Sebatas Nikah Di KUA

Sebatas Nikah Di KUA
dawn of a new day


__ADS_3

Emi melewati ujian akhir semesternya dengan penuh cobaan dan rintangan. Satu persatu teman sekelasnya yang memang tidak begitu akrab dengannya mulai membencinya karena sebuah fitnah.


Di mulai dari satu mahasiswa yang kehilangan tugasnya saat Emi yang bertugas mengantarkan semua tugas mereka ke dosen. Hingga Emi menjadi tersangka yang menyebarkan rumor buruk tentang salah satu teman sekelasnya.


Dalam sekejap dirinya yang mahasiswi tak dikenal menjadi mahasiswi yang terkenal bermasalah. Di saat saat seperti itu, selalu ada Hanna yang bersamanya dan percaya kepadanya.


Sesuai dengan rencana, Emi pergi ke Taiwan setelah ujian akhir semesternya berakhir.


Emi berjalan dengan penuh percaya diri keluar dari loket imigrasi setelah lolos dari pemeriksaan dokumentasi oleh petugas migrasi.


Dia tidak mendengarkan kekhawatiran keluarganya yang melepasnya pergi seorang diri ke negara asing. Dia telah pasrah akan kah menjadi anak hilang atau bagaimana.


Seseorang yang di kenalnya berdiri di depan pintu kedatangan.


"Hallo," sapa Kent berusah untuk ramah.


"Hallo," Emi sedikit menundukkan kepalanya menunjukkan kesopanan kepada Kent yang lebih tua darinya.


Kent mengambil alih koper yang diseret Emi, dan memperisilahkan Emi untuk mengikutinya. "Kita sudah pernah bertemu, tetapi belum memperkenalkan diri secara resmi. Namaku Chen Xin Cheng, kau bisa memanggilku Kent," katanya sembari berjalan meninggalkan bandara.


"Ok," Emi berusaha mengimbangi langkah kaki Kent.


mengapa dia jalan cepat - cepat? gerutu Emi dalam hati. Apa aku bilang saja kepadanya jangan cepat cepat?


Pada akhirnya Emi hanya bisa diam mengikuti Kent hingga mereka tiba di depan sebuah mobil di area pakiran.


Kent membukakan pintu penumpang bagian belakang dan mempersilahkan Emi masuk.


Emi berdiri menatap pintu yang terbuka itu dengan ragu, Kemana suaminya? Mengapa dia harus pergi dengan lelaki lain?


"Masuklah," pinta Kent.


Ah sudahlah, anggap aja supir taksi. Emi masuk ke dalam mobil itu dengan setengah hati.


Kent segera menutup pintu mobil, begitu Emi duduk di dalamnya. Dengan cepat dia memasukan koper Emi ke dalam bagasi mobil, dan langsung masuk ke kursi pengemudi.


Dia memang dikejar oleh waktu. Setelah mengantar Emi ke hotel, dia harus kembali menjemput Simon.


Sekali lagi Emi ragu untuk mengikuti Kent yang sudah masuk ke lobi sebuah hotel, dan langsung menuju resepsionis.

__ADS_1


Sementara Emi masih berdiri bingung di tengah lobi, Kent telah selesai berurusan dengan resepsionis dan kembali menghampiri Emi. "Kamar 803," kata Kent sembari memberikan kartu kamar kepada Emi.


Emi menerima kartu itu dengan bingung, apa maksudnya aku disuruh tidur di sini? Dimana Simon? Haruskah menanyakan hal itu kepada orang yang bernama Kent ini?


"Apakah kau ingin aku mengantarmu ke kamar?" tanya Kent mencoba memberi solusi atas kebingungan yang terpancar dari raut wajah Emi.


"Ya?"


Kent tersenyum, "Ayo aku akan mengantarmu, maaf," katanya sembari berjalan menuju lift dengan koper Emi.


Emi sekali lagi terpaksa mengikuti Kent. Di lingkungan yang asing baginya, dia juga diperlakukan seperti orang asing, batin Emi nelangsa.


Dia tidak berharap disambut sebagai seorang istri, tetapi dia pikir akan disambut sebagai tamu. Kenyataannya dia tidak disambut sama sekali.


"Ini kamarmu," Ucapan Kent menyadarkan Emi dari lamunannya. "Besok aku akan datang lagi untuk mengantarmu pergi mendaftarkan pernikahan," katanya lagi.


"Ok," Emi membuka pintu kamarnya dengan kartu yang dipegangnya.


"Jika kau ingin makan malam, kau bisa menggunakan layanan room service untuk memesan makan malammu. Sampai bertemu besok," Kent langsung pergi tanpa menunggu Emi masuk ke kamarnya.


****


Proses syuting take me to the mars lebih lama dari yang dia perkirakan karena lawan mainnya bolak-balik melakukan kesalahan. Hal itu membuatnya tak bisa menyambut kedatangan Emi.


"Simon," Terdengar suara seorang wanita memanggilnya. Namun hal itu membuat Simon semakin mempercepat langkahnya menuju ke tengah lapangan, tempat terbuka yang lebih luas.


"Simon, tunggu!"


Panggilan kedua menghentikan langkah Simon. Dia memasang senyum di wajahnya sebelum berbalik menghadap ke arah wanita yang memanggilnya.


"Ada apa Ruiqi?"


"Apakah hanya perasaanku saja, atau kau benar benar sedang menghindariku sejak pembacaan naskah?" tanya Ruiqi setelah mengatur napasnya.


"Aku memang menghindarimu," jawab Simon tanpa basa basi. Dia mencoba bersikap seperti biasanya.


Sedikit terkejut, Ruiqi langsung tertawa. Di bawah penerangan lampu, wajahnya terlihat semakin cantik. "Aku memang pernah memintamu untuk menghilangkan rumor yang terjadi diantara kita, tetapi tidak perlu sejauh itu, sampai aku tidak bisa menghubungimu," celoteh Ruiqi dengan gaya manjanya.


Simon menatap datar Ruiqi yang berdiri di hadapannya. Mereka pertama kali dipertemukan dalam sebuah drama 50 episode, saat itu Simon masih menjadi pemeran pembantu. Simon jatuh cinta sejak pertama melihat kecantikan Ruiqi secara langsung.

__ADS_1


"Kita masih berteman, kan?" Ruiqi mencondongkan badannya mendekati Simon.


Simon memalingkan wajahnya, "jika kau mendekatiku seperti ini, nanti pacarmu akan salah paham."


Ruiqi melipat kedua tangannya, dan mendengus. "Pacar apanya? Dia tidak juga melamarku, aku harus menikah selagi masih muda dan cantik, benar kan?" tanya Ruiqi sembari menendang nendang rerumputan.


"Hingga nenek-nenek kau akan tetap cantik dan menjadi idola semua orang,"


Ruiqi tertawa kecil menampilkan gigi putihnya yang tersusun rapi. "Mengapa sulit sekali memiliki orang itu sepenuhnya," gerutunya.


Tapi aku begitu mudah dimiliki olehmu, bisik Simon dalam hati. Dia ingin menghilangkan perasaannya. Jika terus bertemu dengan Ruiqi, dia jadi tidak bisa menghilangkan perasaannya itu.


"Semakin kau menjauh, dia akan semakin mendekatimu," ucap Simon sembari mengeluarkan gawainya yang bergetar dari saku celananya.


"Hah?"


Simon membaca pesan masuk di gawainya. Tanpa melihat Ruiqi dia berkata, "itu saranku untukmu."


Ruiqi kembali mendengus, "kau memberiku ajaran sesat?"


Simon tertawa sembari menyimpan kembali gawainya. Kent telah datang menjemputnya, dia sangat lelah dan ingin cepat pergi tidur.


"Kalau begitu berusahalah lebih keras lagi. Sampai jumpa lagi, bye bye." Simon berlalu meninggalkan Ruiqi.


"Hey! Aku belum selesai bicara," Ruiqi harus ikhlas menatap Simon yang pergi begitu saja meninggalkannya.


Dia menatap punggung Simon dengan kecewa. Kecewa mengapa pria itu terlahir dari keluarga biasa. Simon yang dia kenal adalah pria biasa yang memulai kariernya sebagai penyanyi.


Dia tahu jika Simon menyukainya, tetapi dia tidak tahu jika Simon adalah kolongmerat generasi ketiga. Ayahnya pendiri perusahaan teknologi yang memproduksi elektronik dengan pendapatan terbesar ketujuh di dunia pada tahun lalu. Sedangkan kakeknya memiliki perusahaan produksi makanan.


***


"Apa kau sudah mengatakan kepadanya jika aku sedang bekerja, bukan tidak ingin menjemputnya? dia mungkin akan berubah pikiran untuk melaporkan pernikahan, jika tidak memperlakukannya dengan baik," ucap Simon sembari menutup matanya duduk di kursi belakang mobil van nya. Dia ingin tidur di sepanjang perjalanan pulang.


"Ah.. soal itu.., dia tidak menanyakan apa apa tentangmu, jadi aku lupa memberitahunya tentang itu," jawab Kent sembari tetap fokus mengemudi.


"Dia tidak menanyakanku?" gumam Simon sedikit kesal. Dia tidak sekalipun menghubungiku untuk bertanya-tanya, apa dia sudah paham dan tahu segalanya? Apakah ponselnya hanya memiliki huruf O dan K?


Rasa kantuk segera mengubur rasa kesalnya.

__ADS_1


__ADS_2