak menggunakan hijab, jika itu ayah, kakek, keponakan, bapak tiri, bapak mertua, menantu, anak, anak tiri, cucu, anak susuan," jelas Emi bernada bijak. Namun rasa bijaknya tak berlangsung lama hingga dia menyadari, aku lupa menyebutkan suami.


"Oh begitu," Simon mengangguk mengerti.


"Ya, di depan suami wanita bisa tidak menggunakan hijabnya, tetapi karena kau tidak menganggapku sebagai istri, dan aku tidak menggapmu sebagai suami. Ya, seperti itu. Jadi aku tetap menggunakan hijab." Emi melanjutkan penjelasannya dengan panjang lebar.


Simon terdiam mendengar penjelasan Emi, dan tawanya pecah, "Ha.. Ha.. Ha., bagaimana kalau kita akhiri saja?"


"Hah? Apa?" Emi mengerutkan keningnya. Dia takut Simon ingin membuatnya menjadi janda. Tidak, setidaknya dia harus lebih dulu menikmati libur semesternya sebelum menjadi janda.


"Kalimat itu, aku bukan suamimu, kau bukan istriku. Maksudku, kita tidak tidak perlu lagi mengatakannya, simpan saja dipikiran kita, Ok!" pinta Simon.

__ADS_1


Simon memperhatikan Emi, menunggu respon gadis itu. Entah mengapa aku tidak suka setiap kali kau mempertegas kau tidak menganggapku suami.


"Ok," jawab Emi.


Tetapi dipikiranku, aku menganggapmu suami. Jika tidak, aku tidak akan duduk di sini. Batin Emi.


"Jadi, mengapa kau menggunakan sesuatu yang kau sebut hijab? Apakah kau menutup kepalamu sejak kau kecil?" Simon menanyakan kembali pertanyaan yang tadi ada dipikirannya.


"Hmm.., aku menutup kepalaku sejak aku tahu wanita islam wajib menggunakan hijab."


"Oh begitu, jadi kau menutup kepalamu karena kau seseorang wanita yang beragama islam. Itu seperti identitas islam, benar?"


Emi memperhatikan Simon yang tampak tertarik, apakah dia ingin tahu?


"Aku tidak yakin untuk mengatakannya sebagai identitas seorang wanita islam. Siapa saja berhak untuk menutup kepala mereka, benar kan?"


Simon memperhatikan Emi yang mulai kembali berbicara dengan santai kepadanya seperti waktu di Indonesia. Hal itu membuatnya semakin memperlama menghabiskan $usunya.


"Ya, kau benar. Tetapi ketika aku melihat wanita berpakaian sepertimu, aku tebak dia adalah seorang muslim."


"Ya hampir semua wanita muslim ingin menunjukkan bahwa mereka adalah seorang wanita muslim. Kita bangga dengan itu. Islam mengajari kita bahwa seorang wanita adalah berharga," jelas Emi seraya menatap gelas yang sudah berkurang isinya di hadapan Simon, Harusnya aku gunakan gelas yang lebih besar, pikir Emi dengan kedua alis yang berkerut. Dia berharap bisa lebih lama lagi bercerita dengan Simon.


Simon menyadari Emi memperhatikan susu yang tak kunjung dia habiskan. Berpikir Emi kesal karena itu, Simon mengambil gelas $usunya. tetapi dia meneguknya dengan sangat perlahan.


"Kau tahu, menutup tubuh dari kepala hingga kaki seperti sebuah peringatan kepada pria, hey pria hormati kami, jangan melihat kami, jangan ganggu kami, jaga jarak, jangan cat calling, jangan bawa pulang," Emi lanjut bicara agar Simon meletakkan gelasnya, dan mendengarkannya.


dan benar, Simon meletakkan kembali gelasnya. "Apa? Jangan bawa pulang? Ha..ha.."


"Ya, ha.. Ha.."


Simon menghentikan tawanya dan menatap Emi dengan serius. Matanya mengunci kedua mata gadis itu, "Hey, Emi."


Dipanggil dan ditatap serius oleh Simon, membuat Emi ikut berhenti tertawa. Dia dapat merasakan jantungnya berdebar.


"Aku sudah membawamu pulang, dan melihatmu seperti ini," kata Simon. Dia akhirnya mengerti mengapa dulu Emi selalu melihat ke arah lain setiap kali dia mencoba menatap gadis itu.


Emi terdiam mendengar ucapan Simon. Namun pikirannya sangat berisik.


Eh? Itu kan karena kita sudah menikah, suami istri tidak apa apa saling menatap sampe capek. Eh? Haruskan aku menjawab itu? Ah bodoh!


Emi segera berdiri, "Itu khilaf!" serunya dan bergegas pergi ke kamarnya.


"Khilaf?" Simon tersenyum samar meski dia tidak tahu artinya.

__ADS_1


__ADS_2