Sebatas Nikah Di KUA

Sebatas Nikah Di KUA
What is it like to be kidnapped?


__ADS_3

Meskipun tidak diikat, Emi duduk diam tak berkutik. Dia takut orang orang yang menculiknya akan memotong tangannya tanpa belas kasihan.


Tetapi? mengapa dirinya diculik?


Mobil yang membawa Emi memasuki halaman sebuah bangunan yang dikelilingi oleh beberapa truk peti kemas


Emi menelan ludah, berpikir dirinya akan dimasukan ke dalam salah satu peti kemas itu untuk dijual ke luar negeri.


Dua pria yang duduk di sebelahnya segera keluar dari mobil setelah mobil itu berhenti di depan pintu masik gedung.


"Silahkan turun," salah seorang dari mereka menahan pintu mobil, mempersilahkan Emi untuk turun dari mobil.


Apa yang yang bisa dilakukannya? dia tidak memiliki kemampuan bela diri yang mumpuni.


Bagaikan kerbau dicucuk hidung, Emi berjalan dengan patuh mengikuti para penculik itu sembari melihat celah untuk kabur.


Saat para penculik berjalan di depan Emi dan mengira gadis itu mengikuti mereka. Emi memanfaatkannya untuk segera berlari kabur menuju pintu gerbang.


Dia berhasil keluar, dan berdiri di tepi jalan untuk memberhentikan taksi yang lewat. Dengan taksi itu dia berhasil pulang ke rumahnya.


Tetapi sayangnya, itu hanya imajinasi semata. Tidak ada kenderaan yang lewat di sana. Area itu seperti daerah terisolir.


Dua pria berbadan besar bertampang sangar yang menculiknya sudah berdiri di sana menatapnya.


Tidak ada yang bisa dilakukannya selain benar benar mengikuti kedua pria itu.


Mereka membawa Emi memasuki sebuah ruangan yang memiliki sebuah meja bulat besar. Di atas meja itu dipenuhi dengan hidangan makanan.


Terlihat kakeknya Simon sedang duduk di salah satu kursinya . Dia menatap lurus ke arah Emi. Memperhatikan gadis itu seperti sedang mempelajari sesuatu. Di sebelahnya berdiri seorang wanita berpakaian rapi, yang juga memperhatikan Emi.


"Silahkan duduk," tegas salah satu penculik. Tidak ada ekspresi apapun di wajahnya.

__ADS_1


Apakah dia diberi makan banyak dulu sebelum dijual? Mungkin bisa meningkatkan nilai jualnya. Batin Emi.


Wanita itu melirik kakeknya Simon, yang ditaksir usianya sekitar 80 an tahun. Dia mengira pria lanjut usia itu ingin mengeksploitasi Emi secara seksual.


"Akhirnya aku bisa melihatmu secara langsung," ucap kakeknya Simon sembari memberikan senyum ramahnya kepada Emi.


Wanita itu menatap ke arah Emi setelah mendengar perkataan kakeknya Simon dengan baik. Dia adalah penerjemah.


"Dia menyukaimu." katanya kepada Emi, Dia menerjemahkan perkataan Kakek untuk Emi. "Berapa usiamu?"


Mengapa menanyakan usianya? haruskah dijawab 40 tahun saja? tetapi apa mereka percaya?


"25 puluh tahun," jawab Emi pada akhirnya sedikit berbohong. Usianya masih 19 tahun.


"Kau masih muda, mengapa memilih jalan pintas seperti ini? bekerja keraslah dengan mandiri," sarannya.


Emi menarik salah satu sudut mulutnya ke atas. bekerja keras?


"Apakah kalian menculikku untuk dijual sebagai perbudakan bukan untuk organku?" Emi melihat sekali lagi ke sekelilingnya. Dua pria yang membawanya masih di sana. "Atau ini seperti Battle Royale?"


Pertanyaan Emi membuat wanita itu merinding, dia terlibat dalam penculikan? tadinya dia diminta atasannya untuk menjadi penerjemah bos besar dalam pertemuan penting. Dia dihadapkan oleh fakta yang mengejutkan. Apakah perusahaan mereka juga bergerak di bidang penculikan dan jual beli manusia?


Jika benar, maka dia dan gadis di depannya dalam bahaya.


"Mengapa kau diam saja?" Kakek bertanya kesal karena wanita itu tak kunjung menerjemahkan apa yang ditanyakan Emi.


Wanita itu mengusap pelipisnya, memperhatikan dua pria yang juga berdiri di sana. Tanpa ekspresi. Membuatnya yakin jika mereka benar-benar menculik gadis malang itu.


"Dia bertanya mengapa dibawa ke sini," kata wanita itu kepada kakek Liu, suaranya terdengar gugup.


Dubrak!

__ADS_1


Semua mata tertuju pada pintu ruangan yang dibuka tiba-tiba. Seseorang menerobos masuk.


"Kakek!" Simon berjalan masuk menghampiri Emi, dan menggenggam tangan gadis itu. Dia berlagak menjadi pelindung dengan berdiri di depan Emi.


Emi mengerutkan keningnya, Mengapa pria ini ada di sini?


Setelah melihat Simon dan kakek, sadarlah dia bahwa kakek tua yang menculiknya adalah kakeknya Simon.


"Apakah kakek membawa Emi untuk mengintimidasinya?" Simon tidak melepaskan genggamannya meskipun Emi berusaha melepaskan tangannya.


"Jangan menyentuh tanganku," bisik Emi.


Ada apa ini? apakah ini persaingan antar kakek dan cucu? pikir wanita penerjemah.


Simon melepaskan genggamannya karena mengira Emi ingin mengatakan bahwa rangkulan lebih meyakinkan daripada genggaman tangan "Aku sangat mencintai wanita ini," katanya sembari merangkul bahu Emi.


Kakek Simon melihat Emi dan Simon bergantian, memperhatikan keduanya.


"Sudah kukatakan, jangan menyentuhku!" Emi memilintir tangan yang merangkul bahunya, kemudian dengan satu hentakkan menjatuhkan Simon ke lantai.


"Mengapa kau membantingku?" Simon memaksakan senyumnya, sembari memegang lengannya yang baru saja dipelintir.


Sekarang kakek pasti akan berpikir untuk membatalkan keinginannya untuk menikahkanku dengan wanita ini. Pikir Simon.


"Setelah melihatnya secara langsung, aku yakin keputusanku untuk mendukungmu tidak salah. Zhiming, segera daftarkan pernikahanmu dengan pacarmu," ucapan kakek yang terdengar serius dan didukung dengan raut wajah serius, mematahkan kepercayaan diri Simon tentang kakek yang sangat menyayangi dirinya.


Bagaimana bisa kakek bersikap santai melihat cucunya baru saja dibanting? dan malah ingin menikahkannya dengan pelaku kekerasan.


Emi melihat ke arah Simon dengan perasaan cemas, "Hey, apa yang dikatakan kakekmu?"


"Dia bilang kau keren," jawab Simon sembari berdiri. Mengingat Emi yang membantingnya, dia yakin seratus persen bahwa Emi adalah anti-fans nya.

__ADS_1


Mendengar kakek memujinya, Emi segera tersenyum dan mengucapkan terima kasih dengan tulus.


Kakek juga ikut tersenyum puas karena mengira Emi dan cucunya bahagia karena dirinya merestui cinta mereka.


__ADS_2