
Suasana di istana Kerajaan berubah menjadi tegang setelah kepergian sang putri dari kerajaan. Yuuren yang masih marah terhadap adiknya pun hanya terdiam tidak berkata-kata.
Hingga kini sosok Yukatta telah menjauh pandangan matanya, gadis itu hanya menangis dalam hati melihat kepergian adik kembarnya.
Yuuren menghela nafas, ia teringat kejadian semalam. Ketika sahabat berambut merahnya sudah pergi dari kediamannya, Yukatta datang mendatanginya. Berlutut dan memohon padanya untuk memaafkan dirinya. Gadis itu begitu merasa bersalah dan memohon untuk dimaafkan atas kesalahannya yang berhubungan dengan Sasuke.
Yuuren berbalik pergi menuju aula istana kerajaan, dimana para petinggi kerajaan akan melaksanakan sidang mengenai pembatalan pertunangan Yukatta dan Hidan secara resmi.
Bahu yang sempat terkulai tadi ia paksa untuk tegak kembali demi mendapatkan wibawanya sebagai seorang raja.
__
Di perjalanan, Yukatta duduk sambil melamun. Karena kesalahannya sendiri akhirnya ia menjalani hukuman pengasingan. Itu hukuman termudah menurut sang kakak, tapi tidak untuk Yukatta.
Bagaimana pun gadis itu sudah terbiasa hidup dengan penuh kemewahan. Yukatta menghela nafas, ia belum bisa membayangkan kehidupannya kelak. Gadis itu lagi-lagi menghela nafas panjang, hari-hari yang berat sudah menunggunya didepan mata. Ia akan menjadi rakyat biasa dalam masa pengasingan nanti.
Ia melirik suaminya yang duduk tenang sambil mengendarai kereta. Ya, Shikamaru menolak diantar oleh pelayan. Alhasil mereka hanya pergi berdua untuk pergi ke pedesaan terpencil.
"Kenapa kau menatapku terus? Kalau mau bicara katakan saja?!" ujar Shikamaru santai.
Yukatta mengembungkan pipinya sebal, kenapa harus pria malas ini yang menjadi suaminya? Dia memang pintar dalam segala hal, tapi sikap malasnya membuat Yukatta pusing sendiri.
"Tidak, aku hanya berpikir kapan kita akan sampai." gumam Yukatta lirih.
___
Yuuren menatap datar para petinggi kerajaan setelah ia masuk kedalam Aula Istana, ibu Suri dan Raja terdahulu sudah duduk disamping singgahsananya. Melihat wajah kecewa Ibu Suri membuat hati Yuuren seakan tertusuk sebuah panah beracun.
Meski begitu Yuuren tetap melangkah dengan gagah menuju singgahsananya. Yuuren pun memberi salam pada ibu dan ayahnya sebelum duduk dikursi kebeserannya.
Pandangan Yuuren menyapu keseluruh ruangan, tatapannya bertemu dengan Genma. Ada rasa tidak nyaman saat melihat mata pamannya yang penuh dengan kebencian. Yuuren yang memutuskan tatapan itu.
__ADS_1
"Katakan, apa yang membuat kalian mengadakan sidang ini?" tanyanya dengan nada dingin.
Para petinggi kerajaan saling berbisik, sebelum salah satu dari mereka berani mengangkat suaranya. "Mohon maaf sebelumnya yang mulia, Saya dan para mentri ingin bertanya soal hukuman yang mulia putri Yukatta. Dan mengapa yang mulia membatalkan pernikahan tuan putri dengan raja Hidan?"
Yuuren menelan ludah kasar mendengar pertanyaan ini, jelas pernikahan Yukatta dan Hidan hanyalah pernikahan politik. Yuuren mendengus pelan, pasti mereka merasa dirugikan untuk ini. Dan semuanya adalah keputusannya, pasti mereka akan menyalahkan dirinya.
Sang raja melukis senyum miring, ia menatap bawahannya yang mengajukan pertanyaan tadi.
"Untuk hukuman putri Yukatta, aku rasa kalian tidak boleh mencampuri urusan kami. Aku yang menghukumnya, tentu aku punya alasan. Dan aku rasa, kalian tidak boleh mengetahuinya. Mengenai pernikahan putri Yukatta dan Raja Hidan yang batal, putri sendiri yang memutuskannya. Pernikahan ini pun hanya untuk menjalin hubungan agar semakin erat dengan Kerajaan Kurosawa. Dan kalau kalian merasa dirugikan olehku..." Yuuren sengaja menggantung kalimatnya.
Membuat para mentri semakin gelisah, mereka terlalu meremehkan Yuuren saat ketika pemuda itu menjadi putra mahkota. Ternyata beginilah ketika ia menjadi raja, mereka tidak bisa mengatur raja muda dengan seenak jidat.
Diam-diam Raido tersenyum, ia tidak menyangka putri sulungnya mampu membuat para mentri diam begitu saja.
"Aku membatalkan pernikahan Yukatta dengan Hidan.. karena aku ingin memilikinya. Biarkan aku egois sedikit saja." batin Yuuren sedih.
"Aku rasa tidak ada yang bisa di bahas lagi, dan dengan ini pertunangan Putri Yukatta dan Rqja Hidan resmi dibatalkan." ujarnya sebelum pergi dari Aula istana.
Yuuren tersenyum tipis, ia menatap pria yang lebih tinggi darinya. "Dan memang pernikahan kalian harus diatur oleh persetujuan dariku, dan atas perintah dariku. Kalian tidak bisa melanjutkannya." ucap Yuuren dengan nada enteng.
Yuuren menyuruh para mentri untuk meninggalkan aula istana. Agar pembicaraan mereka tidak terdengar oleh orang lain.
Hidan yang marah langsung menodong Yuuren dengan pedannya. "Kalau begitu, anda sangat egois yang mulia. Kami begitu bahagia saat kami akan melangsungkan pernikahan kami yang hanya menghitung hari. Dan anda seenaknya me.batalkannya begitu saja?" Hidan berdecih. Ia sungguh ingin mengirim Yuuren ke neraka.
Tatapan Yuuren meredup, ia pikir dengan melakukan ini ia bisa mengejar Hidan. Pria yang selama ini selalu mengisi kekosongan dalam hatinya. Namun, takdir memang begitu kejam. Ia seorang raja sekarang, bagaimana mungkin raja akan menikah dengan raja dari kerajaan lain?
"Baka.." umpat Yuuren dalam hati.
Yuuren menatap datar mata pedang yang tertuju padanya, ia membuka mulut. "Apapun keputusanku, tidak bisa lagi diganggu gugat."
Pria berambut perak semakin marah, ia hendak melukai Yuuren namun dengan gerakan tiba-tiba Yuuren dapat menghindari serangan Hidan.
__ADS_1
Ia menyadari, tatapan Hidan padanya tidak bersahabat. Yuuren merasa sakit melihat kebencian itu begitu dalam padanya.
Yuuren menghela nafas, ia memejamkan matanya sejenak. Mengumpulkan keberanian untuk menyatakan isi hatinya. Yuuren tahu, ini terlalu gegabah. Tapi ia tidak tahan melihat pria yang dicintainya begitu membenci dirinya.
"Baiklah, aku akan mengatakan alasannya." ucapnya dengan nada lirih.
Raido menatap putrinya dengan sorot rumit, sedang Kurenai menunggu dengan sikap acuhnya. Walaupun ia marah, namun ia tetap menyanyangi anak sulungnya.
"Kalau begitu cepat katakan!" gertak Hidan.
"Aku menyukaimu, itu sebabnya aku membatalkan pertunangan kalian." ujar Yuuren dengan nada datar.
Hidan merasa linglung setelah mendengar alasan Yuuren. Pria berambut perak itu tanpa sadar melangkah mundur. Bahkan Hidan menurunkan kembali pedangnya. "H-ha.. kau pasti bercanda kan?" ucapnya dengan nada parau.
Baru kali ini Hidan mendengar pernyataan cinta secara langsung, dan kali ini pun Hidan mendengarnya dari seorang pria. Ini membuatnya merasa jijik, ia merasa terpukul.
"Lebih baik anda menghapus perasaan itu, seorang yang menyukai sesama jenisnya dianggap tabu dan menjijikan. Anda seorang raja, panutan semua orang. Aku tidak menyangka, ternyata anda.. menyukai sesama pria." Hidan langsung berbalik dan pergi. Ia akan kembali ke kerajaannya. Ia sudah mendapat jawaban, jujur ia terkejut. Yuuren memiliki keberanian untuk mengungkapkan perasaannya.
Lagi, mereka sesama jenis. Tidak mungkin Mereka bisa bersama.
Yuuren menatap nanar kepergian Hidan, ia ingin sekali berteriak. "AKU SEORANG GADIS." namun mulutnya terkunci rapat melihat tatapan menjijikan dari Hidan.
"Sial, mungkin aku selamanya tidak akan melihatnya lagi." gumam Yuuren lirih.
Raido yang masih disana mendekati putrinya, memeluk Yuuren dalam dekapannya. "Putriku, maafkan ayah."
Tangis Yuuren pecah, ia memukul dada ayahnya pelan. "Kenapa ayah, aku... " Yuuren tergugu. Membuat Raido semakin merasa bersalah, andai ia tidak memaksa putrinya menjadi seorang pria. Putrinya tidak mungkin ditinggalkan seperti ini.
"Untuk apa kau menangisi dia yang tidak mencintaimu?" ujar pria berambut merah. Gaara sedari tadi hanya diam, ia tidak menyangka Yuuren menyukai raja dari Kurosawa.
Yuuren mendongak menatap sahabatnya. "Gaara, kau harus menikah denganku."
__ADS_1