Sebatas Nikah Di KUA

Sebatas Nikah Di KUA
it's called negotiation


__ADS_3

Simon datang belakangan, dan lebih dulu keluar dari kantor pendaftaran rumah tangga dari Emi untuk menghindari tangkapan kamera entah dari siapa saja. Dia mengemudikan mobilnya sendiri.


"Apakah ada satu tempat yang ingin kau kunjungi sebelum kembali pulang besok?" tanya Kent kepada Emi begitu mereka keluar dari kantor pendaftaran rumah tangga.


Ah iya, besok harus kembali. Apakah tidak bisa lebih lama lagi di sini? batin Emi nelangsa.


Dia ingin setidaknya melupakan sejenak rumor yang menimpanya di kampus, dan juga kejadian tidak menyenangkan seperti ada seseorang yang tidak menyukainya.


Dia harus mengumpulkan kekuatan di tempat yang jauh dari rumah, sebelum kembali menghadapi perundungan di kampusnya.


"Itu, Tuan Kent. Bisakah aku tinggal di sini untuk beberapa hari lagi?" tanya Emi ragu.


Mendengar pertanyaan Emi, Kent menghentikan langkah kakinya, dan menoleh ke arah Emi yang berjalan di sebelah. Dia menggunakan otaknya untuk berpikir apakah meneruskan pertanyaan Emi kepada Simon, atau langsung saja mengantarnya ke bandara besok.


"Hmm, hotelnya terlalu mahal, ya? Atau aku bisa tinggal di guest house?" tanya Emi sekali lagi. Dia berpikir Kent sedang memikirkan biaya penginapannya.


Apakah masih mahal juga ya? Batinnya, karena melihat Kent masih diam memikirkan sesuatu.


"Sayang sekali aku tidak punya uang, ... Ya sudahlah. Jalan kaki sehari di sekitar hotel juga tidak buruk," coloteh Emi berbahasa Indonesia sembari berjalan meninggalkan Kent menuju mobil yang tadi membawanya untuk mendaftarkan pernikahannya.


Kent tidak berharap Emi tinggal lebih lama, karena mungkin keberadaannya disekitar Simon akan tercium media. Menjaga privasi aktornya seperti sudah menjadi separuh nyawanya.


Kent menghela napas. Ekspresi murung Emi saat berceloteh menusuk sanubarinya. Dia jadi tidak tega dengan gadis kecil yang mungkin baru pertama kali pergi ke luar negeri.


"Kau bisa tinggal di rumah saudariku, dia akan senang hati menemanimu."


Ya, menitipkan Emi kepada saudaranya mungkin tidak masalah, tetapi dia harus memberitahu Simon.


Mendengar pernyataan Kent, Emi berhenti melangkah. Dia menganalisa sejenak arti dari perkataan Kent.


Dia berbalik dan menatap Kent dengan mata penuh harap. "Jadi, aku boleh tinggal lebih lama di sini?"

__ADS_1


"Ya," jawab Kent melanjutkan langkahnya yang terhenti.


"Terima Kasih," ucap Emi bersemangat mengikuti Kent. Namun keceriaannya tak berlangsung lama. Dia teringat sesuatu, "Bagaimana dengan tiket pesawatnya? Jadi tidak digunakan," ucapnya.


Mengapa sekarang dia jadi memikirkan tiket pesawat? pikir Kent bingung.


"Sayang juga tiketnya hangus begitu saja, mereka sih main beli aja," gumam Emi berbahasa Indonesia.


"Aku akan mengantarmu besok ke rumah saudariku, sekarang kau akan kuantar ke hotel."


"Ok," ucap Emi.


Keduanya pun masuk ke dalam mobil dengan membuka pintu masing-masing.


Kent menghubungkan gawainya dengan mobil setelah menghidupkan mesin mobil itu. Dia menghubungi Simon untuk melaporkan perubahan rencana mengenai Emi.


Tidak butuh waktu lama panggilannya dijawab oleh Simon, "weeei?"


Kent mulai menjalankan mobilnya, "Aku hanya ingin memberitahukanmu jika istrimu akan tinggal di rumah saudariku selama beberapa hari liburan kuliahnya," ucap Kent dengan santai berbahasa Mandarin begitu Simon menjawab panggilan teleponnya.


"Mengapa?" pertanyaan singkat Simon bernada tajam.


"Dia ingin berlibur di Taipei selama beberapa hari. Ya aku bisa saja menbiarkannya tinggal di hotel, karena kau yang akan membayar hotelnya. Tetapi karena istrimu tidak bisa dibiarkan tanpa pengawasan orang dewasa, solusi yang terbaik adalah tinggal di rumah saudariku."


"Mengapa tinggal di rumah saudarimu itu? Apa kau ingin kakekku mengetahui hubungan kami yang sebenarnya?" tanya Simon memperjelas kembali pertanyaannya.


"Hmm, aku akan mengantarnya ke bandara besok," Kent melirik Emi dari kaca spion dengan perasaan bersalah karena sudah memberikan harapan kepada Emi.


"Dia akan tinggal di tempatku," kata Simon tiba-tiba.


"Apa?"

__ADS_1


"Katakan kepadanya, jika dia tidak nyaman tinggal bersamaku, dia bisa kembali pulang besok."


Kent melirik Emi dari kaca spion sekilas. "Nona Emi Talenta, aku minta maaf. Sepertinya kau tidak bisa tinggal di rumah saudariku." kata Kent kepada Emi.


Emi mendengarnya dengan tenang, "Ok," jawabnya datar.


Apakah permintaanku berlebihan? batin Emi nelangsa. Hasil pembicaraan mereka yang panjang itu ternyata adalah aku dideportasi.


"Maaf," ucap Kent sekali lagi.


"Tidak apa apa,"


"Hei, Tuan Chen kau tidak mengatakan kepadanya 'dia bisa tinggal di rumahku'?" terdengar suara Simon kembali berbicara.


"Dia pasti akan memilih option kedua," jawab Kent yakin dengan santai.


"Emi Talenta!" seru Simon.


Merasa namanya di panggil, Emi duduk dengan tegang dan menjawab, "Ya!" serunya dengan volume kuat, takut jika Simon tak mendengar suaranya dari bangku belakang mobil.


"Apakah kau ingin bekerja menjadi asistenku? sebagai gantinya kau akan memiliki seorang tour guide untuk menemanimu berkeliling di Taipe," jelas Simon dengan lambat.


"Ok!" seru Emi datar. Wah itu artinya aku bisa jalan jalan wisata kan? pikirnya senang.


"Mengapa kau memintanya menjadi asistenmu? Sejak kapan kau menjadi perhitungan? Meskipun kau tidak mencintainya, perlakukan lah dia dengan baik," celoteh Kent dengan bahasa mandarin kepada Simon.


"Kau tidak tahu itu disebut negosiasi?"


"Hah?"


"Sudahlah, bawa dia bersamamu ke apartemenku."

__ADS_1


"Baiklah, aku tutup teleponnya." Kent menekan tombol mengakhir panggilan telepon di setir mobil dengan jempolnya, dan melirik Emi dari kaca spion.


Emi duduk dengan tenang, tetapi raut wajahnya tampak sedang berpikir serius. Dia sedang menebak-nebak apa yang dibicarakan Simon dengan Kent.


__ADS_2