
Emi mendapatkan kesadarannya kembali, entah setelah berapa lama. Kepalanya masih terasa pusing.
Hal pertama yang tertangkap oleh bola mata Emi adalah Siluet pria berperawakan tinggi. Sosok tak dikenal itu berdiri membelakangi Emi, pria itu begitu serius melihat keluar jendela.
Di mana ini? siapa itu? mengapa aku ada disini? pertanyaan pertanyaan yang muncul di kepala Emi begitu dia bangun.
Pria tak dikenal itu tiba-tiba berbalik melihat Emi begitu menyadari ada pergerakan di belakangnya. Dia adalah Simon Liu. "Kau sudah bangun?" tanyanya dengan nada tenang.
Emi menyingkirkan selimut yang menutupi dirinya, wajahnya masih penuh dengan tanda tanya, dan pikirannya tidak memiliki ruang untuk memikirkan jawaban pertanyaan yang tidak perlu dijawab dari pria asing itu.
"Siapa kau?" Emi menatap ngeri ke arah Simon, seolah pria itu adalah maling yang tiba tiba masuk ke kamarnya.
Tunggu..., mengapa berbahasa Inggris? pikir Emi yang tak sadar ikut menggunakan bahasa inggris. Ah.. mengapa kepalaku pusing.
Simon menghela napas, dan menarik kursi dari meja ke dekat tempat tidur. "Pertama, aku tidak melakukan apapun kepadamu. Aku tidur di kamar sebelah semalam." Simon menunjuk dinding di samping kanannya.
Ini kamar sebuah hotel? Emi menyadari mereka berada di gedung hotel tempatnya bekerja begitu melihat logo hotel di salah satu pajangan yang tergantung di dinding.
Menyadari dirinya hanya berdua saja dengan seorang pria di dalam ruangan tertutup, membuat Emi tidak nyaman. Dia ingin segera pergi meninggalkan kamar itu, tetapi kepalanya masih pusing. Dia perlu mengumpulkan oksigen di kepalanya.
"Mengapa aku ada di sini, dan apa yang kau lakukan di sini?" tanya Emi seraya bangun, dan duduk sebentar.
Emi mengerutkan keningnya, dia mencoba menggali ingatan terakhirnya sebelum mendapati dirinya berada di kamar berdua dengan seorang pria asing.
"Oh, iya aku sedang bekerja, dan... " Emi menjeda kalimatnya.
Apa yang terjadi setelah Carolina memberiku minuman yang membuatku kehilangan konsentrasi? di mana Carolina? Emi menatap Simon yang duduk di depannya, mencari jawaban.
Simon balik menatap Emi, mengamati gadis itu. "Maaf karena telah membawamu saat kau sedang bekerja. Tapi aku harus melakukannya, karena ada hal penting yang ingin aku bicarakan denganmu."
Kakek tidak boleh mengetahui latar belakang gadis ini. Simon mengira Emi seorang prostitusi. Dia sempat terkejut ketika tiba di club yang ditunjukkan oleh orang tua Emi. Tempat pertama yang dituju oleh Simon adalah toko roti milik keluarga Emi.
Emi mengangguk, dia memahami sesuatu. Apakah seseorang akhirnya datang menyelamatkannya dari mimpi buruk dan kecerobohannya.
"Maaf, apakah kau orang asing?"
Simon memiliki wajah oriental berkulit putih dengan karakter kuat sebagai orang asing berwajah lembut, tetapi Emi tidak yakin ada orang asing yang tiba-tiba datang mengamankannya.
Simon menyandarkan punggungnya, menatap serius Emi sekali lagi. "Kau tidak mengenaliku?" tanyanya, dan menajamkan penglihatannya memperhatikan Emi.
Pria tampan dan berkelas, kenalan dari mana? Apakah masih di alam mimpi? pikir Emi.
__ADS_1
Ini pertama kalinya Emi berbicara dengan orang asing, meskipun dia sudah lama belajar bahasa inggris.
"Aku yang berbicara denganmu seminggu yang lalu di telepon, dan kau memblokir nomorku." Simon tersenyum sinis.
"Oh," Emi menutup mulut dengan telapak tangannya. Dilihat secara langsung dia tampan, apakah dia benar-benar aktor Simon Liu?
Emi memperhatikan pakaian yang melekat di tubuh Simon. Menyadari pria di hadapannya memang terlihat seperti bukan orang biasa, Emi menelan ludah.
Simon tersenyum sinis, "kau ingat sekarang? baiklah aku akan langsung ke inti saja. Seseorang telah salah paham karena perbuatanmu, dia adalah kakekku. Dan sebagai konsekuensinya, kesalahpahaman itu harus tetap kita pelihara." Simon menghentikan perkataannya, takut jika terlalu panjang berbicara, Emi tidak memahaminya dengan baik. Mengingat Emi yang masih terbata bata berbicara dengannya.
Terlebih gadis itu menatapnya dengan mata mencurigai, seolah sedang memikirkan hal lain di kepalanya.
"Apakah kau mendengarku dengan baik? Mengapa kau terus menatapku seperti itu?"
Apakah dia masih menganggapku penipu atau mencurigaiku telah melakukan sesuatu kepadanya saat dia tak sadarkan diri?
"Hmm... Aku hanya berpikir."
Simon menaikkan alisnya, "Apakah kau masih berpikir aku telah melakukan sesuatu kepadamu? ingat baik-baik aku tidak melihatmu sebagai seorang wanita."
Emi menggeleng, "Aku sedang berpikir bahwa kau memiliki wajah yang tampan dan manis," akunya tanpa ragu.
Mendengar komentar Emi yang menyanjungnya, Simon menghapus wajah masam dan senyum sinisnya.
Seharusnya komentar mengenai wajahnya adalah hal biasa yang sering dia dengar. Dia hanya akan menanggapinya dengan senyum ramah, atau pun pura-pura untuk tersipu.
Simon berdehem, "Baiklah, mari kita lanjutkan pembicaraan penting kita."
"Ok,"
"Kedatanganku bukan untuk mengkriminalisasimu. Kakekku ingin aku menikahi pacarku, dan kakek mengira kau adalah pacarku. Jadi__"
"Kakekmu ingin kau menikahiku?" potong Emi sembari tertawa renyah. "Maaf aku hanya bercanda, silahkan lanjutkan." dia menghentikan tawanya begitu menyadari Simon menatapnya dengan serius, seperti ingin menelannya hidup hidup.
"Kau benar, Kakekku ingin kita menikah."
Hah?
Emi mengamati Simon. Dia terlihat sangat frustrasi, sepertinya benar benar serius. Dan sangat serius hingga mendatangiku.
Emi berdehem, entah mengapa melihat raut wajah Simon yang tidak senang saat mengatakan 'menikah' dirinya seperti baru saja ditolak, lucunya dirinya juga tidak ingin menikah dengan pria itu. "Kau bisa langsung membantah kakekmu, tanpa harus merepotkan dirimu dengan datang menemuiku."
__ADS_1
"Aku menemuimu karena ingin memintamu untuk menikah denganku."
Emi membulatkan matanya, apa seseorang baru saja melamarnya?
"Bukan kah kau membutuhkan uang untuk membayar kuliahmu? aku akan memberikanmu uang yang kau butuhkan untuk menyelesaikan studimu," Simon mencoba memberi penawaran.
Emi semakin membulatkan matanya mengetahui Simon mengetahui tentang masalah kuliahnya. "Kau mencari tahu tentangku, apa saja yang kau tahu tentangku?" Suaranya bernada heran dan khawatir, tidak terima dengan Simon yang menyelidikinya.
Emi ingin segera pergi, tetap dia tidak kunjung juga beranjak menuju pintu keluar.
Simon mengangkat sebelah alisnya, mencoba mengingat. "Kau tidak pernah memiliki pacar." katanya dengan lamban.
Emi menatap horor Simon, Pria asing itu bukan hanya mengetahui tempat kerjanya.
"Orang tuamu yang memberitahuku, aku hanya tahu di mana toko rotimu," Simon menjawab ekspresi keheranan Emi dengan nada malas. Sembari menatap layar gawainya, jarinya mengetuk ngetuk layar itu. Sudah waktunya untuk sarapan, tetapi Kent belum datang membawakan sarapannya.
"Maaf, bisakah kita melanjutkan pembicaraan ini nanti? jika aku tidak pulang sekarang, aku akan terlambat pergi ke kampus."
Emi masih berharap pembicaraan mereka dapat dilanjutkan, karena pembahasannya menyangkut uang.
dia turun dari tempat tidur dan memakai sepatunya yang kebetulan ada di dekat tempat tidur. "Permisi,"
Tangan Emi terhenti saat hendak meraih handle pintu,
Tunggu, apakah aku harus membayar kamar ini?
Emi berbalik dan melihat ke sekelilingnya, dia menelan ludah menyadari itu bukan kamar standar. Tetapi suite room.
"Itu, terima kasih telah menolongku semalam, bisakah kau menolongku sekali lagi untuk membayar kamar hotel ini? aku akan mengembalikan uangmu nanti," ucap Emi dengan nada memelas.
Simon mengamati Emi, "Ok."
apakah dia mengerti? Emi memutuskan untuk tidak bertanya lebih lanjut. Terlebih Simon sedang berbicara dengan seseorang di gawainya. Dia mengunakan bahasa yang tidak bisa dimengerti oleh Emi.
"Tunggu," Simon mematikan sambung teleponnya dan berjalan mendekati Emi. "Aku tidak bisa menunggu nanti, kau menerima tawaranku atau tidak?"
Dia harus segera kembali ke negaranya.
Emi berkedip menatap Simon, dilihat dari sudut manapun tidak ada celah untuk tidak tersihir dengan ketampanan pria di depannya. "Ok, apakah aku bisa menerima pembayaran uang kuliahku sekarang?"
***
__ADS_1