Sebatas Nikah Di KUA

Sebatas Nikah Di KUA
dealing with bean sprouts and agnostic


__ADS_3

Begitu Emi melihat sosok dosen yang ditunggu, dia begegas pergi menghadang pak Ilman yang hendak masuk ke mobilnya.


"Apa yang sedang kau lakukan?"


"Saya ingin minta maaf, tolong maafkan saya Pak atas kesalahan saya tadi. Saya tetap dianggap hadir kan, Pak? bisa ikut mengumpulkan kuis hari ini, kan Pak?" cerocos Emi dengan menyatukan kedua telapak tangannya memohon, dia menatap Ilman dengan tatapan memelas.


"Menyingkirlah!" perintah pak Ilman datar.


Emi menggeleng, bersikeras tidak akan menyingkir sebelum nasibnya jelas.


"Jika kamu tidak menyingkir, saya akan menganggap ini adalah pemerasan dan pengancaman," tegas pak Ilman.


Emi terbengong, "Hah?"


Ilman yang tidak suka menghabiskan waktunya untuk hal-hal yang tidak penting, segera membuka pintu mobilnya, dan membuat Emi terdorong menyingkir dari pintu mobilnya.


Emi yang pantang menyerah segera ingin menghentikan mobil yang mulai berjalan itu. Namun sayang, kakinya tersandung batu dan jatuh.


"Apa dia baik-baik saja?" gumam Ilman melihat Emi dari kaca spion mobilnya.


Criitzz.. Ilman menginjak pedal rem dengan cepat begitu kembali melihat ke depan.


Hanna yang berdiri di depan mobil pak Ilman dengan jarak 50 centimeter, terduduk karena terkejut dirinya hampir benaran ditabrak. Salahnya karena berdiri di tengah jalan menghadang mobil itu, namun dia tidak mengira jika dosen itu tidak menghentikan mobilnya.


"Hanna! kau tidak apa-apa?" teriak Emi panik menghampiri Hanna.


Ilman yang juga tidak kalah panik, segera turun dari mobilnya. Namun melihat Hanna yang tidak terluka, dia kembali meradang. "Apa kau meminta temanmu untuk melakukan ini?" tuding Ilman kepada Emi. Wajahnya terlihat sangat marah.


Emi menggeleng cepat, dia sama sekali tidak tahu jika Hanna mengikutinya, apalagi meminta gadis itu untuk melakukan adegan yang berbahaya.


"Ayo, Hanna." Emi membantu Hanna untuk berdiri.


Kedua gadis itu berlalu begitu saja meninggalkan pak Ilman. Mereka duduk di tempat yang aman, di bawah pohon rindang dekat pakiran.


"Hal tadi sangat berbahaya, mengapa kau melakukannya?"


"Aku hanya ingin membantumu," ucap Hanna dengan santai.


Emi menggeleng cepat, dia tidak setuju. "Heran... mengapa pak Ilman menjadi idola kampus, padahal galak begitu," gerutu Emi.


"Jadi bagaimana selanjutnya?" tanya Hanna.


"Sudahlah tidak apa-apa, aku akan tetap mengumpulkan kuisnya. Terserah mau diterima atau tidak. Kalau nanti dia tetap beri nilai jelek, bapak itu jadi jelek karena nabrak pohon tauge," jawab Emi ala kadarnya.


Hanna tertawa menampilkan deretan giginya yang rapi, mendengar jawaban Emi.


"Terima kasih atas doanya." Suara pak Ilman yang tiba-tiba muncul entah dari mana mengagetkan kedua gadis itu.


Pak Ilman memberikan sebotol air mineral kepada Hanna, dan memberikan kotak P3K kepada Emi. "Obati lukamu sebelum infeksi," katanya menunjuk luka lecet di telapak tangan Emi.


"Terima kasih, Pak." Emi yang masih kaget menerima kotak itu dengan malu.


Berbeda dengan Emi, Hanna langsung mengambil botol mineral itu dan meminum isinya sampai setengah.

__ADS_1


Ilman langsung pergi meninggalkan kedua gadis itu, setelah memastikan keduanya baik-baik saja.


***


Sementara itu Emi berjalan lesu ke rumahnya. Dia takut pak Ilman akan memberinya nilai minus. Dan satu lagi ketakutannya adalah bertemu dengan Simon. Seseorang yang seharusnya sama sekali tidak akan mungkin berbicara dengannya, apalagi bertemu dengannya. Bahkan untuk menonton konser Simon saja itu tidak mungkin bagi Emi, karena dia tidak tahu jika Simon adalah seorang penyanyi. Kalaupun tahu, dia juga tidak akan peduli.


Dan, sekarang pria asing itu akan menikahinya. Emi menerima tawaran itu tanpa berpikir matang, karena Simon tampan, dan terdesak dengan subsidi pembayaran uang kuliahnya.


Jika terus menghindar, dia pasti mengira aku adalah gadis penipu. Menerima uangnya dan kabur tanpa tanggung jawab. Pikir Emi.


Kakinya yang lemas menjadi bersemangat begitu melihat Simon dan Kent sudah duduk manis di toko roti Omar.


Mereka terlihat sedang berbicara santai dengan Omar dan Arum. Tentunya dengan bantuan aplikasi translator.


"Emi, kau sudah pulang?" Arum menyapa putrinya yang baru saja masuk.


Simon berbalik melihat sosok Emi yang baru pulang. "Hai," senyumnya manis.


Emi dengan cepat menghampiri Simon, "apa yang kau lakukan di sini?" bisik Emi khawatir Simon akan berbicara yang tidak- tidak.


"Aku ingin bertemu dengan calon mertua," jawab Simon dengan sikap santainya.


"Emi, temanmu ini semalam juga datang mencarimu," ucap Arum.


Simon membaca terjemahan di layar gawainya, dia tersenyum lembut menatap Omar dan Arum. "Sekarang saya bukan teman Emi, saya adalah pria yang akan menikah dengan Emi, saya datang kemari untuk meminta ijin kalian," ucapnya dengan memperlambat kalimatnya.


Kedua orang tua Emi membaca layar gawai mereka dengan mata membulat. "Emi!! jelaskan apa yang terjadi?!" Omar menerima Simon dengan baik karena mengira Simon adalah teman kuliah Emi. Pertukaran pelajar mungkin.


Emi menghela napas, dia sendiri juga bingung harus mulai dari mana. Diliriknya Simon, namun pria itu dengan santai memasang senyum di wajahnya, membuat Emi kembali memalingkan wajahnya. Pesona pria itu membuatnya sedikit berdebar. Aneh baginya.


"Ayah, Ibu, kami baru saja bertemu, dan orang ini tiba-tiba bilang menyukaiku. Jadi Emi bilang jika ingin menjalin hubungan ya menikah." Emi sengaja mempercepat ucapannya agar tidak bisa tertangkap oleh aplikasi terjemahan yang dimiliki oleh Simon.


Omar kembali menatap Simon, "apa agamamu?"


Religion?


"Aku tidak punya." Simon menjawab pertanyaan ayah Emi dengan santai.


"Jika kau ingin menikah dengan putri kami, kau harus menjadi seorang muslim," tegas ayah Emi.


Simon membaca layar gawainya, dan kembali tersenyum. "Oke," ucapnya tanpa beban.


Sementara itu, Emi menganga dan terbengong mendengar Simon mengatakan oke dengan mudahnya. Apakah dia tidak tahu apa artinya menjadi seorang muslim?


"Kau yakin? Kami tetap tidak bisa menikahkanmu jika kau tidak yakin dengan islam," tegas Omar sekali lagi.


"Tentu, aku sangat yakin." Simon menoleh ke arah Emi yang berdiri di sebelahnya. Dia tersenyum melihat ekspresi tidak senang gadis itu.


Kau pikir aku akan melepaskanmu setelah menerima uangku? batin Simon.


Omar mengangguk anggukkan kepalanya, melihat Simon dari atas hingga bawah. Dilihat dari sisi manapun, Simon memilik potongan konglomerat. Sangat sesuai dengan kriteria ayah Emi.


"Baiklah, datang kembali lusa jika kau sudah siap untuk menjadi seorang muslim," kata Omar.

__ADS_1


"Tunggu sebentar!" Emi menarik lengan baju Simon dan membawanya menjauh dari kedua orang tuanya.


Emi melihat sekilas ke arah Simon, dan kembali lagi berpaling, "apakah kau tahu apa artinya menjadi seorang muslim?"


"Ya, memiliki agama, dan percaya dengan satu Tuhan," jawab Simon enteng.


Emi melihat Simon dengan serius, "kau tahu, pertama kau harus memotong milikmu," ucap Emi dengan penuh penekanan.


Simon mengerutkan keningnya, "milikku?"


"itu, alat reproduksimu. ya kau tahu."


Mendengar ucapan horor Emi membuat Simon bergidik ngeri. Tunggu, apakah itu artinya kebiri? Kjantananku akan hilang?


Simon memperhatikan ayah Emi yang juga memperhatikannya, lalu melihat ibu Emi dan kembali melihat Emi. Dia berpikir Emi hanya bercanda untuk menakutinya. "Oke, tidak ada masalah," tawanya.


Hah? tidak apa apa katanya. Emi kembali berpikir.


"Bagaimana dengan keluargamu? Apakah mereka tidak ada masalah dengan itu?"


"Kau tidak perlu mengkhawatirkan itu, selama aku masih berguna untuk keluargaku mereka tidak akan mencoret namaku dari kartu keluarga," jawab Simon dengan santai.


Hah?


"Tetapi tetap saja tidak bisa seperti itu. Ada banyak yang harus kau lakukan nantinya setelah menjadi seorang muslim, katakan itu kepada kakekmu." Emi melihat Simon dengan penuh semangat, menatap gawai Simon agar pria itu segera menghubungi kakeknya. Dan kakeknya akan memintanya untuk tidak usah menikah saja.


Simon melipat kedua tangannya, memperhatikan Emi. "Nona Emi Talenta, apakah kau mengira kita benar-benar menikah sungguhan? Setelah menikah, kita akan hidup berpisah. Jadi kita hanya melakukan hal hal yang diperlukan untuk melaporkan pernikahan."


Apa dia mengerti? aku tidak perlu melakukan apa yang dilakukan seorang muslim sepertinya. Pikir Simon.


Dia akan membuang Gadis itu setelah mendapatkan apa yang diinginkannya dari ayah dan kakeknya.


"Oh," Emi menjawab singkat. Tetapi dia berpikir panjang.


Apakah maksudnya nanti aku akan menjadi janda di usia muda?


Lalu nanti akan menjadi aib keluarga?


Menikah lalu besoknya cerai?


"Mengapa? kau kecewa karena menginginkan pernikahan sungguhan denganku?"


Emi menggeleng cepat, "tidak," jawabnya singkat karena bingung apa yang harus dikatakan. Dia butuh waktu banyak untuk memikirkan apa yang harus dikatakan.


Simon tersenyum kemenangan memperhatikan Emi, "itu bagus, karena aku tidak mencintaimu, dan tidak akan."


Aku juga nggak jadi menyukaimu, Pikir Emi.


"Emi, apa yang kalian bicarakan di sana begitu lama?" teriak Omar.


Emi memasang tawanya, "tidak ada Ayah." Emi mendorong Simon ke pintu keluar, "Dia bilang dia harus lekas pergi."


"Oh ya, hati hati."

__ADS_1


__ADS_2