
Yuuren dan Gaara kini tengah duduk di beranda kamar.
Yuuren menghela nafas bosan, sedari tadi tak ada yang dapat ia lakukan. Setidaknya ia ingin melakukan sesuatu yang bisa menghilangkan rasa bosannya.
"Gaara?" panggilnya pelan, dari suaranya Yuuren sudah mulai merasa jengah.
"Hn" jawab Gaara acuh, ia masih sibuk dengan buku yang tengah dibacanya.
"Berapa lama lagi acaranya akan dimulai."
"Aku.... tidak tahu." ucap Gaara setengah ragu.
"Kau?!"
"Hm?"
"Kenapa kau tidak tahu?! Atau kau hanya pura-pura tidak tahu?" tanya Yuuren dengan wajah kesal.
"Kalaupun aku tahu, aku tak akan membiarkan mu keluar dari kamarku." Jawab Gaara tanpa mengalihkan pandangan nya dari buku yang ia baca.
"Apa maksudmu?" tanya Yuuren kesal, ia menatap tajam sahabatnya.
"Aku tak punya maksud apapun padamu." jawab Gaara santai, ia melirik sekilas sebelum kembali melanjutkan membaca novelnya.
"Lantas? Kau akan mengurungku disini begitu?!"
"Bisakah kau diam." tandas Gaara cepat.
"Tidak sebelum kau mau menjelaskan apa maksudmu." tantang Yuuren tanpa rasa takut sedikitpun saat Gaara menatapnya tajam.
"Apa seseorang haru-"
"Yang mulia pangeran, pangeran Sasori datang berkunjung." ucap pengawal memberi tahu.
Gaara mengernyitkan dahinya, heran dengan kedatangan sang sepupu yang menurutnya terlalu mendadak.
Gaara pun membuka kunci serta pintu kamarnya, ia melihat Sasori yang tersenyum simpul padanya.
"Apakah kedatanganku mengganggu?" tanya Sasori dengan nada jahil yang kentara.
"Tidak! Tidak sama sekali" jawab Yuuren riang.
"Kheheheheh.. Kau tampak senang saat aku datang. Ada apa ini?" ujar Sasori setengah terkekeh saat melihat raut cerah Yuuren.
__ADS_1
"Aku hanya bosan berada dalam satu ruangan dengan pangeran es ini." ucap Yuuren datar. Gaara mendelik kesal karenanya.
"Siapa yang kau maksud pangeran es huh?" ucap Gaara tak terima.
"Siapa lagi huh?"
Sasori terkekeh saat mendengar pertengkaran mereka, yang menurutnya kekanakan.
"Acara akan dimulai sebentar lagi dan Gaara, sedari tadi yang mulia Raja mencarimu." ucap Sasori mengingatkan, tepatnya memberi tahu.
"Akan sangat aneh jika mentri dari kerajaan lain mengetahui susunan acara lebih detail dari sang tuan rumah sendiri." ucap Yuuren sembari mencibir.
"Kheheheh.. terimakasih untuk sebuah sindiran yang anda berikan yang mulia pangeran Yuuren, Menteri? Ya aku seorang menteri jika aku berada dalam jangkauan kerajaan Kurosawa. Tapi jika di Takahashi aku adalah seorang pangeran." ujar Sasori datar, entah sejak kapan obrolan ini menjadi serius dan menegangkan.
"Bagaimana bisa? Jangan-jangan kau seorang mata-mata?!" ucap Yuuren setengah bercanda, ia belum menyadari raut yang biasa ramah itu tampak mengatupkan rahangnya keras, seperti menahan gejolak emosi.
"Tentu saja bukan, kenapa pikiranmu jadi sepicik itu? Aku memang seorang pangeran jika di kerajaan ini, hanya seorang pangeran tidak lebih. Tapi di Kurosawa aku akan menjadi menteri. Aku tak pernah mencampur adukan pekerjaan serta pribadi , terlebih aku pun bukan mata-mata seperti yang kau kira." ujar Sasori kesal, tanpa sadar ia menaikan nada suaranya.
"Aku pernah menceritakan tentang kisah seorang Putra Mahkota yang lengser dari tahtanya padamu kan?" ujar Gaara tiba-tiba, Sasori mulai tak menyukai arah pembicaraan ini.
"Yya lalu?" Ucap Tenten ragu.
"Dia lah Putra Mahkota tersebut." ujar Gaara lagi, kini ia melihat sang sepupu berwajah datar sepertinya.
Sasori sadar tatapan itu sama seperti tatapan orang-orang ketika dirinya tak lagi menjabat sebagai putra mahkota. Sasori menatap tajam pada Tenten.
"Aku tak pernah menerima rasa simpatik ataupun kasihan dari siapapun." setelah mengucapkan kalimat datar tersebut Sasori melangkah meninggalkan kedua sosok manusia yang merasa bersalah padanya.
"Bukan begitu maksudku Sasori! Sasori! Hei kembali Sasori!" teriak Yuuren ketika sadar apa yang telah terjadi.
"Gaara, aku melukai perasaannya." ujar Yuuren lirih.
"Sssshtt sudahlah, dia akan mengerti. Kita akan menemuinya kembali setelah acaranya selesai." ucap Gaara mencoba menenangkan sahabatnya.
*****
Disisi lain, tepatnya kerajaan Kurosawa. Mereka tengah diserbu pasukan musuh secara tiba-tiba.
Dilihat dari lambang kerajaan, mereka dari kerajaan Nakamura.
Tanpa peringatan mereka mengajak berperang!
Para prajurit kerajaan Kurosawa tergopoh-gopoh berkumpul melindungi Istana serta Raja mereka dari serangan musuh. Melindungi sebisa mungkin dari serangan mereka yang cukup brutal dalam menghabisi setiap lawannya.
__ADS_1
Magenta terpaku pada pemandangan yang dilihatnya, ia mencoba mengerjapkan matanya berharap semua yang dilihatnya hanyalah bagian dari mimpi. Pandangan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Perang, ia memang pernah mengikuti perang sebelumnya. Perang yang membuatnya kehilangan sosok sang ayah.
Dengan penuh percaya diri Hidan melangkah maju ke medan perang, kali ini bukan padang rumput yang luas. Melainkan Istananya sendiri, demi menjaga para rakyat serta singgahsana nya Hidan rela menjadi benteng pertahanan itu sendiri.
Hidan melangkah dengan gagah sembari menghindari anak panah yang mencoba untuk melukai dirinya. Matanya menelisik, mencari dan terus mencari sosok itu. Dan tepat saat di depan para prajuritnya, Hidan menemukan sosok itu tengah menyeringai kearah nya.
Tanpa rasa ragu Hidan menyerang Temujin, pedang mereka saling beradu. Tatapan sengit serta meremehkan keluar dari pandangan mereka masing-masing.
Para prajurit antusias ikut serta dalam perang melihat Raja mereka yang kini tengah menghadapi musuhnya, mereka pun tak ragu seperti rajanya. Mereka menebas para prajurit yang mencoba menyerang mereka termasuk anggota Akatsuki yang baru bergabung dimedan perang.
Hidan tak menyangka dirinya akan kualahan menerima serangan demi serangan dari Temujin. Lengannya berdarah akibat luka sayatan yang di terimanya dari Temujin. Hidan berdecak kesal karena dirinya melawan musuh tanpa persiapan yang matang, ia juga melupakan baju zirahnya yang biasa ia pakai saat perang untuk melindungi dirinya dari serangan musuh. Darahnya mendidih ketika melihat beberapa prajuritnya tumbang.
"Aku bersumpah, untuk memenangkan perang ini!" bisiknya geram. Magenta menangkap seringai keji yang hadir di wajah musuh.
"Tampaknya ini akan sangat menarik!"
Setelah mengucapkan kalimat itu
Hidan kembali menghunuskan pedangnya pada Temujin. Saling menyerang satu sama lain, seolah tak pernah saling mengenal sebelumnya, seolah tak ada tali persaudaraan diantara keduanya, mereka tampak sibuk dalam pertarungan. Saling melempar tatapan benci juga membunuh, mereka saling menusuk hingga membabi buta. tampak seperti singa yang tengah kelaparan mencari mangsa.
Trrangk!
Trangkrk
Kraak?!
Pedang Hidan patah, namun semangatnya masih membara. Hidan mengambil pedang dari prajurit yang telah tergeletak tak berdaya disampingnya. Magenta selalu menatap awas ke segala sisi. Takut-takut ia kecolongan lalu terbunuh dengan sia-sia di medan perang.
'Tidak! Aku tidak akan kalah!' batinnya menggebu, kemudian menyerang kembali Temujin. Berberapa kali Hidan mencoba melukai lawannya namun gagal, tapi tidak disitu saja. Hidan terus menyerang musuhnya hampir tanpa memberi jeda, senyum puas hadir dibibirnya ketika melihat Temujin terluka karenanya. Baju besi itu terlepas dari tubuh tegap Temujin, dan bertambahlah kepuasan dalam hati Hidan.
'Dengan ini, aku akan lebih mudah mengalahkanmu!' ucapnya dalam hati.
Temujin kembali menyerang, merasa harga dirinya ternodai saat Hidan menyabet baju besi yang dipakainya.
"Sebenarnya aku sempat tak mengerti dengan alasan mengapa kau menyerang kerajaanku, tapi sekarang aku mengerti dengan alasan yang kau buat" desis Hidan sambil menatap tajam Temujin, dahinya berkerut saat melihat musuhnya tampak menertawakan dirinya.
"Heheheheh.. Sayang sekali, mulai sekarang kita adalah musuh. Dan buang saja sikap naifmu itu" balas Temujin seraya tersenyum mengejek padanya.
Hidan tak membuang kesempatannya, ia segera menyerang musuhnya ketika ada sedikit celah yang terbuka. Mengayunkan pedangnya dengan cepat kearah Temujin, kali ini ia mengincar leher lelaki bersurai pirang tersebut.
Hidan tersentak karena Temujin berhasil menangkis serangannya, ia mencoba kembali, terus, terus dan terus. Sampai ia berhasil membuat beberapa luka disana. Bahkan kini jiwa kelamnya mulai bangkit, menebas kepala mereka yang mencoba menggagalkan serangannya untuk membunuh sang musuh.
"Mari kita lihat, siapa yang akan menang disini" desisnya tajam.
__ADS_1
Bersambung..