
Ruiqi menatap kepergian Simon dan Emi hingga keduanya menghilang di balik dinding. Dia memukul pelan kepalanya, sebagai hukuman atas dirinya yang ceroboh. Dia berpikir Simon sedang memastikan kepada Emi, gadis yang dipikirnya adalah asisten rumah tangga Simon itu tetap menjaga mulutnya agar merahasiakan hubungan dirinya dengan Simon.
Sementara itu di ruangan kerjanya, Simon menghela napas menatap Emi yang masih terlihat kaget.
"Kau pasti kaget. Emi, menikah denganmu bukan berarti aku tidak berhubungan dengan wanita lain. Maaf karena baru mengatakan hal ini sekarang," jelas Simon.
"Tuan Simon, aku tidak peduli apakah kau memiliki pacar atau tidak. Apakah kau mencintai wanita lain atau tidak. Karena kau tahu, ya itu kalimat yang dilarang untuk diucapkan. Aku juga tidak memberitahunya jika aku adalah istrimu," kata Emi dengan tenang dan santai. Dia menambahkan senyumnya diakhir kalimatnya.
Menjaga kesepakatan dengan orang ini untuk tidak boleh mengucapkan 'Aku tidak menganggapmu suami'. Benar benar sulit. Keluh batin Emi.
Simon mengangguk mengerti, satu sisi dia lega karena Emi tetap berpegang teguh dengan prinsip kalimat sakral untuk menjaga keharmonisan pernikahan mereka. Tetapi entah mengapa ada bagian kecil di dalam dirinya yang merasa terganggu karena Emi terlihat tenang dan biasa saja melihatnya hampir mencium wanita lain.
"Itu bagus jika kau mengerti."
"Benar aku sangat mengerti, tetapi yang kalian berdua lakukan tadi itu tidak diperbolehkan! Meskipun dia itu pacarmu, kalian berdua kan belum menikah?" protes Emi dengan ekpresi serius. Karena dia sedang membahas masalah serius.
"Jadi, aku harus menikah dengannya, begitu?"
Emi mengangguk dengan pasti. Memastikan dirinya baik baik saja dengan hal itu. Dia tidak ingin mendengar kalimat 'Jangan terlalu serius menganggap hubungan kita' yang diiringin dengan ledekan tawa dari mulut Simon. Dia tidak akan memiliki rasa cemburu walaupun sekecil kacang kedelai. Bukan kah tujuannya menikah adalah demi uang?
"Hmm...," Simon memperhatikan Emi, gadis biasa yang selalu mengganggu pikirannya setiap kali dirinya melihat gadis itu. "Aku tidak akan menikah dengannya, memiliki selingkuhan itu lebih menarik, kau tahu."
Emi mengerutkan keningnya menatap Simon bingung, "Apa? Tidak- tidak, kau adalah seorang muslim sekarang. Kau harus meninggalkan zinaa, itu adalah illicit relations, dan kewajibanku sebagai istri untuk mengingatkanmu!" tegas Emi. Dia berusaha bersikap terbuka dan bijaksana meskipun hatinya sakit seperti dipotong-potong lalu dipanggang saat mengatakan itu.
Apakah dia sedang mendorong suaminya untuk melakukan poligami? Emi kau gila. Batinnya.
Simon tertawa melihat reaksi Emi, "Nona Emi Talenta, itu adalah kau yang menjadi selingkuhanku," ucapnya enteng.
__ADS_1
Perkataan Simon membuat Emi tidak bisa untuk tidak bengong, "Hah?"
"Dia bukan pacarku,..." Simon berusaha menjelaskan sesuatu.
"Tetapi dia bilang, kalau dia adalah pacarmu," potong Emi.
"Dia mengatakan begitu?" Simon melihat Ruiqi dari dinding kaca dua arah ruangan kerjanya. Gadis itu juga sedang melihat ke arah mereka dengan khawatir. "Jika dia mengatakan begitu, artinya dia adalah benar pacarku."
Simon kembali melihat Emi, dan tersenyum. "Emi dengar, dia tidak tahu tentang hubungan kita berdua. Jadi, bukan kah yang menjadi selingkuhanku itu adalah kau?"
Emi berkedip menatap Simon, apakah suaminya baru saja mengatakan hal bodoh untuk menipunya? Apakah orang dewasa benar benar melihatnya sebagai anak kecil yang mudah diakali hanya karena dirinya masih seorang pelajar? tetapi dia adalah seorang pelajar yang terpelajar,
"Tuan Simon, jangan membuat lelucon! Siapa pun tahu, selingkuhan itu adalah pihak yang tidak memiliki ikatan pernikahan. Istri adalah istri."
"Emi, aku akan mengatakan ini kepadamu. Hubunganku dengannya sudah seperti suami istri, hanya saja tidak tercatat di catatan sipil."
"Dan kau adalah orang keempat di dalam hubungan kami," lanjut Simon. Jika orang ketiga yang menganggu hubungan mereka adalah Luo hong yi, berarti Emi adalah orang keempat.
"Apa?!" Kali ini Emi benar benar kaget, orang keempat katanya? Apa sebelum dirinya ada wanita lain lagi?
Apakah judulnya seperti ini, 'Ternyata aku adalah wanita ke empat di dalam pernikahanku sendiri'? Pikir Emi.
"Hmm..., jika selingkuhanku ini memintaku untuk menjaga jarak dengan pacarku. Tidak ada yang bisa kulakukan selain menuruti permintaannya, benar kan?"
Emi mengangguk membenarkan pernyataan Simon, dia tidak peduli dengan julukannya sebagai selingkuhan. Yang penting suaminya tidak berbuat macam macam dengan wanita lain. Entah mengapa hal itu membuatnya ingin tersenyum senang. Tetapi dia menahannya. Dia tidak boleh terlihat kalau dirinya menganggap suaminya adalah suaminya.
"Tetapi sebelum itu, bukan kah kau seharusnya menciumku agar aku mengabulkan permintaanmu? Itu adalah hal dasar yang harus kau lakukan untuk menggodaku." ucap Simon dengan nada rendah.
__ADS_1
Emi menelan ludah, "kau membuatku merinding," ucapnya semberi memeluk tubuhnya, dia benar benar menggigil saat telinganya mendengar suara rendah Simon.
"Hahaha, aku hanya bercanda." Simon
tidak bisa menahan tawanya melihat Emi, gadis kecil yang selalu gagal dia ganggu. "Aku akan mengantar pacarku pulang, bye," ucapnya sembari melangkah pergi meninggalkan Emi di ruangan kerjanya.
Wajah Ruiqi berubah ceria begitu melihat kemunculan Simon, dia bergegas menghampirinya, dan merangkul lengan pria itu. "Apa yang kalian berdua bicarakan hingga begitu lama?" tanyanya yang sedari tadi hanya melihat pantulan dirinya sendiri di dinding kaca.
Simon segera menepis tangan Ruiqi yang merangkul mesra dirinya. Dia tidak benar benar serius tentang apa yang dijanjikannya kepada Emi, dan mengapa juga dia harus melakukan itu?
Tetapi menyadari Emi ada di balik dinding cermin yang mungkin sedang melihat dirinya bersama Ruiqi, membuat Simon menepis tangan wanita yang dia yakini masih dicintainya itu.
Marah karena Simon menepis tangannya dengan kasar, Ruiqi berjalan dengan kesal meninggalkan Simon menuju pintu keluar apartemen.
Melihat kekasih hatinya yang pergi dengan murung, Simon mengusap wajahnya frustrasi karena dia baru saja bersikap kasar kepada wanita yang dicintainya.
Di balik dinding ada Emi yang melihat keduanya. Jantungnya berdenyut. Sangat sakit melihat pria yang berstatus suaminya mengejar wanita lain di depannya. Dan bahkan mereka sedang bersama di luar meninggalkannya sendiri.
"Mengapa sepertinya aku ingin menangis?" gumam Emi tidak mengerti. Dia menghirup napas dalam, berusaha menenangkan dirinya.
Tidak, aku tidak boleh menjadi wanita yang serakah dengan berharap orang itu akan menyukaiku.
Emi, kau harusnya bersyukur selain membayarkan hutang ayahmu, orang itu juga memberimu uang saku, dan seorang pemandu wisata. Batinnya mengingatkan dirinya sendiri.
Dari awal sudah cukup jelas jika hubungan mereka hanyalah sebatas pernikahan di atas kertas.
Dan yang paling penting, kau hanyalah orang ke empat! Siapa kau hingga berani berharap lebih? Kalimat Simon ikut memprovokasinya.
__ADS_1
Emi berdiri dengan tegak, mengusap air matanya yang ternyata sudah jatuh tidak bilang bilang dulu.