
Genma menarik pelana kudanya dengan kencang, agar perjalanan mereka terhenti. Pria berwajah oval itu menatap dengan congkak pada gerbang kerajaan Tachibana yang berdiri kokoh didepannya.
Beberapa pengawal yang bertugas menjaga gerbang menundukkan kepala padanya.
Genma tersenyum melihat itu semua, berarti posisinya di kerajaan Tachibana masih aman untuk saat ini.
Pria itu turun dari kuda kesayangannya lalu masuk ke dalam istana, sedang putranya Hayate Tachibana mengekorinya dibelakang.
Sedang Yuuren dan Sara yang tengah berjalan menuju kediaman sang Ayah menghentikan langkahnya, menatap penuh benci pada sang paman dan anaknya.
Berbeda dengan Genma yang tersenyum aneh pada keponakan juga putra mahkota kerajaan Tachibana.
"Selamat pagi yang mulia putra mahkota." sapa Genma saat mereka sudah berhadapan dengan Yuuren juga Sara.
Yuuren menahan amarahnya yang bergejolak didada, sebisa mungkin Yuuren mempertahankan wajahnya agar tidak tegang dihadapan Genma. Awalnya Yuuren ingin sekali langsung menghajar wajah Genma, namun Yuuren menyungging senyuman kecil sebelum berbicara. "Sayang, apa kau mendengar suara seseorang?"
Sara yang mengetahui rencana tunangannya pun tersenyum. Kepala gadis itu menggeleng lemah. "Tidak yang mulia, saya tidak mendengar suara apapun selain suara anda ketika berbicara." jawab Sara dengan penuh kelembutan.
Yuuren menatap Sara dengan sorot kelembutan, senyuman manisnya pun ikut melebar. "Sayang, ini masih pagi sekali. Kenapa kau menggodaku?"
Sara tertawa kecil mendengarnya.
Genma yang mendengarnya merasa geram, lalu berjalan melewati mereka begitu saja. Para dayang yang mendampingi Yuuren dan Sara terkikik geli melihat perdana menteri diperlakukan seperti itu oleh putra mahkota mereka.
Meski mereka tak habis pikir, mengapa pangeran mereka bertindak demikian. Namun mereka cukup terhibur dengan pertunjukan itu, jarang sekali ada yang berani menyinggung adik dari Raja mereka.
Yuuren menggenggam tangan Sara, membuat sahabatnya itu terkejut dengan tindakannya. Lalu Sara mengalihkan pandangannya pada Raja Kurosawa dan putri Yukatta.
"Yang mulia.. anda." ucapan Sara terpotong saat Yuuren mengikis jarak diantara mereka.
"Apa ada hal yang lebih menyakitkan hati dari melihat orang kau suka bersama dengan saudaramu sendiri?" bisik Yuuren tepat didepan wajah Sara.
Para dayang memekik melihat Yuuren mendekati Sara, para dayang menundukkan kepala mereka karena mereka merasa tak pantas melihat adegan yang berada didepannya. Padahal, Yuuren hanya mencium Sara dikening. Sedangkan para dayang mengira, mereka saling memagut.
cih, kotor sekali pikiran kalian. gumam Yuuren dalam hati.
__ADS_1
Bohong jika Hidan tidak melihat interaksi Yuuren dengan Sara, namun pria itu mengalihkan tatapannya kearah lain.
"Ini benar-benar aneh, jelas-jelas dia seorang pangeran.. mengapa aku merasakan hal seperti ini?" batin Hidan heran.
Bertahun-tahun sudah Hidan mencoba melupakan gelenyar aneh saat berada ditempat yang sama dengan putra mahkota dari kerajaan Tachibana itu. Namun, sepertinya ia tidak bisa melupakannya begitu saja.
"Aku harus memastikannya sekali lagi." ujar Hidan tanpa sadar mengatakannya.
Yukatta refleks menoleh menatap calon suaminya. "Yang mulia, apakah anda mengatakan sesuatu?" tanyanya.
Hidan melukis senyum lembut, lalu mengajak Yukatta menjauh dari jangkauan Yuuren. Itu tidak terlalu bagus untuk kesehatan jantungnya. "Tidak, mungkin saja kau salah dengar Yukatta. Aku tidak mengatakan apapun." kilahnya.
Sara yang melihat kepergian mereka pun merasa lega. "Yang mulia, mereka sudah pergi. Ayo kita temui Ayahanda." ajak Sara pada sahabatnya.
Akhirnya, mereka bergandengan tangan sampai di kediaman sang Raja.
Kedatangan mereka diumumkan oleh kasim yang berjaga didepan pintu.
Yuuren lebih dulu masuk kedalam kediaman Ayahnya setelah pintu terbuka. Yuuren mengucap salam pada sang ayah, dan gurunya yang sudah berada disana.
Yuuren memberi senyum tipis pada guru juga calon mertuanya.
Raido menghela nafas, lalu sang Raja menatap putranya. "Kakashi mengunjungiku pagi-pagi sekali, dia berkata kalau kalian ingin membicarakan suatu hal. Apa itu?" tanya Raido pelan.
Yuuren menahan nafas sebentar, kemudian mengeluarkannya perlahan. "Ya ayah, ada masalah kemarin malam." ucap Yuuren dengan nada tenang.
"Ada beberapa penyusup yang datang ke kediaman putri mahkota, mereka berniat melecehkan calon istriku. Jika saja saat itu aku datang terlambat, mungkin saja Sara.. tidak bisa ditolong." jelas Yuuren pada sang ayah.
Raido cukup terkejut mendengar penjelasan dari putranya, ia menatap Sara dengan sorot khawatir. "Apa kau baik-baik saja?"
Gadis berambut perak sedikit menyunggingkan senyuman, lalu mengangguk. "Ya yang mulia, saya baik-baik saja."
Raido menghela nafas lega sambil mengucap syukur. "Syukurlah... Apa mereka sudah tertang-" pertanyaan Raido terpotong oleh putranya.
"Maaf Otou-sama, mereka telah kuhabisi saat itu juga." ucap Yuuren dengan nada dingin.
Sara menatap Yuuren saat itu juga, ketika mendengar jawaban dari putra mahkotanya. "Putri.." batin Sara sedih.
__ADS_1
Yuuren mengusap rambut abu milik Sara. Mencoba menenangkan sahabatnya. "Jangan menatapku seperti itu, aku sudah terbiasa menghadapi situasi seperti ini."
"Tapi yang mulia, itu bahaya sekali untuk keselamatan anda." elak Sara
Kakashi tersenyum maklum, pasti Sara sangat ketakutan. "Yah, dia sangat menyayangimu nak. Putra mahkota langsung mengunjungi ayah malam-malam setelah membasmi mereka." ucap Kakashi akhirnya.
Raido menatap putranya. "Kenapa tidak langsung menghubungi Ayah?"
Yuuren tersenyum, ia menjawab dengan enteng. "Karena Sara anak paman Kakashi."
Raido menghela nafas mendengar jawaban dari putranya. "Tapi kau putraku. Tentu saja aku khawatir padamu nak."
Yuuren tersenyum. "Lebih baik kita mengganti topik pembicaraannya Otou-sama. Aku dan Sara, juga paman Kakashi datang mengunjungi Otou-sama ingin membicarakan poin penting dari masalah ini."
Yuuren menarik nafas, lalu menghembuskannya. "Sebenarnya butuh keberanian untuk mengatakan hal ini, tapi aku sudah berpikir secara matang untuk rencana ini."
Ketiganya dengan sabar menanti kelanjutan kata-kata Yuuren.
"Aku ingin Sara tinggal bersamaku, setidaknya Sara akan tetap aman jika berada disampingku."
Baik Sara maupun Raido terkejut dengan keputusan Yuuren, tapi tidak dengan Kakashi. Karena sebelumnya Kakashi sudah lebih dulu tau rencana Yuuren.
"Tapi nak, kalian belum menikah." ujar Raido ragu.
Yuuren tersenyum simpul. "Soal itu percayakan saja padaku Otou-sama."
Raido menebak Yuuren sudah punya rencananya sendiri, setelah melihat wajah putranya yang diselimuti senyum licik.
"Oh ya, Otou-sama, tadi sebelum aku berkunjung kemari aku bertemu dengan paman." ujar Yuuren memberitahu.
Raido menegang, ia menatap putranya. Khawatir karena bahaya akan kembali datang pada Yuuren.
Mengerti dengan kekhawatiran sang ayah, Yuuren memberi senyuman tipis. "Otou-sama tenang saja, aku sudah bersiap untuk melawan mereka."
"Tapi ayah takut kamu akan terluka." Raido menatap sedih.
"Ini belum apa-apa Otou-sama, aku harus siap ketika aku harus menjadi Raja nanti."
__ADS_1
Benar, Yuuren sudah mempersiapkan semuanya. Rencana yang ia susun telah matang.
"Tunggu saja pembalasan dari ku paman."