Sebatas Nikah Di KUA

Sebatas Nikah Di KUA
Marriage Is Inherently Unfair


__ADS_3

Setelah menyikat gigi dan mencuci wajahnya, Emi berdiri terbengong di walk in closet milik Simon.


"Cih..., mengapa juga aku menurutinya?" gumam Emi bingung. Mengapa pernikahan itu selalu tidak adil? Sebagai suami dia bebas memerintahku.


Tidak butuh waktu lama bola matanya menangkap deretan piyama yang tergantung. Emi mengambil satu, dan mengenakannya.


Dengan canggung dia keluar dari walk in closet, dan berjalan menaiki tempat tidur. Itu pertama kali dia memperlihatkan rambutnya kepada Simon.


Simon yang duduk dengan tenang membaca sebuah bundelan naskah film di atas tempat tidurnya, melirik sekilas ke arah Emi. "Kau melepaskan hijabmu?" tanyanya heran.


"Iya, aku tidak mengenakan hijab saat tidur."


Simon melirik sekali lagi ke arah Emi sekilas, "Oh begitu."


Dia memiliki rambut yang cantik, batin Simon mulai tidak tenang melihat leher Emi yang mulus. Kau adalah pria normal, bukan pria sampah.


"Kau sedang belajar?" tanya Emi yang sudah duduk di sebelah Simon.


"Hmm..., tidurlah dengan nyaman," kata Simon sembari menutup naskah yang dibacanya, dan beranjak turun dari tempat tidur.


Mendengar kata nyaman, Emi melihat pakaian yang dikenakannya, "Apakah ini bahan sutera?" tanyanya.


"Hmm...," Simon mengiyakan.


"Pfftt..., Tuan Simon, apakah kau tahu pria tidak boleh mengenakan kain sutera? Kau boleh membelinya dan memberikannya kepadaku," ucap Emi sembari memamerkan piyama set yang dikenakannya. "Seorang pria muslim tidak mengenakan sutera dan emas."


Pakaian dengan potongan badan pria itu tetap membuat tubuh Emi terlihat $exy dan menggoda di mata pria normal seperti Simon.


"Aku tidak akan memberikannya kepadamu!" tegas Simon sembari mengibarkan selimut dan melemparkannya ke Emi hingga seluruh badan gadis itu tertutup selimut.


"Orang pelit tidak boleh marah marah, nanti kuburanmu semakin sempit!" seru Emi setelah menyingkirkan selimut dari wajahnya.


"Oh, dan kau jangan berteman dengan pria tetangga itu," ucap Simon.

__ADS_1


"Mengapa? Aku hanya mencoba berteman dengannya, bukan berpacaran dengannya. Tidak seperti seseorang yang kukenal," cibir Emi.


Eh? sebentar, batin Emi dan membelalakan matanya melihat ke arah Simon yang juga melihat ke arahnya, "Apakah kau melihatku bersama tetangga?"


"Ya, aku melihatmu sedang mencoba menggoda pria yang memiliki anak. Hey Emi, apakah kau marah denganku karena memiliki pacar? Karena itu kau juga ingin melakukan hal yang sama," tebak Simon.


"Apa?!" Emi mengerutkan keningnya menatap Simon. "Hoi! Tuan Simon, apa yang kau pikirkan tentangku? Aku ingin berteman dekat dengannya karena dia seorang ahli IT, kau tahu. Dia seorang jenius, dia masih muda dan terpenting single," jelas Emi dengan memberi tekanan diakhir kalimatnya.


"Apakah kau baru saja memanggilku Hoi?" geram Simon.


Ah dia marah? Batin Emi tiba tiba menciut melihat Simon yang tiba tiba berubah dingin.


"Maafkan aku Tuan Simon yang baik hati." Emi menunduk hormat kepada Simon. Dia tidak boleh membuat tuan rumah marah jika tak ingin kena usir. "Itu karena kau sering memanggilku hey hey."


"Aku tidak akan minta maaf untuk itu, karena aku suka memanggilmu hey."


"Cih," lirih Emi melihat ke sisi lain, "jika kau begitu tidak menyukaiku, mengapa menikahiku. Kau harusnya menikahi pacarmu itu," gerutu Emi.


Simon tertawa kecil, "Nona Emi, kau masih belum mengerti mengapa aku menikahimu?"


Dia masih ingin kuliah dengan tenang di usia yang masih muda.


"Kau salah total. Untuk orang yang tidak ingin menikah sepertiku, kupikir kau adalah orang yang tepat untuk dijadikan seorang istri."


"Mengapa?" tanya Emi sembari bangkit duduk, dia sangat penasaran ada apa dengan dirinya. mengapa dia orang yang tepat?


"Menikah adalah sesuatu yang rumit. Kau harus berbagi ruang, pikiran, terikat dengan tanggung jawab, mempertimbangkan perasaan pasanganmu. Dan yang paling penting kau tidak bebas menjalani hidup dengan caramu sendiri. Menikah denganmu aku tidak akan mengalami itu semua, karena kita tidak tinggal bersama, kita tidak saling menyukai, dan yang paling penting tidak ada apa apa di kepalamu," jelas Simon panjang lebar.


Emi berkedip mencoba memahami apa yang dikatakan Simon. Tetap dia hanya menangkap kalimat terakhir pria itu.


"Ya, ya. Aku mengerti bahwa kau begitu tidak menyukaiku berada di rumahmu. Aku akan pergi ke Georgia di sisa liburanku. Selamat malam," ucap Emi kembali berbaring dan tidur membelakangi Simon.


Apa maksudnya tidak ada apa apa di kepalaku? batin Emi bertanya-tanya dengan kesal.

__ADS_1


"Georgia? Di antara semua negara, mengapa dia ingin pergi ke Georgia?" gumam Simon sembari pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri sebelum tidur. Dia tidak peduli dengan kemana Emi akan pergi, tetapi hanya ingin tahu saja.


Karena ada banyak yang harus dibersihkan Simon, waktu yang dibutuhkannya untuk mandi juga lama.


"Mengapa dia mandi begitu lama?" gumam Emi dari balik selimut yang juga tidak kalah nyaman dari piyama yang dikenakannya. Apa aku kabur saja kembali ke kamarku?


Emi berguling ke sana kemari mumpung Simon masih di kamar mandi, mengapa tidur di sini terasa begitu nyaman? Dia memberikanku tempat tidur ala kadarnya di ruang bacanya. Ck.. Ck.. Dia harusnya memuliakan tamu. Sepertinya dia harus banyak banyak diberi pelajaran, gerutu Emi.


Cklek!


Mendengar suara pintu kamar mandi yang dibuka, Emi segera berguling kembali ke posisi tidurnya semula.


Sementara itu, Simon berdiri diam menatap Emi yang tidur membelakanginya. Apa dia sudah tidur? tanyanya dalam hati.


Tanpa ragu Simon naik ke tempat tidur dan menggunakan selimut yang sama dengan Emi.


Deg!


Jantung Emi berdegup kencang saat merasakan Simon tepat berada di belakangnya. Bisa dirasakannya, wangi segar dan lembab, serta hembusan napas Simon di tengkuknya. Hal yang tidak pernah dirasakannya itu membuat Emi merinding, tetapi syaraf gerak refleksnya berhenti bekerja karena otaknya sudah mengirim sinyal ke seluruh anggota tubuhnya jika pria yang akan tidur di sebelahnya adalah seorang suami.


Jadi tidak akan terjadi kekerasan dalam rumah tangga yang berikutnya.


Bertolak belakang dengan Emi, Simon bernapas lega karena tidak merasakan apa apa. Benar, aku tidak mungkin mencintainya.


Begitu senangnya, Simon tanpa sadar memeluk Emi.


Gadis itu menutup mulut dengan telapak tangannya, karena lengan Simon mengapit erat kedua tangan Emi di depan dada.


Dia mau apa? Apa yang harus kulakukan? Batin Emi bertanya-tanya.


A. Diam saja, dan pura-pura tidur?


B. Bangun, menyingkirkan tangan Simon yang tidak sopan?

__ADS_1


C. Membenturkan kepalaku kebalakang, dan mungkin akan mengenai hidung Simon hingga mimisan?


__ADS_2