
"Nona Emi Talenta, sampai ketemu lagi." kata Kent kepada Emi setelah mengantarkan Emi ke depan pintu apartemen Simon. Dia harus pergi untuk menikmati hari liburnya yang hanya tersisa setengah hari itu.
"Terima kasih, sampai ketemu lagi Tuan Kent," balas Emi bersikap sopan.
Simon membuka pintu unit apartemennya dengan senyum menyambut kedatangan Emi dan Kent. Dia seperti menerima sebuah paket yang berisi mainan baru.
"Masuk lah," ucap Simon setelah Kent menghilang dari pandangan mereka.
Emi masuk melewati Simon dengan ragu, jantungnya berdecak kagum saat melihat Ke dalam rumah Simon yang begitu luas di dalamnya.
Tempat tinggalnya sangat luas batin Emi kagum dengan mata berbinar melihat setiap sudut ruangan. Sebuah televisi berukuran besar berada di tengah ruangan menarik perhatiannya. Sofanya keren, busanya pasti empuk. pikirnya.
"Kita hanya akan tinggal berdua di sini. Buatlah dirimu nyaman seperti rumah sendiri," Simon mengarahkan Emi melakukan tour di kediamannya.
"Di mana kamarku?" tanya Emi dengan sopan. Dia tak sabar ingin meletakkan barang barangnya.
Simon tersenyum samar, "kamarmu?" tanyanya berpura-pura sedang memikirkan sesuatu. "Aku tidak menyiapkan kamar untukmu. Kita akan menggunakan satu kamar yang sama."
__ADS_1
Simon memperhatikan Emi. Menunggu reaksi Emi. Gadis penuh semangat dengan energi tak terbatas yang dia kenal.
"Oh," Emi menanggapinya dengan santai.
Oh?dia hanya bilang 'Oh'? batin Simon.
"Jika kau takut, kau bisa tidur di sana," Simon menunjuk sofa di depan mereka.
"Tidak apa- apa, aku bisa tidur di kamar yang sama denganmu," ucap Emi dengan ekspresi datar. "Jika aku takut kepadamu, aku tidak akan mengikuti Tuan Kent hingga ke sini."
Simon memperhatikan Emi, mengingat tubuh kecil itu mampu untuk membantingnya waktu itu. Bukankah yang seharusnya takut itu aku? batinnya mengingatkan dirinya sendiri.
Simon berjalan mendekati Emi, "Apakah kau pikir kita hanya akan tidur saja?" Simon memperhatikan tubuh Emi yang terlihat lebih kurus dibandingkan waktu itu.
Apakah dia sedang diet?
"Tentu saja tidak, aku juga akan membersihkan kamarmu," jawab Emi dengan sopan. Tentu saja dia tidak ingin dianggap sebagai penumpang yang suka bermalas-malasan.
__ADS_1
Simon tersenyum samar. Batinnya tertawa, Ini salahku menikahi seorang anak kecil, pantas saja dia sangat tenang.
"Emi Talenta, kita berdua tidak hanya tidur di ranjang yang sama, tetapi juga melakukan hubungan suami istri," jelas Simon dengan lugas.
Mendengar perkataan Simon membuat Emi menelan ludah, dia bilang apa? $ex?
"Tunggu, bukan kah hubungan kita bukan hubungan yang seperti itu? Ini hanya untuk surat nikah, seperti yang kau bilang sebelumnya," ucap Emi mencoba mengingatkan Simon.
Simon tersenyum, melihat reaksi Emi membuatnya ingin terus bermain dengan mainan barunya.
"Aku tidak bilang jika tidak ada hubungan suami istri setelah kita menikah,"
"Iya ya, tidak ada ya," gumam Emi seraya berjalan mundur menjauhi Simon, dengan raut wajah sedikit takut dia berkata, "kalau begitu, aku akan kembali ke hotel, dan kembali ke Indonesia besok. Atau ke Vietnam saja," lirih Emi.
Melihat Emi yang menjadi suram, Simon mengakhiri candaannya. "Aku hanya bercanda. Ayo ke kamarmu!" dia menggiring Emi menuju ke sebuah kamar.
Emi bernapas lega mendengar Simon hanya bercanda. Tetapi dia harus tetap waspada
__ADS_1