
Sesuai kesepakatan, Simon kembali datang ke rumah Emi keesokannya harinya.
"Kita berada lebih lama di sini dari yang direncanakan," komentar Kent sembari mengendarai mobil mengantar Simon.
"hmm..., ya...," Simon manatap layar gawainya dengan serius. Dia sedang menghapal dialognya.
Mobil yang dikendarai Kent pakir dengan mulus di depan toko roti Omar.
Ceklek!
Belum sempat Kent dan Simon turun dari mobil, Emi langsung bergegas naik ke mobil itu.
"Ayo pergi!" seru Emi.
"Kau harus mengetik tujuan kita," ucap Simon dengan tenang memberikan gawainya, dan tak lupa memasang senyum. Dia yakin tujuan mereka adalah tempat untuk menjadikannya seorang muslim. Dia telah lancar mengucapkan dua kalimat syahadat.
Emi menghela napas berat mengambil gawai, dan mulai mengetik kemana meraka akan pergi.
apa dia benar benar siap untuk dipotong? Batin Emi.
"Rumah sakit?" tanya Simon sembari melirik Emi.
"Ya, untuk memotong milikmu," jawab Emi dengan lugas.
"Apa?"
"Apakah kau takut? Belum terlambat untuk tidak jadi menikahiku, aku janji akan membayar kembali uangmu. Entah kapan itu, yang jelas kalau aku memiliki uang akan segera kubayar." kata Emi dengan semangat, dan mengintimidasi.
"Takut?" Simon tersenyum mengejek. Jika semua muslim bisa melalukannya, tentu dia akan diberi label pengecut jika takut. "Jangan bercanda, hal seperti itu hanyalah kecil bagiku."
Simon memperhatikan Emi yang tampak sedang berpikir, Apa lagi yang akan kau rencanakan? Semakin kau menolak untuk menikah denganku, semakin membuatku bersemangat untuk menikahi gadis sepertimu.
__ADS_1
Sebelum masuk ke rumah sakit, Kent memberikan masker kepada Simon, untuk berhati-hati di tempat umum. Dia harus melindungi aktornya dengan baik.
"Ayo!" Emi segera membawa Simon masuk, meninggalkan Kent yang masih memakirkan mobil.
Mereka telah tiba di depan poliklinik urologi. Secara kebetulan hari itu tidak banyak pasien yang datang. Hanya beberapa orang tua.
"Apakah kau yakin akan melakukan ini?" Emi bertanya sekali lagi sebelum melakukan pembayaran di loket pembayaran.
"Ya tentu, semakin cepat semakin baik," ucap Simon dengan percaya diri.
"Oh, kalau begitu kau harus menandatangani ini." Emi memberikan surat pernyataan bersedia di potong kepada Simon. Dan tanpa ragu Simon membubuhkan tanda tangannya tanpa tahu arti dari surat itu.
Tanpa prosedur yang lama, Simon langsung di bawa masuk ke ruangan dan di minta untuk berganti pakaian operasi. Membuat Simon menyadari ada sesuatu yang tidak beres.
"Apa ini?" tanya Simon mencegah Emi ikut keluar bersama perawat.
"Kau harus menggunakan pakaian itu, untuk operasi."
"Tidak, aku tidak berbohong. Apakah kau yakin masih tetap ingin menikahiku?"
Simon tersenyum berjalan mendekati Emi, "Kau sangat tidak ingin menikah denganku, ya?"
Emi berjalan mundur, menghindari Simon. mereka hanya berdua di ruangan itu, dan itu tidak baik. "Ya,"
"Mengapa? Apakah kau takut tidak bisa lagi melayani banyak lelaki lain?" tanya Simon.
Emi mengerutkan keningnya mencoba memahami arti perkataan Simon. "Maaf, aku tidak mengerti."
Simon tersenyum sinis mendengar jawaban Emi. Dia pikir gadis itu pura pura tidak tahu apa yang dia maksud. Kenyataannya Emi memang tidak tahu arti dari pertanyaannya.
"Nona Emi Talenta, kau lupa? kita bertemu di tempat kerjamu. Aku tahu apa pekerjaanmu. Apakah ayahmu tahu?"
__ADS_1
dia tahu pekerjaanku? Tentu saja bekerja mencuci piring, mengantarkan makanan dan minuman. Emi menghentikan pemikirannya dan menutup mulut dengan kedua tangannya.
Sadarlah dia apa yang dibicarakan Simon. Apakah dia mengira jika bekerja di cafe yang dipenuhi oleh orang memakai baju minim itu berkonotasi protitusi? Mereka tidak menjual alkohol, Carolina bilang begitu.
Emi melihat Simon yang tepat berdiri di depannya. "Aku masih perawan! Aku tidak melakukan itu dan ini dengan pria!"
Tok! Tok!
"Mengapa belum berganti baju?" Seorang perawat tiba-tiba datang mengakhiri pembicaraan Emi dan Simon.
"Ma'af, Kak." Emi segera mengambil pakaian operasi dan melemparkannya kepada Simon. "Terserah kau!" seru Emi sembari keluar.
***
Dengan santai dan tenang, Simon berbaring di tempat tidur pasien.
Dia masih perawan? Apakah artinya dia tidak melihatku karena dia tidak tertarik dengan pria? Pemikiran Simon semakin menyimpang.
"Simon Liu?" seorang mengenakan baju putih menghampiri Simon sembari membaca status pasien.
"Yes,"
"Gugup? Jangan khawatir, sakitnya seperti digigit semut," tawa dokter itu sembari menyuntikkan obat bius di selang infus Simon.
"Gugup? Tidak."
"Apakah kalian sudah menikah?" tanya dokter anestesi itu kembali sok akrab. Simon melihatnya heran. "Gadis yang menunggumu di luar, aku menghargai perjuanganmu, semoga pernikahan kalian bahagia."
"Oh, ya... dia lucu, dia bilang aku akan dipotong..." ucap Simon, dia mulai merasakan kantuk, dan langsung tak sadarkan diri.
Dan pemotongan itupun terjadi tanpa disadari oleh Simon.
__ADS_1