
Setelah mengucapkan salam perpisahan pada sahabatnya. Kelompok khusus dari kerajaan Kurosawa itu meninggalkan area pemakaman kerajaan Takahashi. Hidan membiarkan sahabatnya pergi lebih dulu. Ia masih bertahan dengan Itona di kerajaan Takahashi.
"Yang mulia, apa kita.."
"Kita harus pamit dulu bukan?" potong Hidan dengan cepat. Pria berambut silver melangkah lebih dulu. Itona mengikutinya dari belakang, Hidan benar, tidak mungkin mereka pergi begitu saja setelah mereka diberi kabar tentang Sasori bukan?
Sedang Yuuren dan Sara masih berada di kediaman Temari.
Dan kebetulan Hidan berpapasan dengan Eiji, suami Temari saat Hidan ingin menemui mereka.
"Saya hanya ingin berpamitan." jawab Hidan saat ditanyai mengapa ia mencari Temari. Karena bagaimana pun juga, Temari anak sulung dari Raja terdahulu. Karena saat ini pemerintahan Takahashi belum mempunyai raja baru.
Kandidat putra mahkota belum sah untuk menjadi Raja selanjutnya.
Setelah berganti pakaian, Hidan mendatangi kediaman Temari bersama Itona.
Temari menyambut kedatangan Hidan dengan baik. "Saya meminta maaf pada anda yang mulia, karena tidak sempat memberi kabar pada kerajaan Kurosawa." ujar Temari dengan nada penuh sesal.
Hidan sendiri mengerti, pasti keluarga Sasori begitu terpukul, hingga tidak sempat mengabarinya.
"Tidak apa Putri Temari, saya mengerti. Kepergiannya membuat semua orang bersedih. Saya juga awalnya tidak mempercayai kabar ini, karena belum lama saya melihat dia baik-baik saja." ucap Hidan jujur.
Yuuren memalingkan wajah, ia tidak bisa menatap Hidan terlalu lama.
"Saya kemari ingin menemui Putri, berniat untuk berpamitan." jelas Hidan.
Temari tersenyum sopan. "Terimakasih yang mulia sudah datang. Dan saya mewakili keluarga besar, meminta maaf jika kakak sepupu mempunyai salah pada yang mulia."
Hidan salah tingkah mendapati Temari begitu sungkan padanya. "Anda terlalu sungkan putri, Sasori pria yang baik. Mustahil dia mempunyai salah. Kalau begitu saya pamit." ucap Hidan sebelum meninggalkan kediaman Temari.
"Biarkan saya mengantar anda yang mulia." ucap Temari sambil berdiri. Wanita berambut pirang itu menyeret suaminya. Alhasil Eiji pasrah tertarik istrinya.
Hening.
Yuuren menghela nafas lega setelah Hidan pergi. Kankurou pamit untuk menyiapkan persiapan upacara pernikahan Gaara besok. Kini tinggal Gaara, Sara dan Yuuren.
__ADS_1
"Kau masih menyukainya?"tanya Gaara setelah diam berapa lama.
Yuuren menatap sahabatnya malas. "Aku tidak tau Gaara." karena masalah hati aku tidak bisa mengendalikannya sendiri, sambungnya dalam hati.
Tatapan Yuuren beralih pada Sara. "Kau lelah Sara?" tanya Yuuren saat melihat Sara menahan rasa kantuknya.
Gadis berambut perak itu terlihat tersenyum canggung. "Ya yang mulia, sedikit." jawabnya.
Gaara menatap istrinya dengan lembut. "Istirahatlah, kau bisa tidur dikamar-"
"Dia akan menginap di kediamanku Gaara." potong Temari cepat. Membuat Gaara menatap sang kakak tak suka.
Temari mengabaikan wajah jelek adiknya. "Kalian belum sah meskipun sudah menjalani upacara pernikahan."
"Aku tau kakak."sahut Sara lirih.
Ya, mereka menikah bukan atas nama Takahashi Gaara. Melainkan Tachibana Yuuren.
Yuuren bangkit dari duduknya. "Ayo istriku, kita harus istirahat. Sudah malam." ujar Yuuren sengaja mengejek sahabat berambut merahnya.
Sara menahan tawa melihat tingkah Yuuren. Ia meraih tangan Yuuren dan menggandengnya. "Baiklah suamiku."
Yuuren tak bisa menahan tawanya lagi, lalu keluar dari kamar Temari.
Yuuren masuk kedalam kamar yang biasa ia tempati saat menginap di kerajaan Takahashi. Melihat itu Sara tidak heran, karena perjalinan persahabatan mereka cukup baik.
"Istirahatlah, besok kau harus bangun pagi." gumam Yuuren lirih.
Sara menatap sahabatnya, mengernyit saat Yuuren langsung membaringkan tubuhnya di ranjang. "Yang mulia, anda tidak membersihkan diri dulu?" tanya Sara bingung, tidak biasanya Yuuren tidur tanpa membersihkan diri.
Yuuren yang sudah memejamkan matanya, membuka netra coklat itu kembali. "Disini lebih dingin jika malam, aku tidak mau mengambil resiko.. jika nanti terjatuh sakit." jawabnya santai.
Sara pun ikut membaringkan tubuhnya disamping Yuuren. "Aku baru pertama kali menginap disini, jadi aku tidak tau." gumannya.
"Jika kau masih berbicara lagi, mungkin kita tidak bisa tidur sampai hari esok." celetuk Yuuren sambil memejamkan matanya.
__ADS_1
Sara mencubit lengan sahabatnya, membuat Yuuren mengaduh kesakitan. Setelahnya mereka tertidur.
Sedang di Kerajaan Tachibana, Yukatta yang tengah membersihkan tubuhnya terkejut melihat seseorang masuk kedalam kamarnya.
"Siapa disana." serunya dengan nada tertahan. Jelas Yukatta takut, dirinya saat ini tengah sendirian.
Ia sengaja menyuruh para pelayannya untuk beristirahat karena sudah larut. Ia ingin merilekskan tubuhnya yang terasa penat.
Yukatta bergeming, tak ada suara apapun. Hingga Yukatta merasakan hembusan nafas dibelakang telinganya. Tubuh Yukatta kaku, saat lengan orang itu mendekapnya dari belakang.
"Lancang sekali.. singkirkan tanganmu dari Tubuhku.."gertak Yukatta dengan nada pelan. Ya, dirinya tidak mau membuat keributan ditengah malam, dan apa jadinya bila dirinya dilihat seseorang berada disuatu tempat yang sama dengan keadaannya yang seperti ini?
"Ini aku Putri, apa kau mengenali suara ku?"tanya Sasuke lirih.
Kini Yukata mendongak, sesaat ia terpaku karena wajah mereka begitu dekat. "Mengapa anda menyelinap kemari? Apa tujuan anda?" tanya Yukatta setelah sadar dari kekagumannya melihat wajah tampan Sasuke.
"Jika aku mengatakan, aku merindukanmu. Apa kau percaya Putri?" tanya Sasuke.
Pipi Yukatta terasa panas mendengar kata-kata dari Sasuke. "Sungguh manis sekali mulutmu tuan." sindir Yukatta tajam. Tapi lain, di dalam hatinya Yukatta merasa tersanjung. Namun seketika Yukatta sadar, dirinya tidak memakai pakaian. Walau begitu, tubuhnya tetap tidak terlihat karena banyaknya kelopak mawar di kolam.
"Perbuatan anda saat ini bukanlah seorang ksatria, pergilah sebelum aku berteriak." usir Yukatta secara halus.
Namun bagi Sasuke, ini adalah sebuah kesempatan. Ia melingkarkan sebelah tangannya lagi pada pundak Yukatta. Sasuke menghirup aroma gadis yang dicintainya selama ini. "Aku tidak akan pergi, sebelum aku mendapatkan apa yang ku inginkan." bisiknya rendah.
Yukatta takut, namun dirinya tidak bisa berbuat nekat. Ia terpaksa menurut kali ini. "Apa yang kau mau? Katakan saja."
Mata merah menyala itu semakin intens menatap pujaan hatinya. Apalagi diposisi kali ini membuat Sasuke harus menahan hasratnya.
"Aku ingin memilikimu." ucapnya sebelum menahwan bibir mungil Yukatta yang sedari tadi menggodanya.
Yukatta tidak bisa menolak, selain tenaga Sasuke lebih besar darinya. Dan kondisinya yang tidak berbusana, Yukatta berharap setelah ini Sasuke pergi dari kediamannya.
Awalnya Yukatta tidak membalas ciuman Sasuke, namun karena pria bermata merah tersebut tidak ingin melepaskannya dengan mudah. Yukatta pun mulai terbuai oleh pesona putra mahkota Shibuya.
"Dapat!" sorak Sasuke saat Yukatta membalas ciuman darinya. Sasuke menyeringai, setelah ini ia akan sering mengunjungi Yukatta. Itulah janjinya, ia akan merebut Yukatta dengan cara apapun.
__ADS_1
Setelah Yukatta memukul dadanya beberapa kali, Sasuke melepas ciumannya. "Kau harus mengingatnya Hime, aku menyukaimu." bisik Sasuke sebelum pergi.
Yukatta termenung dan menyentuh bibirnya. "Apa yang kulakukan?" tanyanya pada diri sendiri.