Sebatas Nikah Di KUA

Sebatas Nikah Di KUA
Pay attention to the hungry


__ADS_3

Waktu menunjukkan pukul 11 malam waktu Taipei. Di sebuah kamar hotel dengan pencahayaan temaram, Emi berguling-guling di atas tempat tidur.


Dia memaksakan dirinya untuk tidur, tetapi tidak bisa. Dia lapar.


Itu pertama kalinya dia menginap di hotel. Dia tidak berani memesan makanan. Bagaimana jika tidak halal?


"Tidak bisa!" serunya sembari duduk mengambil gawainya. Orang itu harus bertanggung jawab terhadap kelangsungan hidupku.


Dengan kedua jempolnya, Emi mengirim pesan singkat kepada Simon.


[Aku kelaparan]


Setelah pesan itu terkirim, dia kembali merebahkan tubuhnya. Seharusnya membawa mie instan di koper, sesalnya.


Setengah jam berlalu, dia tidak mendapatkan balasan pesan dari Simon meskipun pesannya sudah dibaca.


Apa aku bisa bertahan hingga besok pagi? Pikirnya mendramatisir keadaan.


Saat dirinya hampir tertidur, gawainya berdering. Simon menghubunginya.


"Halo,"


"Turunlah, dan berdiri di depan pintu lobi," Suara dengan tempo lambat terdengar di telinga Emi.


"Ok,"


Pangillan telepon itu terputus setelah Emi mengatakan 'Ok'. Maksudnya aku pergi keluar berdiri di depan hotel? Pikir Emi belakangan.


Meski ragu dengan apa yang baru saja dikatakan Simon, Emi tetap turun ke lantai satu dan berdiri di depan pintu masuk lobi.


Tidak ada siapa di sana, hanya ada petugas penjaga pintu masuk.


"Mengapa dia memintaku berdiri di sini? Dan mengapa juga aku mau berdiri di sini?" gumam Emi.


Apa aku balik saja lagi ke kamar? Atau tunggu sebentar lagi? Pikir Emi ragu.


Sebuah mobil berjalan masuk menuju lobi, bersamaan dengan itu, gawai milik Emi berdering.


"Hallo," Emi menjawab panggilan telepon dari Simon sembari menatap mobil yang sudah terpakir di hadapannya.


"Masuklah ke mobil hitam di depanmu," pinta Simon dari balik telepon.


"Ok," Emi memutuskan sambungan teleponnya dan berjalan masuk ke dalam mobil. Dia memilih pintu penumpang bagian depan.


"Loh dia yang supir," gumam Emi kaget. Dia berpikir Kent yang mengendarai mobil itu, dan Simon duduk di kursi belakang seperti biasa.


Meskipun Simon tidak mengerti apa yang dikatakan Emi, dia tersenyum samar. Ekspresi wajah Emi sudah cukup menterjemahkan apa yang dia katakan.


"Baiklah, kita akan membuatmu penuh," ucap Simon mulai menjalankan mobilnya.


Emi memperhatikan interior mobil yang di tumpanginya. Meski terbilang mobil bagus, tapi dia banyak melihat mobil mobil mewah yang berkeliaran di Taipe. Dengan kata lain dia mengambil kesimpulan bahwa mobil yang dimiliki Simon adalah mobil biasa.


Diliriknya Simon yang duduk mengemudi di sebelahnya. Pria itu mengenakan kaos oblong biasa, dan celana panjang biasa. Dia tetap terlihat keren memakai apa saja, pikir Emi.


Tak ada suara hingga mereka tiba di restoran vegetarian.

__ADS_1


"Kau bisa mendapatkan makanan tanpa babi di sini," ucap Simon sembari melepas sabuk pengaman.


"Ok,"


Salah satu ujung alis Simon berkedut mendengar kata 'Ok' yang selalu keluar dari mulut Emi. Namun tak lama kemudian dia tersenyum samar.


Dia memakai maskernya, dan membuka pintu. "Ayo, masuk," ucapnya.


Emi sudah lebih dahulu keluar dan berjalan meninggalkan mobil sebelum Simon sempat membukakan pintu untuknya.


Seorang pelayan menyambut kedatangan mereka dan mengantarkan mereka ke sebuah meja khusus untuk dua orang.


Emi melihat menu dengan bingung, gambarnya terlihat cantik, tetapi dia tidak tahu apa itu, karena tidak bisa membaca tulisan yang tertera di sana.


"Maaf, ini terbuat dari bahan apa?" tanya Emi berhati-hati kepada Simon dengan menggunakan nada bicara yang sopan. Mengingat usia Simon jauh diatasnya. Jadi dia berpikir harus merubah sikapnya menjadi sopan.


Namun tekanan suara Emi terdengar dingin di telinga Simon.


"Semua menu adalah berasal dari tanaman yang diolah," jawab Simon singkat.


Kening Emi berkerut mendengar jawaban singkat Simon. Dia tidak suka ya kalau aku tanya tanya?


Simon tersenyum samar melihat raut wajah bingung Emi, "kau bisa memesan semua dan mencobanya."


Hah? Begitu tidak sukanya aku bertanya ya, sampai disuruh pesan saja semua. Batin Emi.


"Dia lebih memilih menghabiskan uangnya daripada menjawab pertanyaanku," gumam Emi. Tanpa sadar dia mengeluarkan ekspresi cemberutnya.


"Jika kau tidak suka, kau tidak perlu menghabiskannya," ucap Simon menjawab ekspresi cemberut Emi.


Dan setelah menunggu beberapa menit, dia mendapatkan makanan yang dimintanya.


Tahu dan nasi, tetapi tidak pedas.


"Kau tidak makan?" tanya Emi berbasa-basi.


Simon menggeleng, "Tidak, aku hanya akan menemanimu. Nikmati makan malammu,“


"Ok,"


Emi memakan nasinya sembari sesekali melirik Simon yang duduk tenang di hadapannya. Pria itu tidak melepas maskernya.


Dia jadi tidak enak karena makan sendirian sambil dilihatin pria tampan pula.


Sebaliknya, Simon dengan nyaman, tanpa bosan memperhatikan gadis asing yang tampak berbeda.


Seperti apa warna rambutnya?


Apakah dia merawatnya walaupun menutupinya?


Apakah dia masih nyaman saat musim panas?


Dia makan dengan cepat dan tenang?


Apa dia sangat lapar?

__ADS_1


Apa aku harus meminta tiga porsi tahu lagi untuknya?


Tahu adalah makanan kesukaannya.


"Apa kau ingin memakan tahu lagi?" tanya Simon begitu melihat Emi hampir menghabiskan makan malamnya.


Emi menggeleng cepat. "Tidak, terima Kasih."


"Jika tidak ada lagi yang ingin kau makan, aku akan mengantarmu kembali ke hotel."


"Ok,"


Mereka kembali ke mobil setelah Simon membayar makanan Emi.


Tak ada suara, Emi tak berani untuk berbicara lagi kepada Simon. Dengan tenang dan dalam diam mereka kembali ke hotel tempat Emi menginap.


Emi ragu untuk turun saat mobil Simon sudah terpakir di depan pintu masuk lobi.


Apa ditanyakan kepadanya, apa tidak usah saja ya? Pikir Emi ragu. Mengingat Simon menjawab pertanyaannya dengan ketus di restoran. Tangannya sudah memegang pintu, tetapi tidak juga membuka pintunya.


Melihat Emi yang tak kunjung membuka pintu dan turun dari mobilnya, membuat Simon bertanya, "ada apa?"


Emi kembali duduk dengan benar dan melihat ke arah Simon, "itu, apa aku boleh bertanya?"


"Tentu."


"Apakah kau masih makan, makanan tidak halal?" tanya Emi berhati-hati. Meskipun pria itu suaminya, mereka tetap lah dua orang asing yang tidak dekat satu sama lain.


Diluar dugaan Emi, Simon tertawa mendengar pertanyaannya. Dia tampak tidak terganggu sama sekali.


"Ha.. Ha.. benar, aku seorang muslim sekarang. Jadi aku harus mengikuti gaya hidup sepertimu, ya?"


Emi mengangguk semangat, "Benar,"


"Aku akan mencobanya. Sekarang turunlah. Besok Kent akan mengantarmu pergi wawancara." Simon memasang senyum di wajahnya. Dia harus berhati-hati jika tidak ingin Emi memutuskan untuk tidak mau melaporkan pernikahan mereka.


"Ok," Emi membuka pintu mobil dan menurunkan sebelah kakinya. Tetapi sejurus kemudian dia tidak jadi turun. Dia menaikan lagi kakinya dan melihat ke arah Simon. "Apakah aku boleh menghubungimu seperti mengirim pesan meskipun itu bukan sebuah pertanyaan?"


Simon mengerutkan keningnya mendengar tekanan nada suara Emi yang terdengar seperti berhati-hati dan memikirkan sesuatu.


Ada apa dengannya? Dia seperti bukan gadis yang kutemui pertama kali?


Dalam ingatannya, Emi gadis yang penuh ekspresi, bertindak dan mengatakan apa saja yang ada dipikirannya tanpa ragu. Dan tidak peduli dengan pendapat orang lain.


Melihat Simon yang diam saja, membuat Emi yakin bahwa permintaannya ditolak, "Aku tidak bisa? Tidak apa apa," tanya Emi datar dan bergegas turun.


Namun Simon dengan cepat menahan pergelangan tangannya. Emi menoleh melihat tangan Simon yang menggenggam pergelangan tangannya. Dalam pandangan Simon, Emi menatapnya dingin.


"Oh, maaf," spontan Simon melepaskan tangannya dari pergelangan tangan Emi. "Kau bisa menghubungiku kapan saja, dan mengirim pesan apa saja."


"Ok," Emi keluar dari mobil Simon, dan masuk ke dalam gedung hotel itu tanpa menoleh lagi kebelakang.


Lagi...? dia hanya mengatakan ok? batin Simon menatap punggung Emi yang perlahan menjauh.


Tanpa membuang waktu lagi, Simon kembali menuju apartemennya. Dia benar-benar ingin segera tidur.

__ADS_1


Saat membaca pesan masuk dari Emi, rasa kemanusiaannya tidak bisa membiarkan begitu saja gadis itu kelaparan.


__ADS_2