Secret Of The Kingdom

Secret Of The Kingdom
Misi Penyelamatan 2


__ADS_3

Kelopak mata yang tadinya terpejam kini akhirnya membuka perlahan, mengerjap pelan saat melihat suasana yang asing bagi dirinya.


'Ini dimana?' Ia bertanya dalam hati.


Samar-samar Yukatta mendengar suara dengkuran halus, kemudian Yukatta menoleh kearah samping dan betapa terkejutnya ia ketika mendapati Hayate tidur disampingnya! Diranjang yang sama dengannya!


'Bagaimana ini bisa terjadi?!' Pekik Yukatta dalam hati.


Satu persatu ingatan Yukatta muncul, saat dirinya baru saja menapakkan kakinya di kerajaan Kurosawa tiba-tiba pasukan prajurit dari kerajaan Nakamura datang dan menyerang Kurosawa dengan brutal.


Dirinya yang takut melihat peperangan lantas langsung masuk kedalam istana dan bersembunyi.


Lintasan wajah Genma yang tertawa senang dalam otaknya membuat Yukatta mengeryit jijik.


Tahu pergerakan Hayate yang menandakan pria itu akan terbangun dari tidurnya Yukatta segera memejamkan matanya kembali dan berpura-pura untuk tidur.


Jantungnya berdetak saat tangan Hayate membelai wajahnya.


'Apa yang dia lakukan? Bahkan si brengsek ini berani memyentih wajahku!' Batin Yukatta geram.


'Benar-benar, sialan!'


_______


Sasuke menatap datar perkamen yang tengah dibacanya.


'Jadi perang itu hanya sebentar? Dan pihak keduanya tak ada yang terluka parah atau mati salah satunya? Perang macam apa itu!' Batin Sasuke.


Ia tak habis pikir, bagaimana bisa? Kurosawa membiarkan musuhnya lepas begitu saja. Meski Sasuke tahu jika Kurosawa masih kerabat dekat dengan Nakamura.


'Atau perang ini hanya pengecoh saja?' Batinnya lagi.


Menghela nafasnya pelan, kemudian mengacak rambutnya yang memang sudah berantakan.


"Aku tak habis fikir, kenapa Yukatta tidak menerima pinanganmu. Apa yang kurang darimu." Gumam Mikoto pelan, seketika Sasuke menoleh pada sang ibunda.


"Soal itu, aku tidak tahu apa-apa kaa-san. Dan dia malah menerima pinangan dari raja sialan itu." Gerutu Sasuke kesal.

__ADS_1


Mikoto menggelengkan kepalanya ketika kata kasar keluar dari bibir putra bungsunya.


"Apa sampai sekarang kau masih mengharapkan dia putraku?" Tanya Mikoto lembut.


"Kalau masih bisa.. kenapa tidak?" Bukannya menjawab Sasuke malah bertanya balik. Membuat sang ibu terkekeh samar.


"Lakukanlah.. selagi kau bisa. Ibu akan mendukungmu jika itu akan membuatmu senang." Ujar Mikoto, senyum lembut masih terukir di wajah ayunya.


"Terimakasih ibu.." balas Sasuke. Tak lupa ia membalas senyum sang ibu, meski senyum itu berarti lain.


'Lihat saja nanti..' batinnya.


___________


Sara termenung di pinggir danau buatan yang terletak didekat perpustakaan kerajaan.


Dirinya masih sibuk memikirkan, bagiamana dengan keadaan Yuuren juga Yukatta.


Bagaimana pun mereka tumbuh besar bersama. Bukan hanya Yuuren yang ada dipikirannya, ia juga memikirkan Sasori. Kekasihnya.


Air matanya menetes, dengan cepat Sara menghapusnya. Ia tidak mau ada orang yang tahu bahwa dirinya menangis.


'Semoga kalian baik-baik saja. Dan selamat dari perang itu.' Mohonnya dalam hati.


Tepukan pelan di pundaknya membuat Sara menoleh. Ia tersenyum saat tahu siapa yang menepuk pundaknya tadi.


"Ayah..." gumamnya pelan.


Kakashi tersenyum dan menepuk pelan puncak kepala putrinya, kemudian ia membawa Sara kedalam pelukannya.


"Ayah yakin.. mereka pasti baik-baik saja Sara. Pangeran orang yang kuat. Dia pasti bisa menghadapi musuh-musuhnya." Ujar Kakashi berusaha menenangkan putrinya.


"Iya ayah.. aku pun berharap begitu." Sahut Sara lirih.


"Kau harus kuat, kau juga harus membantu dia sebagai tunangannya." Kali ini Kakashi mengatakan dengan nada sedikit serius.


"Kau harus membantunya mencari tahu siapa musuh yang ada di kerajaan ini." Sambungnya kemudian.

__ADS_1


Sara mengangguk.


"Aku mengerti ayah.. lantas bagaimana dengan ayah? Bukankah itu pekerjaan ayah?" Tanya Sara beruntun.


Kakasih mendelik kesal padanya.


"Ayah harus mengerjakan pekerjaan paman Shikaku karena dia sedang pergi menyusul pangeran." Jawab Kakashi.


"Tapi kan itu bisa di kerjakan oleh Shikamaru?" Tanya Sara lagi.


Kakashi kini mencubit pipi cubby putrinya. "Shikamaru ikut dengan ayahnya."


"Sudahlah.. jangan banyak tanya. Kau harus kerjakan apa yang ayah perintahkan tadi. Mengerti?"


"Iya yah.. aku mengerti."


"Baguslah.."


___________________


Raja Temujin beserta para prajuritnya masih dalam perjalanan untuk pulang.


Namun sayang, nasib baik tak berpihak pada raja Temujin. Di tengah perjalanannya, ia bertemu dengan rombongan dari kerajaan Takahashi.


Raja Temujin menatap nanar pada pangeran Gaara yang tengah menghampirinya.


"Lama tak berjumpa.. Raja Nakamura." Sapa pangeran Gaara saat dirinya sudah berada didekat raja Temujin. Bibirnya melengkung membentuk seringai menakutkan.


Temujin tersenyum miring mendengar sapaan Gaara. "Ya, sekalinya kita berjumpa dalam kondisi yang sangat tidak menguntungkan bagiku." balas Temujin dengan congkak.


Gaara terkekeh, ia tahu apa yang Temujin maksudkan tadi. Pria bersurai pirang itu pasti tau, ia kesini bukan hanya kebetulan semata.


"Apa ini hanya sebuah kebetulan?"


ini bukan pertanyaan sebenarnya, lebih tepat ke pernyataan batin Gaara sinis.


__________________________________

__ADS_1


__ADS_2