Sebatas Nikah Di KUA

Sebatas Nikah Di KUA
husband is straight or maybe not


__ADS_3

Liu Guo Wei berpikir tidak akan mati dengan tenang jika Simon, cucu lelaki satu satunya yang dimilikinya tidak segera menikah dengan dengan seorang wanita.


Kakek tua itu tidak memiliki pilihan lain selain menikahkan cucunya itu dengan seorang gadis biasa, daripada menjalin hubungan dengan sesama pria.


Sebagai penggemar aktor Simon Liu, Gue Wei tidak pernah mendengar berita tentang hubungan asmara Simon dengan seorang wanita. Justru cucunya itu selalu bersama dengan pria bernama Wu Zhang Wei.


Saat bola matanya yang sudah tak lagi seterang dulu melihat Simon mencium gadis itu, dia yakin bahwa telah mengambil keputusan yang benar.


"Mendekatlah," katanya kepada Emi yang terlihat bingung.


Gadis itu berjalan mendekati kakek tua yang sedang duduk di kursi roda.


"Hallo kakek," sapa Emi.


"Kudengar kau hanya sebulan di sini,"


Emi mengangguk membenarkan perkataan Gue Wei, "Benar, aku masih seorang pelajar. Semester baru akan dimulai bulan depan."


"Jadi, dalam sebulan ini kau harus sudah mengandung cicitku," tegas Gue Wei.


Bola mata Emi membulat kaget, dia ingin menghabiskan waktu bebas kuliahnya dengan liburan, bukan ingin menjadi seorang ibu. Lagipula kami tidak benar benar suami istri, batin Emi.


"Kakek, kami akan melakukan yang terbaik," ucap Emi. Dia berpikir itu adalah kalimat yang dapat menyenangkan hati kakek Simon.


Gue Wei menghela napas, "Menikahkan kalian juga adalah hal yang terbaik yang bisa kulakukan. Aku memercayakan Simon kepadamu. Aku yakin kau bisa membuat cucuku menjadi lurus,"


Emi memaksakan senyumnya, dia tidak mengerti apa maksud dari ucapan Gue Wei. "Maaf kakek, aku tidak mengerti maksud kakek."


Gue Wei mengambil tangan Emi, dan menggenggamnya. "Jangan menyerah dengannya, kau harus membuatnya menghamilimu."


Emi menerjemahkan ucapan Gue Wei dan mencoba mencernanya. Dia menelan ludah begitu pikirannya memberitahunya jika yang dibicarakan kakek Simon adalah pembicaraan orang dewasa.


Gadis itu menggelengkan kepalanya untuk mengusir pemikiran orang dewasa. Bagi Emi seorang pelajar sepertinya tidak boleh memikirkan hal-hal yang dilakukan oleh orang dewasa.


tok tok!

__ADS_1


Emi dan Gue Wei melihat kearah pintu masuk ruangan begitu mendengar suara ketukan pintu.


Simon si pelaku pengetuk pintu membuka pintu itu tanpa menunggu jawaban dari dalam. "Apakah kakek sudah selesai dengan istriku? ada yang harus kami berdua lakukan di kamar," katanya sembari tersenyum, dia menggunakan bahasa Mandarin.


Gue Wei melepaskan tangan Emi dan berdehem. "Pergilah,"


Simon segera masuk dan menarik Emi keluar, "Ayo,"


Simom membawa Emi menuju ke sebuah kamar, tanpa canggung Simon membuka pintu kamar itu seperti kamar sendiri.


"Kamar siapa ini?" tanya Emi mengikuti Simon masuk ke dalam kamar itu.


"Kamarku," jawab Simon sembari melihat kondisi terkini kamarnya. Dia mengerutkan keningnya karena merasa seperti ada yang berubah dengan kamarnya, tetapi tidak tahu apa itu.


"Terima Kasih," ucap Emi tiba-tiba.


"Untuk apa?"


"Kau membawaku karena memikirkan diriku yang harus melakukan sholat, kan?" tebak Emi.


Dia tersenyum, "Ya, kau benar." jawab Simon.


Emi mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar Simon, "apakah itu kamar mandinya?" tunjuknya pada sebuah pintu.


"Hmm," Simon membenarkan tebakan Emi.


Gadis itu bergegas pergi masuk ke ruangan dibalik pintu itu, dan berwudhu di sana.


"Giliranmu untuk melakukan wudhu. Cepatlah," kata Emi kepada Simon yang terbaring di atas tempat tidur, begitu gadis itu keluar dari kamar mandi.


Apakah dia tidur? Pikir Emi karena Simon tak menganggapi perkataannya.


Simon masih tetap berbaring dengan tenang di atas tempat tidur.


Dengan tangan yang masih basah, Emi menghampiri Simon yang berbaring dengan matanya yang tertutup.

__ADS_1


"Hey, apa kau tidur?" Emi memercikkan sisa air di tangannya ke wajah Simon.


Simon langsung membuka matanya, "Aku tidak tidur," katanya datar, dan bangkit dengan tenang menuju kamar mandi.


"Ada apa dengannya?" gumam Emi bingung melihat Simon yang tiba-tiba menjadi datar. "Apakah dia tidak suka aku memintanya untuk sholat? Ya sudahlah nanti aku akan mengingatkannya lagi untuk sholat," Dengan kesal Emi mengeluarkan mukena dari dalam tasnya, dan segera sholat.


Emi tidak langsung beranjak dari sajadahnya begitu selesai sholat, dzikir, dan doa. Dia malah bertafakur apakah kembali pulang ke Indonesia setelah Simon bisa melakukan sholat atau langsung pulang saja sebelum yang punya rumah mulai bosan. Sebulan adalah waktu yang lama untuk ukuran seorang tamu.


"Emi Talenta, apakah kau masih hidup?"


Pertanyaan aneh itu tiba-tiba terdengar dari arah belakang Emi, menginterupsi pikirannya.


"Oh, iya," Emi beranjak dari duduknya.


"Maaf, mengganggumu. Karena kupikir kau terlalu lama duduk seperti itu," ucap Simon.


"Oh, maaf maaf, aku sedang berpikir,"


"Bersiaplah kita akan segera kembali ke Taipei setelah makan malam."


"Eh? apakah tidak apa apa untukmu berkendara sejauh itu? kita tidak jadi tinggal di sini satu malam?" tanya Emi kaget.


"Lalu, apakah kau ingin tidur satu ranjang denganku?" Simon menaikan sebelah sudut bibirnya. "Aku akan dengan senang hati berbagi tempat tidur denganmu," ucap Simon. Bercanda dengan Emi sedikit menyenangkan baginya.


Emi dengan cepat memasukan mukenah, dan sajadahnya ke dalam tas. "Ayo kita pulang!"


Saat hendak mencapai pintu keluar kamar, Emi berhenti. "Kau sudah sholat?" tanyanya kepada Simon mencoba mengingatkan.


"Ya, seperti yang kau katakan, aku melakukan dua sholat dalam satu waktu," jawab Simon.


Emi mengerutkan keningnya, "Bagaimana kau melakukannya?"


Semon mengetuk earphone yang masih terpasang di telinganya, dan menunjukkan layar gawainya yang menampilkan praktek sholat kepada Emi, "Dengan meletakkan ini di depanku."


Emi menepuk kedua tangannya dan menatap takjub ke arah Simon. "Wow,"

__ADS_1


Simon kembali menyimpan gawainya, "Ayo, mereka sudah menunggu kita di ruang makan."


__ADS_2