
Hidan menatap datar pada Yuuren dan Yukatta, kemudian secepat kilat raja dari kerajaan Kurosawa tersebut mengubah ekspresi wajahnya. Hidan berjalan menghampiri Yukatta. "Apa kau baik-baik saja puteri?" Tanyanya dengan nada khawatir.
Yukatta mengangguk pelan, ia tersenyum senang. Hatinya sedikit menghangat ketika mendapat perhatian dari calon suaminya.
"Ya yang mulia, saya baik-baik saja." Jawabnya pelan.
Yuuren yang mendapati adiknya begitu bahagia dengan Hidan, sedikit menekan perasaannya. Putra mahkota tersebut memaksakan senyumnya, setelah memeluk sang ayahanda dan ibundanya. Yuuren berjalan melewati pasangan yang tengah dimabuk cinta tersebut.
Yuuren menghampiri Sara, memeluk sahabat sekaligus tunangannya.
"Yang mulia..." Sara agak terkejut dibuatnya. Namun sebagai tunangan yang baik, Sara membalas pelukan Yuuren. "Selamat datang kembali di kerajaan, Pangeran." sambutnya dengan wajah bersemu. Yuuren terkekeh pelan mendengarnya.
"Terimakasih, putri mahkota." balas Yuuren sambil tersenyum tipis.
"Bisakah kau temani aku Sara?" Bisik Yuuren lirih.
Sara mengangguk, lalu mereka meninggalkan halaman kerajaan. Yuuren masih menggenggam tangan Sara.
Kakashi yang melihat itu menghela nafasnya. Kemudian undur diri.
Mereka yang melihat pasangan tersebut tak bisa untuk tidak mendesah iri.
"Ah.. senangnya, jika aku berada diposisi putri mahkota.." ujar salah satu dayang. Mereka tampak mengagumi Yuuren.
"Apa anda baik-baik saja yang mulia?" Tanya Sara saat mereka sampai di kediaman putra mahkota.
Yuuren tersenyum tipis, lalu membuka Hakamanya. "Tolong simpan dulu pertanyaannya putri. Aku ingin segera membersihkan diri." Ujarnya.
Sara yang mengerti pun segera menyuruh dayang istana untuk menyiapkan segala keperluan Yuuren. "Yang mulia.. anda.." kalimat Sara terpotong melihat Yuuren memberinya isyarat untuk diam.
Setelah dayang sudah menyiapkan semua keperluan Yuuren, Sara menyuruh mereka untuk pergi dari kediaman sang putra mahkota. Meninggalkan mereka berdua.
"Terimakasih Sara." Ujar Yukari tulus. Gadis itu hanya menyisakan yukata tipis untuk menutupi tubuhnya.
Yukari pun mulai berendam, ia sedikit merilekskan tubuhnya.
Sungguh harinya benar-benar panjang, rasa penat itu hilang begitu saja ketika ia sampai di kerajaan Tachibana. Sudah beberapa hari dirinya tidak bisa tidur. Bahkan untuk memejamkan mata saja ia tidak bisa.
Sara membantu Yukari mengikat rambutnya. "Jadi, apa yang terjadi ketika yang mulia pergi?" Tanya Sara hati-hati.
Yukari menghela nafas panjang, kebiasaannya ketika sebelum bercerita atau menjelaskan. "Banyak hal yang terjadi Sara, aku sampai tidak bisa menduganya."
"Paman gila dan anaknya itu tega menculik adikku dan membawanya sebagai tawanan ke kerajaan Nakamura." Yukari mengepalkan tangannya erat. Ekspresi wajahnya mengeras, menahan emosi.
__ADS_1
"Kalau saja malam itu aku tidak pergi mengikuti Sasori, mungkin aku tidak tahu apapun yang terjadi di Kurosawa." Tatapannya menerawang mengingat perdebatan dengan Sasori di kerajaan Takahashi.
Sara tidak terkejut lagi mendengar nama pujaan hatinya disebut oleh tunangannya sendiri. "Jadi, yang mulia bertemu Sasori-kun?"
Yukari menganggukkan kepalanya. "Bukan hanya bertemu, ada sedikit perdebatan di antara kami. Tapi akhirnya kami berbaikan, dan dia juga yang sudah membantuku menyelamatkan Yukatta." Jelasnya.
Tiba-tiba Yukari menggenggam tangan Sara. "Bertahanlah sebentar lagi Sara, setelah aku dinobatkan menjadi Raja. Aku akan membantumu untuk bersama dengan Sasori."
Sara terkejut, kemudian menundukkan kepalanya. "Bagaimana mungkin yang mulia? Anda tahu sendiri jika.. jika aku meninggalkan anda.."
Yukari menguatkan genggaman tangannya. "Aku berjanji, itu tidak akan terjadi apa-apa."
"Selama aku masih hidup, aku tidak akan membiarkan mereka bertindak seenaknya saja. Sara, aku berjanji semuanya akan berjalan lancar jika kita berusaha menyingkirkan dia dari hidup kita Sara."
"Kau tahu sendiri hukum di istana bukan?" Tanya Yukari retoris.
Sara tahu, ia sedari kecil sudah mempelajari semuanya diistana. Apalagi sedari kecil ia sudah mendapat pelajaran sebagai putri mahkota untuk mendampingi Yuuren. Sang putra mahkota. "Kalau begitu, saya akan terus berada disamping anda yang mulia."
Yukari tersenyum menggoda. "Tentu saja, kau kan calon istriku."ucapnya dengan nada enteng. Membuat Sara memukul lengan gadis itu.
Yukari tertawa pelan, yah hanya Sara yang membuatnya bisa tertawa seperti ini. Kemudian gadis itu beranjak menyudahi acara mandinya.
Melihat Yukari sudah selesai, Sara bergegas membantu gadis itu.
Yukari sudah berpakaian lengkap, sosoknya terlihat gagah dibalut Hakama berwarna merah maroon. "Ne Sara." Panggilnya.
Sara mendongak menatap sang putra mahkota. "Ya yang mulia?"
"Kau harus menemani ku diacara perjamuan nanti." ujarnya lirih.
"Tentu saja, saya akan menemani anda yang mulia, saya kan calon istri anda." Jawabnya lembut.
Yuuren kembali tertawa, kata-katanya dilempar kembali padanya.
Sara tersenyum tipis, ia senang bisa membuat Yuuren bahagia. "Yang mulia, mungkin jika anda seorang lelaki. Aku bisa saja jatuh hati padamu." katanya dalam hati.
**
Diruang perjamuan, semua orang sudah berkumpul dan duduk dikursi masing-masing.
Raido mengangkat sebelah alisnya melihat bangku Yuuren dan Sara masih kosong.
Kurenai menatap kearah yang sama, kemana kah putrinya pergi? Mengapa lama sekali?
__ADS_1
Pintu pun terbuka, menampilkan Sara dan Yuuren yang berjalan beriringan sambil bergandengan tangan.
Hidan menatap tak suka pada mereka, entah kenapa Hidan merasa benci dengan kedekatan keduanya. Ada apa ini? Mengapa dirinya mempunyai perasaan demikian? Ini tidak bisa dibiarkan begitu saja. Pikirnya heran.
Yuuren pun duduk disebelah kanan sang ayahanda. Dan Sara, duduk disamping Yuuren. Yukatta sendiri duduk disebelah kiri Kurenai. Bersama Hidan yang mendampingi.
"Maaf membuat otou-sama menunggu." Ujarnya merasa bersalah.
Raido hanya tersenyum. Ia sama sekali tidak mempermasalahkannya. Mungkin Yuuren istirahat sebentar di kediamannya.
Bohong jika Yuuren merasa biasa saja, dia sedari tadi menggenggam tangan Sara untuk menjadi tamengnya. Jantungnya berdetak lebih kencang, padahal ia dan Hidan sudah lama tak bertemu. Mengapa ia masih menyimpan rasa pada raja Kurosawa itu?
Sara membalas genggaman tangan Yuuren, gadis itu beriinisiatif untuk menyuapi putra mahkota sekaligus tunangannya. "Yang mulia tolong buka mulut anda..." ujar Sara sambil memegang sumpit berisi daging.
Yuuren terkejut Sara bertindak demikian, namun ia segera membuka mulutnya.
"Ah... aku jadi iri padamu kak." ujar Yukatta tiba-tiba.
"Yah, Yuuren sangat beruntung memiliki Sara sebagai pendampingnya." ujar Kurenai sambil tersenyum. Menggoda mereka.
"Berhentilah menggoda kami ibunda.." ujar Yuuren pura-pura kesal.
Mereka pun mulai makan malam, menikmati jamuannya. Bisik-bisik terdengar saat salah satu dari mereka. Menanyakan tentang keberadaan Genma dan Hayate.
Benar juga, mereka pasti masih ada di kerajaan Nakamura. Batin Yuuren.
"Yang mulia putra mahkota..?" Panggil Sara sedikit keras.
"Ne?"
"Anda... terlalu kuat memegang sumpitnya." Sara memberitahu.
Reflek Yuuren menatap tangannya. "Ah.. aku tidak sadar. Terimakasih sudah menyadarkan ku sayang." Ujar Yuuren sambil mengusap surai Sara.
Membuat suasana sedikit ramai diperjamuan tersebut. Bukan hanya anggota keluarga yang hadir dalam perjamuan tersebut.
Namun para menteri juga hadir disana, maka dari itu ada salah satu dari mereka menanyakan Genma dan Hayate.
"Akan ku buat kau menyesal seumur hidup." Batin Yuuren dan Yukatta secara bersamaan.
****
ssst... jangan lupa like, komen, share, and vote!
__ADS_1