
***
Langit di sore hari begitu bersih. Benar kata orang, saat napas terasa sesak, udara di luar akan membuat lebih baik.
Beralaskan sendal jepit, Emi berjalan dengan santai mengelilingi taman apartemen.
Langkah kakinya terhenti saat melihat sosok yang dikenalnya. Joe sedang berjongkok bersembunyi di balik bangku taman.
Emi menyunggingkan senyum sembari menghampiri Joe.
"Kau sedang apa?" tanya Emi.
Merasa ada seseorang yang mengganggunya, Joe mengangkat kepalanya, dia sedikit terkejut melihat Emi yang mengganggunya.
"Sssttt.." Joe meletakkan telunjuknya di depan bibirnya.
"Oh sssttt..." Emi ikut mengambil tempat di sebelah Joe. "Apa aku juga bersembunyi saja, tidak usah pulang malam ini?" gumam Emi.
"Joe sudah selesai bermain? Ayo pulang!" suara berat seseorang pria mengejutkan keduanya.
"Ba ba?"
"Oh, Nona tetangga, selamat sore," sapa Chang BoYu. Meski tidak melihat wajah Emi, dia menebaknya dari penampilan seorang gadis yang berhijab.
Merasa orang yang dipanggil papa oleh Joe juga menyapanya, Emi ikut mendongak ke atas. "Hallo," sapanya dengan kedua matanya yang bengkak.
BoYu memasang senyum membalas sapaan Emi, dan menoleh kembali ke Joe, "Ayo Joe!"
"Jie jie bye bye!" seru Joe kepada Emi sebelum menyambut tangan ayahnya. Dan keduanya pergi meninggalkan Emi.
Chang BoYu adalah seorang pekerja freelance web developer yang selalu dianggap pengangguran karena selalu berada di kamarnya. Karena hal itulah kakak perempuan BoYu meninggalkan begitu saja putranya di rumah bersama BoYu yang juga tinggal menumpang di rumahnya.
Dan Joe yang tidak pernah bertemu dengan ayahnya sejak lahir, sudah menganggap BoYu sebagai ayahnya. Begitu juga BoYu.
__ADS_1
Karena sudah terbiasa mengasuh anak kecil sejak dulu, Chang BoYu jadi tidak bisa meninggalkan Emi yang habis menangis seperti kehilangan sesuatu.
"Nona tetangga, apakah kau ingin ikut bersama kami makan es serut?" tanya Chang BoYu yang kembali menghampiri Emi.
Emi memperhatikan BoYu dengan seksama, memastikan tetangganya bukan seorang penculik. "Ok!"
BoYu membawa Emi ke pasar malam dengan berjalan kaki.
"Ibunya Joe tidak ikut?" tanya Emi kepada BoYu yang menggendong Joe di punggungnya.
BoYu menggeleng, "Kakakku sedang bekerja,"
"Kakak?"
BoYu tertawa melihat keheranan Emi, "Sebenarnya Joe adalah keponakanku."
"Oh, apakah kau juga seorang pelajar? kau terlihat masih muda, karena itu tadi pagi aku tidak percaya kau adalah ayahnya Joe."
"Aku masih belajar, "
"Universitas di sini?"
Emi menggeleng dengan cepat, "tidak tidak, di Indonesia. Aku orang Indonesia. Di sini untuk liburan akhir semester, mungkin sampai satu minggu. Besok aku akan pergi ke museum Nasional istana," katanya kemudian.
"Oh begitu," BoYu menghentikan langkahnya karena mareka sudah tiba di depan penjual es serut. Dan langsung memesan dua porsi Es serut.
"Jadi, kau pergi liburan sendiri?" BoYu mengamati Emi. Penampilan Emi sangat sederhana. Meskipun gadis itu memiliki kemampuan bela diri yang memumpuni, Emi tidak tanpa seperti seseorang yang sudah terbiasa berkenala seorang diri.
Emi yang baru pertama kali ke pasar malam yang cukup ramai dipenuhi oleh penjual dan pembeli serta berbagai ragam aroma, tidak melepas tatapannya dari setiap melihat sesuatu yang asing baginya. Dia menoleh ke arah BoYu yang bertanya kepadanya.
"Tidak, ada Bai yang akan menemaniku berkeliling. Dia ada lah seorang tour guide profesional,"
BoYu menerima es serut dari abang penjual es serut dan memberikannya kepada Joe dan Emi. "Orang Taiwan?" tanyanya kepada Emi.
__ADS_1
Emi menerima es serutnya sebelum menjawab pertanyaan BoYu. "Iya, dia sangat ramah."
"Bagaimana rasanya?" tanya BoYu kepada Emi yang baru saja memakan sendokan es serut pertamanya.
Tanpa bertanya pun, terlihat jelas di wajah Emi jika dia baru saja memasukan ke mulutnya sesuatu yang sangat enak.
"Hmmm, lezat!" Emi memberikan jempolnya.
"Ba ba, Joe ingin permen!" Joe memberikan gelas es serutnya yang baru habis seperempat kepada BoYu.
"Nona tetangga ayo," BoYu membawa kedua anak asuhannya mencari penjual permen.
Ketiganya mencoba apa saja yang mereka inginkan hingga tanpa sadar sudah pukul 10 malam.
Joe sudah tertidur digendongan BoYu. Sekalinya dia keluar, dia menjadi lupa waktu.
"Terima kasih sudah mentraktirku," ucap Emi dengan penuh kesopanan kepada BoYu, ketika sudah tiba di lantai tempat tinggal mereka.
"Aku senang jika kau menyukainya," jawab BoYu mencoba bersikap ramah kepada tetangga. Sesekali agaknya dia perlu bersosialisasi dengan tetangga.
Emi ingin mengatakan sesuatu, tetapi dia ragu. dan akhirnya dikatakan juga, "Tuan tetangga, aku ingin membalas kebaikanmu. Bagaimana jika besok aku membawa Joe ikut dengan kami? Jadi kau besok bisa menggunakan waktumu dengan baik untuk bekerja," usulnya dengan ragu. Setelah mendengar cerita BoYu tentang pekerjaan tetangganya itu, Emi sedikit ingin membantu.
BoYu diam memperhatikan Emi, gadis tetangga yang menawarkan diri untuk membawa putranya.
Melihat BoYu yang tidak menjawab, Emi menjadi canggung karena berpikir BoYu pasti mengira dirinya adalah orang asing yang mencurigakan.
"Ah maaf maaf, apakah kedengarannya tidak sopan ya? anggap saja aku tidak mengatakan apa apa. Terima Kasih sekali lagi," kata Emi sedikit salah tingkah. Dia harus segera menghilang dari pandangan BoYu dengan langsung masuk ke dalam rumah Simon.
"Tidak, dengan senang hati kau boleh membawa Joe." Perkataan BoYu menghentikan tangan Emi untuk membuka pintu rumah Simon, dan gadis itu menoleh manatap BoYu.
Emi tersenyum ceriah, "Kalau begitu sampai jumpa besok." katanya dan bergegas membuka pintu rumah Simon, dan masuk.
BoYu menghela napas setelah Emi menghilang dari pandangannya. "Ponselku ketinggalan, di dalam kakak pasti sedang marah besar," gumamnya menatap pintu rumahnya.
__ADS_1