
Emi menghela napas lega setelah sambung teleponnya dengan Simon terputus. Berharap penipu yang mencoba menipunya berhenti berpikir lagi untuk menipunya.
Belum mendapatkan jawaban tentang Carolina yang tiba-tiba bersikap seolah-olah mereka berteman baik, dia malah harus berurusan dengan penipu asing.
Setelah puas dengan penampilan yang menurutnya stylish, Emi keluar dari kamarnya dan turun ke lantai bawah. Di mana toko roti keluarganya berada di lantai satu.
Aroma panggangan roti masuk ke dalam lubang hidungnya, begitu Emi mulai menginjakkan kakinya di anak tangga.
Toko mereka telah buka pukul 6:30, cukup awal. Ayahnya sendiri yang membuat roti roti mereka. Omar tengah mengadon adonan saat Emi berpamitan dengannya.
"Ayah masih tetap mempertahankan jumlah rotinya?" Emi hanya sebentar berpamitan, tetapi tetap tak bosannya mengingatkan ayahnya.
Masa keemasan mereka telah berakhir, penjualan roti mereka sudah tak sebanyak dulu.
Omar enggan melakukan inovasi dengan tokonya. Hanya ada roti di tokonya. Berbeda dengan Emi yang ingin mengubah toko mereka menjadi sebuah toko yang tak hanya menjual roti.
"Ayah, sekarang bukan lagi zaman dimana orang-orang membeli roti untuk dibawa pulang dan dimakan bersama keluarga menikmati kebersamaan yang sederhana," ucap Emi setelah menghabiskan potongan roti di mulutnya.
"Kau bisa melakukan apa saja di bisnismu sendiri," Omar tetap dengan pendiriannya.
Emi mengambil sakantung roti dan berjalan menuju pintu keluar, "aku akan melakukannya! jika aku memiliki uang," Suara Emi terdengar ironis. Dia memiliki banyak ide dan rencana, tetapi semuanya hanya koleksi di otaknya.
Begitu keluar dari toko, suara bising lalu lalang kenderaan langsung menyambut Emi. Toko roti mereka terletak diantara bangunan perkantoran.
Mereka akan memperoleh uang lebih banyak, jika saja ayahnya setuju dengan ide idenya. Pikiran itu memenuhi otak Emi hingga dia sampai di sebuah halte bus.
Sesampainya di kampus, keadaan tidak jauh berbeda dengan rumahnya. Dia terkucilkan oleh seleksi alam.
Dia memiliki ambisi yang jelas, namanya ada di pengumuman beasiswa kampus setiap tahunnya, tamat tepat waktu hingga bisa dengan cepat meninggalkan kampus itu. Tapi tahun depan dia harus membayar uang kuliah.
****************
Usai kuliah, seperti biasanya Emi langsung bergegas pulang. Bekerja di toko roti. Kali ini perjalanannya dilalui sambil merenungkan biaya kuliahnya untuk satu tahun ke depan. Gajinya yang kecil, dan upah desainnya hanya cukup untuk biaya ojek online ke kampus sehari hari.
Emi mendongakan kepalanya menatap langit yang bersinar terik siang itu.
Dia menghela napas, aku akan bekerja, bekerja apa saja, tekadnya. dia mengepal tangannya, yakin pasti ada jalan keluar untuk pembayaran uang kuliahnya semester depan.
"Emi!" terdengar seseorang memanggilnya dari arah belakang, dan membuatnya menoleh. "Kau mau kemana?" tanya Carolina.
"Pulang, tentu saja."
"Mengapa? ayo ikut pergi main,"
main?
__ADS_1
Sepanjang hidupnya, Emi tidak pernah pergi main bersama teman-temannya. Sepulang sekolah dia harus lekas pulang dan membantu kedua orang tuanya. Ingin rasanya, sekali saja, sekali saja.
"Maaf, tidak bisa, aku harus pulang," tolak Emi tak bersemangat.
Penolakan Emi membuat Carolina dan kedua temannya yang lain menunjukkan raut wajah kecewa.
"Sekali saja," bujuk Marina sembari menunjukkan ketulusannya.
"Berapa jam?" tanya Emi yang mulai tergiur dengan kata ajaib sekali saja.
Berapa jam? pertanyaan apa itu? Carolina bertanya bingung dalam hati.
"Tidak lama, hanya sebentar." Carolina langsung menarik lengan Emi menuju pakiran mobilnya.
Sebentar saja, lagi pula toko sedang sepi. Kedua orangtuanya tidak akan begitu membutuhkannya.
Sebentar saja...
Keempat gadis itu tiba di pakiran basement sebuah hotel.
hotel??
"Ayo masuk," ucap Carolina.
Di depan mereka adalah sebuah pintu kecil yang dijaga oleh seorang petugas pria.
Emi mengerutkan dahinya, "tempat apa ini?"
"Cafe," jawab Anggie singkat dan mendahului temannya masuk ke dalam.
Dahi Emi semakin mengkerut, "Cafe di basement?"
cafe rumah hantu?
Melihat keheranan di wajah Emi, Carolina tertawa kecil menampilkan giginya, "ini pintu belakangnya,"
Oh..
Suasana dalam cafe itu tampak asing bagi Emi, berbeda dengan ketiga teman kampusnya, mereka tampak telah terbiasa dan akrab dengan beberapa pegawai.
"Cafenya berkonsep bar?"
Bahkan mereka menggunakan pewangi ruangan beraroma alkohol. Emi berdecak kagum melihat kesekeliling sembari mengikuti Carolina.
"Tempat ini akan ramai pengunjung di malam hari, kami berencana menambah pelayan," celetuk bartender yang tampak akrab dengan Carolina.
__ADS_1
"Apakah menerima pekerja part time?" celetuk Emi.
"Tentu," jawab bartender itu sedikit ragu. Dirinya menjadi sedikit ragu setelah melihat gadis yang akan dijebaknya ternyata adalah seorang gadis berhijab.
***
Tanpa prosedur yang rumit, Emi resmi bekerja di club itu. Club yang berada di basement dan lantai satu sebuah hotel.
Dia bahkan bisa mengatur sendiri jam kerjanya.
Setelah beberapa hari kemudian, Emi siap mulai hari pertamanya bekerja. Dia telah berpakaian rapi, kemeja putih lengan panjang dipadukan dengan rok hitam panjang.
Wanto memperhatikan Emi yang sedang mengantarkan pesanan konsumen. Wajahnya masam karena Emi tidak mengenakan pakaian seragam pelayan wanita.
Dia menghampiri Emi yang berjalan menuju dapur, "Apa kau pikir sedang interview kerja? baju apa yang kau pakai ini?"
Mendengar celoteh Wanto, Emi melihat kembali dirinya sendiri dari atas hingga bawah. "Pakaian anak training, Pak."
Wanto mengerutkan keningnya, "apakah Vina tidak memberikanmu pakaian kerja?"
"Ada, Pak. Tetapi saya pikir itu bukan ukuran saya. Tidak apa- apa Pak, saya pakai ini saja. Permisi." Emi nyelonong masuk ke dapur untuk mencuci piring dan gelas kotor. dia sedang sibuk bekerja.
Namun saat dia mengambil kotak piring kotor selanjutnya, Vina mencegahnya, dan memerintahkan pegawai lain untuk mengambil alih kotak itu. "Kau antarkan ini ke ruang anggrek," Vina memberikan baki berisi 6 gelas beraneka ragam jus buah.
Emi mengerutkan keningnya, "bukan kah tugas saya mencuci piring?" tanyanya heran.
"Kau sedang masa training, jadi harus melakukan tugas apapun," jawab Vina.
"Oh ok,"
Mau tak mau, Emi mengantarkan pesanan minuman itu.
Ada 4 orang pria dan Carolina di ruangan itu. Dengan pelan dan penuh kehati-hatian Emi meletakkan satu persatu gelas jus itu di atas meja. Dia takut berbuat kesalahan di hari pertamanya bekerja.
"Hai Emi," sapa Carolina dan dibalas dengan senyum oleh Emi. "Duduk lah sebentar disini."
"Terima kasih, tetapi saya harus kembali bekerja," tolak Emi halus.
"Apakah dia teman kuliahmu?" tanya salah satu dari pria itu kepada Carolina.
"Ya," Carolina menarik lengan Emi dan membawa gadis itu duduk di sebelahnya. "Lihatlah aku bahkan sudah memesan minuman untukmu." Carolina memindahkan salah satu gelas ke hadapan Emi.
Emi menghela napas, "baiklah, aku akan meminumnya. Setelah ini aku harus pergi," ucapannya dan kemudian meneguk jus mangga itu tanpa curiga jika minumannya telah diberi sesuatu.
Demi menjaga kesopanan, Emi menghabiskan jus mangganya. Meski dia merasa ada yang aneh dengan jusnya, tetapi dia tidak berpikir untuk mencurigai sesuatu.
__ADS_1
Carolina telah mencampurkan alkohol dan obat tidur ke dalam minuman Emi.
"Aku tidak tahu mengapa orang itu ingin menghancurkanmu. Yang kutahu dia akan membayarku setelah ini. Jika bukan aku yang melakukan ini, maka orang lain yang akan melakukannya, bukan?" gumam Carolina melihat Emi yang hampir kehilangan kesadarannya.