Sebatas Nikah Di KUA

Sebatas Nikah Di KUA
Weak people revenge


__ADS_3

Keesokan paginya, di kediaman Simon, Kent tampak berkerja dengan serius di meja kerja Simon.


"Apakah kau yakin tidak akan mengajukan perubahan jadwal syuting Take Me to The Mars?" Kent bertanya kepada Simon yang terlihat berpikir serius memandang salah satu sudut rumahnya.


"Hmm..."


Namun lamunannya tidak berlangsung lama, karena gawainya berbunyi nyaring.


"Hallo," dia menjawab panggil ayahnya.


"Kakek ingin kau akan sudah menikah sebelum musim dingin," tegas Liu Ming-Way


Simon tersenyum samar, "Jangan khawatir kami akan menikah secepatnya. Dan Ayah juga sebaiknya sudah mulai mempersiapkan akuisisi random productions."


"Kau akan mendapatkannya. Jangan membuatku kecewa." Ming Way memutuskan sambungan teleponnya.


Belum sempat Simon meletakkan gawainya, Benda pipih itu kembali berdering.


"Ada apa?" Simon menjawab teleponnya dengan nada tak bersahabat.


"Apakah kau benar tidak bisa datang?" Terdengar suara seorang pria dari ujung sana. Ada rasa kekhawatiran di suaranya.


Simon dengan santai menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, "ya, kau kan direkturnya. Lakukan tugasmu dengan baik."


"Kau selalu seenaknya ya, tapi setidaknya kali ini kau harus bertemu dengan Chu Ruiqi. Bagaimana jika dia tidak jadi bergabung dengan agensi kita setelah kontrak dengan agensinya berakhir?"


"Kalau begitu, biarkan saja." Simon menjawab kekhawatiran pria di ujung sana dengan santai, dan dengan tanpa perasaan dia memutuskan sambungan teleponnya.


Dia seperti tidak peduli dengan kerja keras Wu zhang Wei, direktur operasional perusahaan yang mereka bangun bersama, meminta Chu Ruiqi untuk bergabung dengan agensi mereka, karena saat ini Chu Ruiqi adalah wanita yang ingin dia hindari.


Simon menyimpan gawainya dan beralih melihat ke arah Kent yang tengah sibuk mengatur jadwalnya. "Apakah kau sudah menjadwalkan kapan aku akan menikah?"


"Aku hanya bisa memberimu libur tiga hari... bulan depan."


"Tuan Chen,"


"Ya,"

__ADS_1


"Apakah kau yakin sudah bekerja dengan professional?"


"Tentu,"


"Kau harus menjadwalkan hari pernikahanku minggu depan,"


"Tidak bisa," tegas Kent.


Simon mengepal tangannya menahan kesal. Mengapa manajernya selalu membantahnya, tetapi dia juga tidak bisa mengganti Kent. Karena mereka berteman.


***


Sementara gadis yang juga membuatnya kesal sedang berjalan dengan lesu di trotoar jalan area kampusnya. Jalan itu masih basah dan memiliki beberapa genangan air, akibat hujan semalaman. Cuaca sepertinya juga tidak mendukung gadis malang itu sejak subuh tadi.


Satu tahun lagi, bertahanlah Emi. Kau bisa melewatinya dengan baik. bisik Emi menyemangati dirinya sendiri.


Gadis itu tersenyum melangkahkan kakinya dengan penuh semangat. Dia siap untuk presentasi tugas pagi itu.


Crass!!


cipratan genangan air jalan mengenai Emi. Sebuah mobil baru saja melewatinya dengan kecepatan yang tidak ngotak.


Ah, tidak ada waktu untuk mengeluh. Emi mengabaikan rok hitamnya yang basah dan kotor. Dia melanjutkan perjalanan dengan setengah berlari menuju gedung kuliahnya.


Dengan pakaian yang sedikit lembab dan ditambah hembusan udara dingin yang keluar dari AC ruangan, tubuh kecil gadis itu semakin kedinginan. Tetapi dia harus tetap menyelesaikan presentasi tugasnya di depan kelas.


"Jika tidak nyaman, kau bisa pulang untuk mengganti pakaianmu. Sedia payung sebelum hujan itu bukan hanya sekedar pribahasa, kau harus selalu membawa payung," ucap dosen wanita yang berusia hampir setengah abad itu, saat Emi berjalan ke depan kelas.


"Saya baik- baik saja, Bu." Emi lanjut menghubungkan laptopnya dengan proyektor. Dia siap mempresentasikan tugas mini risetnya.


Dia berhasil menjawab pertanyaan teman sekelasnya dengan percaya diri. Tidak ada komentar buruk yang dia terima dari dosen berkacamata itu, sebaliknya dosen itu merespon jawabannya dengan positif.


Kelas pagi itu ditutup oleh presentasi kelompok 5. Sebelumnya Emi satu kelompok dengan Carolina, tetapi mendadak Carolina mengeluarkan namanya dari kelompok.


Setelah 100 menit diterpa hembusan udara pendingin ruangan, pakaian yang dikenakannya masih tetap saja basah. Mungkin hembusan angin yang lebih kuat akan membantu, keluhnya dalam hati.


Dia memiliki waktu 30 menit sebelum kelas berikutnya. Emi berpikir rooftop gedung kuliahnya adalah tempat yang tepat untuk menghabiskan waktu 30 menitnya.

__ADS_1


Di lantai paling atas, ada sebuah tangga menuju rooftop. Sebuah pintu besi di ujung tangga itu.


Rooftop itu membentang luas. Emi berdiri di sana seorang diri dengan bertemankan suara saluran pembuangan udara gedung.


Dia terlihat menikmati waktunya bersama hembusan angin. Namun ketenangan itu tidak berlangsung lama. Suara pintu besi satu satunya akses menuju rooftop yang tiba tiba tertutup, dan mengejutkan Emi.


Anginnya begitu kencang ternyata, pikirnya sembari berjalan untuk membuka pintu itu kembali.


Pintu itu tertutup kokoh saat Emi mencoba menarik pegangannya, seakan ada yang menahannya dari balik sana.


Apa ini? Sekuat apapun Emi menarik pintu itu agar terbuka, pintu besi itu tetap bergeming diposisinya.


Rasa panik mulai menggerayangi Emi. Bagaimana ini? Hantu? Atau manusia?


Di tengah keputusasaannya, gadis itu tiba-tiba teringat dengan Hanna. Seseorang yang mungkin dapat menyelamatkannya.


Dan kali itu dugaannya benar, Hanna langsung datang ke gedung itu.


"Ayo! Aku jadi terlambat masuk kelas gara garamu," ucap Hanna begitu melihat Emi berdiri dengan wajah pucat saat dia membuka pintu besi itu. Tanpa menunggu Emi, dia segera menuruni tangga kembali. Dia juga harus kelas.


"Maaf," lirih Emi setengah berlari mengikuti Hanna.


Pelarian mereka terhenti di depan pintu lift. Emi hanya perlu turun ke lantai 4, sementara Hanna harus keluar dari gedung itu dan menuju gedung lain.


"Mengapa kau ada di atas sana? sepertinya, orang yang mengunci pintu itu tidak tahu ada orang di luar. Untung saja kau memiliki teman sepertiku," ucap Hanna tanpa menoleh ke arah Emi. Dia fokus melihat nomor lantai di atas pintu lift.


"Menjemur bajuku," lirih Emi.


Hanna melirik sekilas pakaian Emi yang sudah tidak terlihat begitu basah. "Sudahlah, lain kali kau harus hati hati," celoteh Hanna sembari masuk ke dalam lift yang sudah terbuka lebar.


"Terima kasih, sudah mau menolongku,"


"Tidak masalah, kita kan teman. Jika kau jadi aku, kau juga akan menolongku kan?" Hanna menatap Emi dengan serius.


"Ya, tentu," ucap Emi yakin.


Ting!

__ADS_1


Pintu lift yang terbuka di lantai 4 memisahkan mereka.


__ADS_2