
Simon membawa Emi ke sebuah kamar yang didominasi warna abu abu dan putih, dengan sebuah tempat tidur berada di tengah-tengah. Di dua sisi dinding dihiasi dengan buku buku yang tersusun rapi di rak buku.
Sebuah kursi santai menghadap ke jendela.
"Mengapa terlihat suram, nggak ada cerah cerahnya?" gumam Emi dengan menggunakan bahasa Indonesia. "Lampunya begitu terang, kalau dimatikan jadi begitu gelap. Mana bisa tidur kalau begini."
Simon memperhatikan Emi yang terus mengoceh sembari memeriksa kenyamanan kamar itu. "Kau tidak suka kamar ini?"
"Tidak, ini lebih bagus dari kamarku di rumah," katanya sembari tersenyum sopan, dan segera mengalihkan pandangannya dari tatapan tajam Simon.
"Baguslah kalau begitu,"
"Ya, terima kasih," ucap Emi canggung karena Simon masih tetap berdiri di hadapannya. "Jika ada yang ingin kutanyakan, aku akan menanyakannya kepadamu."
Emi menatap pintu keluar, dan kembali menatap Simon. Mengapa dia tidak keluar, dan masih berdiri di sini?
"Ini adalah ruang bacaku, aku baru saja menambahkan tempat tidurnya. Aku tidak berencana untuk hidup bersama denganmu. Tapi kakek tidak boleh mengetahuinya, jadi aku membiarkanmu tinggal di sini sebagai pekerja."
"Jangan khawatir, aku akan bekerja dengan baik," ucap Emi datar. Dia menahan diri untuk tetap tenang. Harusnya dia sudah membiasakan diri untuk menerima kenyataan bahwa dirinya tidak diterima dengan baik oleh masyarakat.
Ketenangan Emi membuat Simon merasa kesal. Dia berharap gadis itu akan marah atau setidaknya menunjukkan wajah kesal. Sehingga dirinya bisa dikatakan bahagia di atas penderitaan orang lain. Ah mengapa juga dia jadi memiliki hobi yang aneh sejak mengenal gadis itu.
"Segeralah menyiapkan makan siang setelah beristirahat lima menit," ucap Simon sembari berjalan meninggalkan kamar itu.
"Baik,"
Emi segera pergi ke dapur setelah mengganti pakaiannya.
Hanya telur, sayuran, dan beras yang dapat dimasak olehnya.
__ADS_1
"Apa kau hanya tahu cara menggoreng telur dan merebus sayur?" komentar Simon ketika mendapati hanya telur dadar dan mata sapi yang ada di atas meja makan.
"Tidak, tetapi hanya ada itu di rumahmu yang bisa kumasak," ucap Emi dengan tenang. Meskipun Simon tidak menyukainya, dia tidak berniat untuk mengambil hati pria itu. Karena Emi yakin dia terlahir untuk dibenci.
"Nona Emi Talenta, apakah kau keberatan dengan pekerjaanmu?" sindir Simon.
Emi tetap dengan wajah datarnya menatap tegas ke arah Simon, "Tuan Simon, aku tahu tempatku sebagai seorang pekerja yang telah dibayar," katanya dingin. Begitu dinginnya hingga mampu membekukan Simon.
Mengapa perasaanku jadi tidak enak? batin Simon. Dia ingin membuat Emi tertekan batin, tetapi mengapa dia yang mengalami tekanan batin?
"Kau tidak memeriksa kulkasku? Ada banyak bahan yang bisa kau masak."
"Aku sudah melihatnya. Maaf, karena mereka tampak asing bagiku, jadi aku tidak memasaknya," ucap Emi. Suaranya terdengar tulus merasa bersalah.
"Asing? Jangan khawatir, aku tidak memasukan babi ke dalam kulkasku."
Emi merubah ekspresi datarnya, ada secuil kebahagiaan mendengar Simon memperhatikan hal itu. "Terima kasih, tetapi meskipun daging sapi dan ayam tidak haram, jika tidak di potong dengan benar, adalah haram."
"Aku membuangnya," tegas Emi.
"Nona Emi Talenta, aku tidak memberimu hak untuk itu!" seru Simon tak kalah tegas. Kali ini dia yakin pertengkaran akan terjadi. Gadis itu akan marah dan meledak.
"Kau tidak akan meminumnya, jadi aku membuangnya. Alkohol juga haram." jawab Emi datar.
Simon tersenyum samar, "tempatmu bukan istriku, jadi jangan memperlakukanku sebagai suamimu."
"Aku tidak pernah menganggapmu sebagai suami," kata Emi dengan tenang.
Mengapa kalau dia yang mengatakannya, harga diriku jadi terluka? batin Simon. Diliriknya lemari tempat penyimpanan minuman alkoholnya yang berharga. Dia bernapas lega koleksi minuman mahalnya masih utuh tersusun di sana. Dia akan mengamankannya secepatnya.
__ADS_1
"Benar, begitu juga dengan aturan muslimmu itu, simpan saja untukmu."
"Apa artinya kau juga tidak akan melakukan ibadah muslim?"
Simon memperhatikan Emi sejenak, haruskah dia mengatakan dirinya tidak bersungguh- sungguh menjadi seorang muslim seutuhnya? Itu hanya agar bisa menikah. Urusannya dengan Emi telah selesai. Dia sudah mendapatkan surat nikah itu, jadi tidak perlu menyembunyikan apapun.
Emi berjalan menuju meja makan, dan duduk dengan tenang. "Kau bisa belajar pelan pelan untuk itu. Meskipun hubungan kita palsu, pernikahan kita tidak palsu. Jika kau mengingkarinya, maka kita harus bercerai," tegasnya. Namun dalam hati, dia tidak yakin apakah memang solusi suami yang membelot adalah cerai.
Cerai? Dia mengancamku? Simon menghela napas.
"Baiklah baik, aku akan belajar pelan pelan. Mohon bimbingannya," katanya bepura- pura tulus yang diperlihatkan secara jelas.
"Kau tidak makan? Kau memintaku untuk memasak makan malam." Perkataan Emi menghentikan langkah Simon yang hendak kembali ke kamarnya.
"Aku memintamu memasak, bukan berarti aku ingin makan masakanmu. Buang saja!"
"Oh,"
Oh? Simon berbalik menatap kesal Emi yang tetap santai menanggapinya. Gadis itu tengah memakan makanan yang dimasaknya tadi dengan tenang. Dia tampak tak terganggu dengan ucapan Simon.
Emi berkedip melihat Simon yang menatapnya penuh tanya. "Apa? Aku membuangnya ke dalam perutku."
Apakah dia tidak mengijinkanku makan karena marah? Ah seharusnya aku tidak usah mencoba mengguruinya menjadi seorang muslim. Batin Emi.
Sebenarnya jawaban Emi sedikit menggelitik Simon. Tetapi dia menahan diri untuk tertawa. Dia harus membangun tembok tinggi dan citra pria kejam kepada Emi.
"Bagus, jangan ada yang tersisa. Kau harus membuang semuanya ke dalam perutmu!"
"Baik,"
__ADS_1
Simon memperhatikan Emi sekali lagi sebelum benar benar masuk ke kamarnya. Melihat Emi yang makan dengan lahap, membuatnya juga ingin duduk di sana memperhatikan gadis itu.