Sebatas Nikah Di KUA

Sebatas Nikah Di KUA
If My Spouse Dies


__ADS_3

"Maaf, saya benar benar minta maaf," ucap Emi dengan nada tulus. "Saya pikir Anda adalah seorang penculik."


Pria asing itu segera bangkit berdiri, "tidak apa apa, siapa saja akan mengira seperti itu." Pria itu menatap Joe.


"Ayo, Joe." Pria itu kembali memanggil putranya.


Ayah dan anak itu pun berjalan menuju unit kediaman mereka, diikuti oleh Emi. Mereka menuju arah yang sama.


"Nona, apakah kau masih mencurigaiku?" tanya pria itu kepada Emi yang berjalan mengikutinya.


"Ah tidak tidak, aku tinggal di sini." Emi menunjukan pintu rumah Simon.


"Kau tinggal di sana?" Pria itu bertanya heran. Mereka tidak pernah berpapasan meskipun tinggal di lantai yang sama.


Emi menganggu yakin, "Ya,"


"Joe juga ditinggal di sini," Joe menunjuk pintu rumahnya.


"Oh ya?" Emi berjongkok dan mensejajarkan kepalanya dengan kepala Joe. "Kalau begitu kita bisa bermain bersama kapan kapan?"


"Tentu!" jawab Joe bersemangat.


Emi bangkit berdiri, dia juga harus segera masuk. "Saya masuk duluan, selamat pagi," sapa Emi kepada pria asing itu.


"Joe, sampai ketemu lagi," sapa Emi tersenyum dengan nada bersahabat kepada Joe, dan bergegas masuk ke dalam rumah Simon.


Senyum Emi menghilang begitu masuk ke dalam mendapati Simon berdiri di depannya.


"Mengapa kau lama sekali?" tanya Simon menyambut Emi.


"Oh, itu," Emi menunjuk pintu di belakangnya yang telah tertutup sempurna. "Tadi ada anak kecil yang terjatuh."


"lalu kau membantunya?"

__ADS_1


Sebuah alasan klasik. Pikir Simon.


"Tidak, ayahnya tiba tiba datang," jawab Emi datar.


"Berbicara dengan seorang pria tampaknya menyenangkan bagimu," sindir Simon sinis.


Mengabaikan Simon, Emi berjalan menuju dapur melewati pria itu. Dia ingat dengan Sandwichnya tadi pagi. Dan harus membereskannya.


Namun, sudah tidak ada apa apa di atas meja makan. Apa dia sudah membersihkannya?


Emi melirik Simon yang juga melirik ke arahnya.


"Aku sudah membuangnya," Simon menjawab apa yang di cari Emi di meja makan.


"Oh," Emi mengangguk dan kembali menatap Simon. "Ayo kita mulai pelajarannya!" tegas Emi bersemangat.


Simon tersenyum melihat semangat Emi, "Ok!"


Saat ingin melupakan cinta yang lama, kau harus mencari cinta yang baru. Simon berencana untuk menghabiskan waktunya lebih banyak bersama dengan Emi agar bisa sepenuhnya menghilangkan perasaannya kepada Ruiqi. Namun, dia tidak berniat untuk mencintai Emi. Gadis itu benar-benar bukan tipenya.


"Ok, sepertinya akan sulit," ucap Simon.


Sebenarnya dia tidak membutuhkan Emi jika dia ingin belajar. Dia hanya ingin membuat Emi ada pekerjaan selama tinggal bersamanya.


Emi mengambil Mushafnya dari kamarnya, "Di mana kita akan melakukan pembelajarannya?" tanyanya kemudian kepada Simon.


"Di ruang kerjaku," Simon menunjuk ruang kerjanya.


Emi membuka mushafnya begitu mereka duduk dengan nyaman di depan meja kerja Simon yang cukup lebar. "Surat pertama adalah Al Fatihah."


"Ini pertama kalinya aku melihatnya secara langsung. Emi, mengapa muslim membaca Quran, padahal mereka tidak tahu apa yang mereka baca? apakah kau mengerti bahasa arab?" tanya Simon.


Emi menggeleng, "Tidak,"

__ADS_1


"Lalu? Mengapa tidak membaca Quran yang berbahasa Inggris saja? Begitu juga sholat? Itu lebih mudah,"


"Kau bisa mempelajari terjemahan Al Quran, bahkan tidak semua orang arab mengerti bahasa Quran seluruhnya, mereka juga butuh tafsir."


"Tafsir?"


"Itu terjemahan, penjelasan. Lihat, membaca Quran itu baik. Kau akan tahu nanti setelah membacanya, merasakan sesuatu yang berbeda dengan arti hidupmu." Emi berusaha menjelaskan dengan baik pertanyaan Simon.


Aku hanya seorang mahasiswa jurusan bisnis, bukan mahasiswa pendidikan agama islam. Keluh Emi dalam hati.


"Rasulullah melakukan sholat dengan bahasa arab. Ketika kau mencintai seseorang, kau akan mengikuti apa yang dia lakukan, benar kan?"


Simon mengangguk mencoba mengerti, seperti dia yang mencintai Chu Ruiqi.


"Ya, aku akan melakukan apa saja jika orang yang kucinta juga mencintaiku."


Emi menatap bosan Simon, mengapa muridnya terlalu banyak protes. Jika dia menjawab tentu saja Rasullulah mencintai kita, mungkin Simon akan bertanya lagi.


"Tuan Simon, berhentilah mencari cari yang lebih mudah! Islam sudah memberikan banyak kemudahan untuk bisa melaksanakan sholat. Atau kau ingin langsung disholatkan saja? Itu lebih mudah."


"Oh, jika itu lebih mudah. Aku ingin disholatkan saja," ucap Simon dengan santai.


Emi tertawa kecil mendengar jawaban Simon, "Kalau begitu kau harus mati dulu, agar bisa di sholatkan."


"Emi, itu sedikit agak menyeramkan. Jika aku mati, maka kau akan menjadi janda,"


"Lalu aku akan menjadi janda kaya, ha.ha.ha,"


"Dan kau akan menikah dengan pria yang lebih muda darimu," tawa Simon.


"Itu ide bagus," tawa Emi.


"Maaf," Tawa Emi terhenti ketika melihat Simon yang berhenti tertawa. "Kita mulai saja belajar," usul Emi sembari mengambil kertas dan pensil untuk menuliskan huruf huruf arab beserta tanda baca.

__ADS_1


"Iya," Simon memperhatikan apa yang dituliskan oleh Emi.


"


__ADS_2