Sebatas Nikah Di KUA

Sebatas Nikah Di KUA
Impurity and Wudhu


__ADS_3

Setelah terlalu banyak bicara dengan Simon hingga pukul dua dini hari, Emi tidak bisa tidur setelahnya.


Matanya sayu menahan kantuk setelah sholat shubuh.


"Tidak! Tidak boleh tidur lagi, harus membuat sarapan. Hidup menumpang di tempat orang nggak boleh bermalas malasan!" gumam Emi memberi semangat dirinya sendiri.


Dengan memaksakan dirinya, dia keluar dari kamarnya. Langkah kakinya terhenti di depan dapur.


Simon berdiri di sana, dengan kaos tanpa lengan. Bulir keringat mengalir di lengan kokohnya.


"Astaghfirullah," gumamnya dan segera berpaling. Kenapa dia ada di situ?


Mendengar ada seseorang, Simon berhenti minum dan melihat ke arah Emi, "Kau bangun pagi?" tanyanya santai, sesantai pakaiannya.


"Ya, selalu bangun pada jam segini," Emi berjalan menuju kulkas tanpa melihat ke arah Simon yang masih berdiri di dapur.


Simon meletakkan botol minumannya di meja dapur, matanya mengikuti pergerakan Emi yang sedang mengeluarkan bahan-bahan untuk di masak dari kulkas.


"Ah ya, kau sholat saat fajar, aku tahu itu."


"Apakah kau bangun untuk sholat?" Emi meletakkan kembali ke dalam kulkas sayur yang diambilnya, dan melihat takjub ke arah Simon.


"Tidak, aku olahraga."


Emi mengambil kembali sayur yang tadi, dan menutup pintu kulkas.


"Jika kau tahu tentang sholat, mengapa kau tidak melakukannya?" tanya Emi seraya mencuci sayur di wastafel, tanpa melihat Simon.


"Emi Talenta, aku mengikutimu, percaya apa yang menjadi kepercayaanmu, aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utasan Allah. Itu cukup, dan aku menghormatimu."


"Tidak, itu tidak cukup. Bagaimana kau yakin dengan islam, jika kau tidak memiliki hubungan dengan Allah?" Emi mengambil ayam dan memindahkannya dalam mangkok.


"Apa?" Simon mengerutkan kedua alisnya. Sedikit bingung dengan pertanyaan Emi.

__ADS_1


"Bukankah itu sombong? Kamu percaya Allah ada, tetapi kau tidak berdoa kepada Allah. Lima kali sehari."


".... "


"Ya, kau memiliki segalanya sekarang. Apakah kau pernah kesulitan? Atau sendirian, tidak ada seseorang di sampingmu? Frustrasi hingga ingin mengakhiri hidupmu."


"Hey, Emi. Itu menyeramkan ketika kau mengatakan mengakhiri hidup."


Simon melipat kedua tangannya dan menyandarkan bokongnya ke pinggir meja dapur, memperhatikan Emi bicara.


"Oh, ya maaf. Ya intinya adalah seorang muslim harus sholat. Itu seperti untuk bisa hidup kau butuh oksigen."


Heran, padahal kemarin sudah dijelaskan rukun islam sama ustadz, masuk kuping kiri keluar kuping kanan kali ya? gerutu Emi dalam hati. Mengingat sebelum masuk islam, Simon sudah mendapatkan bimbingan singkat.


"Emi, berhentilah mengirim link video kepadaku," ucap Simon tanpa emosi.


Perkataan Simon membuat Emi terkejut, dia tidak menyukainya ya selama ini, apakah dia berpura-pura masuk islam?


"Mulai sekarang..," Simon menjeda kalimatnya


karena Emi menampilkan raut wajah murung. "Kau yang harus mengajariku tentang apa yang harus aku lakukan. Aku lebih suka seseorang mengajariku secara langsung." lanjutnya.


"Oh, kalau begitu kau butuh seorang ustadz." Emi kembali ceria hingga melupakan ayamnya.


Simon tersenyum penuh arti, "Tidak, kau yang harus bertanggung jawab menjadi guruku."


Mengapa aku? Aku bukan ahli agama. Pikir Emi


Kau benar, tidak ada seseorang disampingku. Meskipun bukan kau wanita yang kuharapkan keberadaannya di rumahku, ternyata kau cukup menarik. Pikir Simon.


"Hmm... Ok, pertama sholat, ini belum terlambat untuk sholat subuh."


"Ok, lalu?"

__ADS_1


"Ayo pergi untuk wudhu!" seru Emi seraya berjalan ke kamar mandi umum di rumah Simon, dengan sebuah wadah pencuci beras ditengannya.


"Apa itu wudhu?" Simon mengikuti Emi ke kamar mandi.


Dia begitu bersemangat hingga lupa meninggalkan itu di dapur. Pikir Simon melihat Emi membawa wadah pencuci beras.


"Wudhu adalah proses pemurnian yang harus dilakukan setiap Muslim sebelum sholat. Ini adalah bagian yang sangat penting dari shalat."


"Oh begitu,"


"Langkah pertama, ucapkan Bismillah. Kau bisa mengucapkannya secara diam-diam pada dirimu sendiri. Tetapi sekarang aku ingin mendengarmu mengatakan Bismillah," ucap Emi dengan wajah serius. Dia terlihat bersungguh-sungguh dengan profesi dadakannya sebagai guru spiritual.


"Ok, Bismillah."


"Tidak, tidak. Hilangkan kata Ok. Hanya Bismillah. Katakan lagi."


"Bismillah."


"Langkah 2," Emi menghidupkan air keras wastafel. "Cuci tangan tiga kali. Mulai dengan tangan kanan. cuci tangan kanan dari ujung jari hingga pergelangan tangan sebanyak tiga kali. Pastikan air menyentuh setiap bagian tangan," ucap Emi seraya mempraktikkan mencuci tangan. Simon memperhatikannya dengan baik.


"Sekarang, lakukan seperti yang kulakukan."


"Ok," Simon mencuci kedua tangannya sesuai petunjuk.


"Langkah 3, Bilas mulut tiga kali. Ambil air dengan tangan kanan dan bilas mulut tiga kali. Bersihkan mulut dengan benar," ucap Emi, dan mulai berkumur dengan air di tangan kanannya.


Simon mengambil tempat di depan wastafel, dan berkumur setelah Emi menggeser posisinya menjauhi wastafel.


"Langkah 4, Hirup air ke lubang hidung. Di langkah ini kau harus berhati-hati agar tidak terlalu banyak mengambil air atau akan melukai dirimu sendiri."


"Kelihatannya ini adalah adegan berbahaya."


"Perhatikan dengan baik," ucap Emi seraya menampung air dengan tangan kanannya. "Endus airnya, dan kemudian segera tiup keluar, seperti ini," ucap Emi, dan mulai menghirup air dari hidungnya.

__ADS_1


__ADS_2