Sebatas Nikah Di KUA

Sebatas Nikah Di KUA
becoming the mistress?


__ADS_3

Simon dan Emi langsung pergi meninggalkan kediaman Gue Wei begitu jamuan makan malam selesai.


Simon memutuskan untuk langsung kembali ke Taipe bukan karena tidak ingin tidur satu kamar dengan Emi, karena dia yakin tidak akan terjadi apapun meskipun mereka berbagi tempat tidur. Dia bukan pria chabul yang bisa meniduri wanita tanpa perasaan.


Tetapi dia ingin segera menemui Ruiqi, setelah wanita itu menghubunginya. Wanita itu terdengar tidak baik-baik saja.


Meskipun sudah menyerah dengan perasaannya, tetapi tetap saja Simon tidak bisa mengabaikan wanita itu.


Emi memperhatikan Simon yang sedang mengendarai mobil. Mereka melintasi jalan bebas hambatan menuju Taipei. Sebuah earphone di telinga Simon, dia sedang menghubungi seseorang.


Apakah dia tidak lelah? Berbahaya kan mengemudikan mobil dalam keadaan lelah? Pikir Emi dengan penuh kecemasan, mengingat mobil yang ditumpanginya melaju kencang dengan kecepatan maksimum jalan bebas hambatan.


Mengapa dia memaksakan diri? Bukannya besok adalah hari liburnya. Berpikir Simon memaksakan diri kembali ke Taipei untuk menghindari tidur sekamar, Emi menjadi tidak enak hati sekaligus cemas akan terjadi kecelakaan jika nanti tiba-tiba Simon jatuh tertidur saat sedang mengemudi.


Padahal dia bisa tidur di lantai beralas selimut. Tapi dia takut untuk mengemukakan pendapatnya itu, karena raut wajah Simon yang dalam mode datar.


Sementara itu, Simon sama sekali tidak terlihat lelah. Dia justru sangat bersemangat.


"Kau di mana sekarang?" Simon berbicara dengan bahasa Mandarin kepada seseorang yang menjawab teleponnya.


Emi hanya diam memperhatikan Simon, Siapa yang dihubunginya? Sepertinya ada masalah yang serius. Batin Emi ngeri ngeri melihat pembatasan jalan yang mereka lalui.


"Tetaplah di sana. Aku akan tiba sebentar lagi." Simon mematikan sambungan teleponnya, dan lanjut fokus mengemudi. Dia tidak bisa membiarkan wanita itu menangis sendirian.


"Eh, itu.. Tuan Simon. Bisakah kau mengurangi kecepatannya? Aku tidak ingin mati di sini, aku ingin mati di tanah kelahiranku," ucap Emi.

__ADS_1


Suara Emi menyadarkan Simon bahwa ada orang lain di sebelahnya. "Maaf," ucapnya datar dan mengangkat kakinya dari pedal gas sedikit.


Perjalanan yang dipenuhi dzikir oleh Emi itu akhirnya selesai juga. Simon tidak langsung menuju pakiran apartement, tetapi berhenti di depan gerbang gedung apartemen, "Masuk lah," ucap Simon datar.


"Kau mau pergi?" tanya Emi sembari melepas kan sabuk pengamannya.


Emi turun dari mobil, tanpa mendengar jawaban dari Simon. Mobil itu langsung pergi begitu saja meninggalkannya.


"Benar benar ada masalah yang serius ya?" gumam Emi menatap kepergian mobil Simon.


****


Begitu tiba di gedung apartemen Ruiqi, Simon segera berjalan menuju unit Ruiqi.


Dia langsung masuk ke dalam rumah Ruiqi, karena mengetahui nomor akses pintu apartemen Ruiqi.


"Ini aneh, aku tiba tiba sangat merindukanmu," Ruiqi menuangkan anggur ke dalam gelas lain untuk Simon. "Kau harus menemaniku minum,"


"Aku tidak minum," tolak Simon seraya duduk di hadapan Ruiqi. "Katakan, apa yang terjadi?"


"Jika kau tidak minum, mengapa kau ke sini?" Ruiqi mengambil kembali gelas yang diberikannya kepada Simon, dan meneguk isinya, "Pulanglah," lirihnya.


Simon mengampiri Ruiqi, dan merebut gelas berisi minuman keras dari tangan Ruiqi saat gadis itu hendak meneguknya lagi. "berhentilah minum, kau sudah mabuk,"


Simon meletakkan gelas itu ke atas meja, dan beranjak pergi. Namun Ruiqi menarik Simon, mengikis jarak di antara mereka, hingga Simon harus menahan dirinya agar tidak jatuh menimpa Ruiqi yang sedang duduk di sofa.

__ADS_1


"Jangan pergi, tetaplah disini. Kau ke sini karena mengkhawatirkanku, kan?" racau Ruiqi sembari mengapit kedua pipi Simon dengan kedua tangannya. Dia memajukan wajahnya, menghapus batas antara dirinya dan Simon.


Tanpa aba aba, Ruiqi menyatukan bibirnya dengan bibir Simon. Menekan lidahnya. Sebuah kecupan lembut sebelum dia menarik diri dari Simon. Memperhatikan pria itu.


Kedua mata mereka saling bertemu menggali rasa yang pernah mereka ciptakan dulu. Melihat Simon bergeming tak menghindar darinya, Ruiqi kembali bergerak, berinisiatif memberikan ciumannya sekali lagi.


Simon membiarkan insting tak bermoralnya memegang kendali atas dirinya, menikmati sentuhan bibir Ruiqi yang menjelajah dikedua bibirnya, hingga tanpa sadar dia membalas ciuman itu setelah gigitan kecil menyengatnya.


Dengan tubuh yang panas efek minum alkohol, Ruiqi mencium Simon dengan gila. Dan keduanya menjadi benar benar gila.


Simon merebahkan Ruiqi ke sofa tanpa menghentikan ciuman gila mereka.


Tak cukup dengan itu, Ruiqi mulai membuka kancing kemeja Simon satu persatu, berharap malam itu akan menjadi semakin panas. Dia ingin lebih melakukan penjelajahan, dan dijelajahi.


Merasa Simon yang tidak melakukan pergerakan apapun selain bibir pria itu yang mencium bibirnya, Ruiqi berinisiatif mengecek kondisi terkini milik Simon.


Simon menghentikan tangan Ruiqi yang hendak mencoba mengelus miliknya yang berharga, "kita berhenti sampai di sini," katanya berhenti berbuat gila, dan berdiri meninggalkan Ruiqi.


"Mengapa?" lirih Ruiqi. Dia terlihat frustasi ingin mengutuk Simon. Pria itu seperti petugas pengatur lampu merah yang membuat lampu hijau dalam sekejap. Belum semua kenderaan yang mengantri lampu merah lewat, lampu sudah merah kembali. Tertahan seperti itu, jadi kesal.


Simon beranjak berdiri, dan memakai kemejanya dengan benar. "Aku akan mengambilkan air putih untukmu," ucapnya datar seraya berjalan ke dapur.


Bukannya duduk tenang di sofa, Ruiqi mengikuti Simon ke dapurnya. Dia memeluk punggung padat pria itu. Wangi pria itu masih sama seperti dulu.


"Apakah kau melihatku sebagai wanita yang bodoh, dan menyedihkan? Meskipun orang itu akan menikah dengan wanita lain, dia akan tetap membiarkanku disisinya sebagai simpanan. Katakan padaku, apa yang harus aku lakukan?"

__ADS_1


Simon melihat tangan rapuh yang memeluk pinggangnya, "jika aku memintamu untuk melepaskan orang itu, apa kau akan melakukannya?"


Ruiqi mempererat pelukannya, "maukah kau menemaniku malam ini? aku membutuhkanmu,"


__ADS_2