Sebatas Nikah Di KUA

Sebatas Nikah Di KUA
Freshly Brewed Coffee


__ADS_3

Sore harinya, Emi dengan perasaan sedikit senang memasak makan malam di dapur, karena semua bahan makanan yang ada di kulkas adalah halal. Sesekali dia bersenandung kecil.


Gerak gerik Emi yang tengah menyiapkan makan malam di dapur, diperhatikan oleh Simon dari balik dinding kaca ruang kerjanya.


"Sepertinya hanya makanan yang mampu merubah moodnya," gumam Simon.


Dia tersenyum membaca pesan masuk dari Emi. Gadis itu terus mengirimkan link video tausiah sejak kemarin malam.


Jadi dia memintaku untuk membolehkannya mengirim pesan meskipun tidak ada hal yang ingin ditanyakan adalah untuk ini? batin Simon.


Meskipun dia tidak memiliki agama sebelumnya, baginya, percaya kepada eksistensi Sang Pencipta, Tuhannya Emi, itu sudah cukup. Dia bahkan sudah disunat dan mandi wajib.


Drrrt...


Video seorang Syaikh berwajah arab dengan teks terjemahan, terhenti digantikan oleh tulisan kakek memanggilnya.


"Hallo," Simon menjawab panggilan teleponnya.


"Kakek dengar sekarang cucu menantuku ada di rumahmu,"


Ternyata keberadaan Emi menyebar dengan cepat. Simon meminta bantuan ayahnya untuk menyediakan seorang tour guide untuk Emi. Dan sekarang kakek menghubunginya. Sudah jelas ayahnya yang memberitahu kakek.


"Ya," jawab Simon singkat.


"Kau harus membawanya saat ulangtahun kakek minggu depan," suara Liu Ming Way mengambil alih telepon kakek.


Sepertinya kakek sedang bersama ayahnya Simon di suatu tempat entah dimana.


"Ayah tahu aku tidak pernah menghadiri acara keluarga," bantah Simon memberi alasan klasik.


"Kau tidak perlu datang, aku tidak mengharapkan kehadiranmu. Yang kuminta untuk datang hanya cucu menantuku," Kini suara kakek kembali berbicara.


Simon tersenyum, dia harus menampilkan kebolehannya melakonkan drama. "Kakek, bagaimana bisa aku melepaskan istriku yang berharga seorang diri,"


"Sudah kuduga kau akan seperti itu. Jika kau masih ingin menjadi bagian dari keluarga Liu, kau harus pulang ke rumah besok siang bersama istrimu!" suara Ming Way terdengar tidak main main.


Simon memijit pelipisnya, dia pikir tidak akan ada syarat ketentuan berlaku setelah dirinya bersedia menikah.


"Baiklah, aku mengerti," Simon mengakhiri panggilan teleponnya secara sepihak.


Meskipun Simon tidak yakin ayahnya akan mencoretnya dari kartu keluarga, tetapi dia tetap saja mendengarkan ancaman ayahnya. Bisa saja terjadi human error.


Pandangannya kembali melihat Emi yang sedang berupaya membuat tubuhnya menjadi lebih tinggi di dapur.


"Mentang mentang punya badan tinggi, seenaknya saja bikin lemari tinggi-tinggi. Kan jadi merepotkan kalau begini," gerutu Emi dengan menggunakan Bahasa Indonesia.


Berjalan tanpa menimbulkan suara, Simon mendekati Emi yang tengah menjangkau isi lemari yang tergantung tinggi di atasnya.

__ADS_1


"Apa yang ingin kau ambil?" tanya Simon yang sudah berdiri tepat di belakang Emi. Suaranya mengagetkan Emi.


Sadar dengan kehadiran Simon di belakangnya, Emi menggeser posisi berdirinya ke kanan agar tidak berdiri tepat di depan Simon. "Mangkok," jawabnya datar.


Simon mengerutkan keningnya, jelas dia mendengar ocehan Emi yang bernada kesal. Namun tiba-tiba gadis itu berubah dingin dengannya.


"Ini," Simon memberikan mangkok yang diinginkan Emi.


Apa dia sudah membenciku? pikir Simon.


Emi menerima mangkok itu dengan tenang, "terima kasih," ucapnya datar.


Dia melewati Simon begitu saja. Melanjutkan kerjaannya di dapur itu seolah-olah Simon tidak ada di sana.


"Aku ingin kopi, buatkan secangkir kopi untukku!" perintah Simon sembari berjalan meninggalkan dapur. "Bawa kopinya ke ruanganku," katanya kemudian.


"Baik," ucap Emi sembari melirik mesin pembuat kopi di salah satu sudut meja dapur.


Apakah membuatnya dengan itu? pikir Emi bingung. Dia sama sekali tidak tahu bagaimana menggunakan mesin kopi itu.


"Dimana sih kopinya?" gumam Emi sembari mencari di setiap lemari penyimpanan.


Tanpa disadarinya, Simon kembali ke dapur dan mengambil biji kopi yang berada di rak persis di hadapan Emi.


"Ini," Simon memberikan toples biji kopi itu.


Ujian Emi belum selesai, masih ada tantangan menggunakan mesin kopi yang asing bagi Emi. Bisa dikatakan dia agak sedikit gagap teknologi.


Simon yang memperhatikan gelagat kebingungan Emi, menghela napas. Dia tidak ingin minum kopi, hanya asal memberi perintah kepada Emi agar gadis itu meledak. Dia bosan dengan kehidupannya yang selalu tenang.


Tetapi, mengapa dirinya yang jadi terseret dalam kerepotan itu?


"Pertama kau masukan air, wadahnya dibuka seperti ini," kata Simon sembari mengeluarkan wadah air dari mesin pembuat kopi. Dengan cekatan dia memasukkan air keran ke dalam wadah air mesin kopi itu dan memasangkannya kembali.


"Oh," Emi memperhatikannya dengan antusias. Dia harus tahu, mungkin nanti dia akan sering menggunakan mesin itu.


Simon membuka tutup transparan dibagian atas mesin, "Dan biji kopinya dimasukan di atas ini," jelas Simon sembari menuangkan beberapa biji kopi.


"Ok,"


"Apa yang ingin kau minum?" Simon bersiap akan menekan salah satu tombol menu pada mesin pembuat kopi.


"Cappuccino,"


Pilihan Emi membuat Simon tersenyum lembut, "kalau begitu, kita perlu $usu."


"Aku akan mengambilnya!" Emi bergegas mengambil sekotak $usu dari kulkas, dan memberikannya kepada Simon.

__ADS_1


Tanpa sadar Simon membuatkan secangkir cappucino untuk Emi, "Nikmati cappucinomu, Ruiqi."


"Terima kasih,"


Simon mengerutkan keningnya melihat Emi yang membawa cangkir berisi cappucino itu ke meja makan. Siapa yang yang jadi melayani siapa?


Apa yang sedang kau lakukan Simon? Batin Simon setelah sadar.


"Apa arti rui chee? Jika aku tidak salah, kau menyebut rui chee." Emi ingin mengabaikan bahasa mandarin yang digunakan Simon, tetapi setelah dipikir pikir jadi penasaran. Dia menatap lurus ke arah Simon yang berdiri di hadapannya.


Simon yang sedang menunggu mesin itu mengisi cangkirnya dengan cairan coklat tua pekat, berbalik melihat ke arah Emi. Dalam pandangannya, Emi menatapnya dingin. Dia seperti suami yang tertangkap basah sedang berselingkuh.


"Maaf, aku tidak sengaja memanggilmu dengan nama wanita lain," aku Simon sengaja berkata jujur. Memang benar dia baru saja mengira Emi adalah Ruiqi.


Mengapa selera kopi mereka sama? Batin Simon tidak suka.


Emi bergeming mendengar penjelasan Simon, "Oh, begitu," katanya dengan tenang. Dan dengan tenang pula kembali menyeruput cappucinonya. "Kupikir tadi dia mengata- ngataiku," Gumamnya lega.


Cangkir kopinya telah terisi penuh, tapi Simon tidak peduli dengan itu. Ketenangan Emi lebih menarik perhatiannya. "Kau tidak bertanya siapa wanita itu?"


Pertanyaan Simon menghentikan gerakan bibir Emi dipinggir cangkir. Dia meletakan cangkirnya di atas meja, dan menatap lurus Simon sembari memikirkan jawabannya dalam bahasa inggris.


"Apakah aku harus tahu?" Kalimat tanya dan nada bicara Emi terdengar dingin di telinga Simon.


Pria itu tersenyum samar. "Tidak, kau tidak harus mengetahuinya," katanya dan membalikkan badannya, kembali ke mesin kopi yang telah selesai melakukan tugasnya.


Cangkir yang berisi kopi panas itupun berakhir di wastafel.


"Bersihkan semuanya, jika kau sudah menyelesaikan cappucinomu!"


"Ok,"


Simon yang tidak ingin kopi menjadi semakin tidak ingin minum kopi. Dengan tenang dia pergi meninggalkan dapur menuju kamarnya.


Sementara itu, Emi langsung meneguk cappucinonya hingga habis. Ada apa dengan pria itu?


Wanita yang bernama Ruichee itu pasti cantik, batin Emi saat membasuh gelas kotor.


Gadis itu menghela napas, dia pasti masih sangat mencintai pacarnya yang sudah meninggal itu, pikir Emi yang mengira wanita bernama Ruiqi itu telah meninggal dunia.


Wajar saja dia tidak menyukaiku.


mengapa juga dia menyukaiku?


Emi memukul kepalanya karena teringat akan sesuatu. mengapa aku peduli dengan hal itu?


Ting tong! Suara bel pintu terdengar nyaring hingga ke dapur.

__ADS_1


__ADS_2