Sebatas Nikah Di KUA

Sebatas Nikah Di KUA
The Stranger


__ADS_3

Emi tidak berpikir panjang saat mengatakan 'Ok'. Dia pikir pria asing yang baru saja dikenalnya itu hanya bercanda. Namun, uang dengan jumlah yang tidak sedikit benar benar masuk ke rekeningnya setelah dia memberitahukan nomor rekeningnya.


Banyak hal yang menjanggal bagi Emi,


mengapa kakek Simon ingin mereka menikah? bukankah sulit bagi orang kaya menerima orang biasa yang tidak memiliki apa- apa menjadi bagian dari keluarga mereka?


Dan yang paling penting, mengapa Simon Liu bersedia menikah denganku?


Gadis itu memasang wajah cerah menuju rumahnya yang sekaligus toko roti itu, dia meyakinkan dirinya bahwa semua akan baik- baik saja. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan tentang menikah. Bukan kah ayahnya juga menginginkannya cepat menikah? untuk mengurangi beban keluarga.


Di toko roti Omar, terlihat dua orang sedang melihat- lihat isi dalam toko yang sepi pembeli itu. Meraka tidak tampak ingin membeli roti, karena mereka adalah calon pembeli toko milik Omar.


Kedua orang itu pamit pergi bersamaan dengan kedatangan Emi. Sebelum melangkah keluar pintu, mereka menyempatkan diri melemparkan senyum simpul kepada Emi.


"Ayah, Ibu, siapa mereka?" tanya Emi sembari berjalan menghampiri ayah dan ibunya.


Arum, ibunya Emi menghela napas panjang. Ada guratan kekhawatiran di wajahnya. "Mereka orang yang akan membeli toko kita ini."


Sontak Emi terkejut mendengar pernyataan ibunya yang tak pernah dia dengar sebelumnya. Mereka tidak pernah membicarakan akan menjual toko sekaligus tempat tinggal mereka itu.


"Toko ini mau dijual?" Emi membulatkan matanya.


Pertanyaannya dijawab dengan anggukan oleh kedua orang tuanya.


Emi memiringkan kepalanya sedikit, menatap heran kedua orang tuanya. "Apakah Ayah berencana ingin membuka toko di tempat lain, yang lokasinya lebih menjanjikan untuk jualan roti?"


"Ayahmu berencana mencari pekerjaan lain," jawab Arum. Nada suaranya terdengar tak bersemangat.

__ADS_1


"Tidak, tidak." Emi menggelengkan kepalanya, dia sangat tidak setuju dengan ide menjual rumah kebanggaan mereka. "Ibu, kita bisa membuat bisnis lain dengan toko ini. Jangan menjualnya." Emi memegang tangan ibunya. Berharap ibunya mendengarkannya.


Omar mengusap mesin kasir seperti tak ingin memindahkan mesin itu dari sana. Dia menatap langit langit toko. Napasnya berat. "Kita tidak punya pilihan lain, selain menjual toko ini sebelum disita oleh bank."


"Di si ta?" Suara Emi tercekat. Mengapa bank akan menyita tempat tinggal mereka?


"Agar bisnis roti ini tetap berjalan, ayahmu mengambil pinjaman di Bank." Arum menjawab keheranan Emi.


Emi memegang etalase untuk menopang badannya yang sedikit kehilangan keseimbangan karena kakinya terasa lemas. Masalah yang dihadapinya di rumah lebih berat dari masalah yang dihadapinya di kampus.


Apa yang harus dilakukannya? mencari pekerjaan tambahan baru? tapi di mana?


Saat sedang berpikir keras, gawainya berdering.


"Hallo?" Emi menjawab panggilan Simon dengan nada malas.


"Ini aku. Dengar, kakekku sedang dalam perjalanan menemuimu."


Kakeknya sudah tiba di sini?


"Apa yang harus aku lakukan?" tanya Emi tanpa mengalihkan pandangannya dari seorang pria berusia lanjut yang sudah menginjakan kaki di dalam toko mereka.


"Tidak ada. Jangan melakukan apa pun!"


"Begitu, mengapa?"


"Karena aku tahu kualitas aktingmu pasti buruk."

__ADS_1


Emi menjauhkan gawainya dari telinga, dan menatap layar gawai itu. dia ingin melihat orang yang baru saja menyepelekannya, tetapi hanya layar hitam.


Pria yang kepalanya dipenuhi rambut warna putih itu berjalan mendekati Emi, "maaf, apakah ada roti isi kacang hitam?" tanyanya dengan menggunakan bahasa Indonesia.


Sesuai instruksi, Emi hanya berdiri diam tak menjawab. Meskipun pria itu mengulang kembali pertanyaannya, Emi tetap bergeming.


Sebuah tangan menepuk pundak Emi dengan kuat. "Mengapa kau diam saja!" ayah dengan senyum merekah menghampiri calon pembeli roti mereka, dan melayani pria itu dengan baik.


Emi yang menyadari dirinya salah fokus, terus meminta maaf berulang kali kepada pelanggan mereka hingga pelanggan itu menjadi tak enak hati dan akhirnya membeli banyak roti.


Selepas kepergian pelanggan itu, wajah cerah Emi dan kedua orang tuanya kembali suram. Tak lama lagi mereka akan meninggalkan rumah yang telah menjadi tempat tinggal mereka selama kurang lebih 20 tahun.


"Ayah, Ibu." Emi melihat wajah kedua orang tuanya bergantian. "Tolong jangan menjual toko ini. Pasti ada jalan keluar lain untuk membayar hutang."


Omar menatap putrinya dengan penuh kecewa, "Semua ini karena kau. Jika waktu itu kau mau menikah dengan tuan Takur. Semua hutang kita akan lunas."


Emi berjalan mundur. Ayahnya lagi lagi mengungkit masalah itu di setiap topik yang menyangkut uang. Jika sudah begitu, dia tak memiliki pilihan lain selain pergi, dari pada bertengkar.


Karena tidak fokus saat berjalan pergi meninggalkan toko, tanpa sengaja Emi menabrak pria bertubuh kaku. Seperti tertabrak tembok beton, Emi terjatuh dan merasakan sakit di bahunya.


"Nona Emi Talenta?" Suara pria itu terdengar berat.


Emi mendongak menatap wajah pria yang baru saja ditabraknya itu menyebut namanya.


Dengan gerakan kepala pria itu memberi komando kepada pria lain yang berdiri tak jauh dari mereka untuk menangkap Emi dan membawanya masuk ke dalam mobil hitam yang terpakir di depan toko roti Omar.


"Siapa kalian?" Emi mencoba memberikan perlawanan, tetapi dalam sekejap dirinya sudah duduk di dalam mobil dan diapit dua orang pria berbadan besar, bertampang sangar dan dingin. Nyali gadis itu menciut.

__ADS_1


Sementara itu di dalam toko, Arum menyadari ada yang menculik putrinya. "Ayah! putri kita diculik!" teriaknya panik dan bergegas keluar.


Namun sayang, mobil yang membawa putri mereka sudah terlanjur menghilang


__ADS_2