
Setelah acara perjamuan selesai, Yuuren menemui ayah dan ibunya. Sang putra mahkota kini duduk dan menatap sang raja. "Yang mulia, saya ingin meminta izin untuk mengunjungi kerajaan Takahashi." ucap Yuuren dengan nada tenang.
Raido mengernyit, ia menatap putrinya dengan sorot teduh. "Lalu apa alasan kunjunganmu ke sana putra mahkota?" tanyanya.
Yuuren menatap Sara sebentar, lalu kembali menatap Raido. "Sejujurnya Otou-sama, aku ingin menghadiri pemakanan pangeran Sasori." jawabnya.
Raido menatap Kurenai, ia meminta persetujuan untuk putra mahkotanya. Raido mengenal Sasori, pria berambut merah yang telah menyelamatkan si kembar dan pria berambut merah itu pun sahabat dari Yukari. Tidak mungkin Raido tidak mengijinkan putrinya untuk menghadiri di upacara pemakaman Sasori. Kurenai menatap putrinya lekat, disana ada tekad yang kuat. Kurenai pasti tidak akan bisa menahan putri sulungnya.
"Pergilah putraku, namun Kaa-san hanya ingin berpesan. Berhati-hatilah." ucap Kurenai dengan senyuman tipis. Ia tidak bisa berbicara banyak, namun Kurenai Yakin. Putri sulungnya pasti mengerti apa yang ia maksud.
Putra mahkota tersenyum pada sang permaisuri, lalu mereka berdua pamit undur diri. Yuuren dan Sara harus beristirahat untuk perjalanan besok.
Sepanjang perjalanan dan sampai di kediaman Yuuren, Sara masih diam. Yuuren menghela nafas, pasti besok adalah hari yang berat untuk sahabatnya.
"Sara tidurlah, ini sudah larut." gumam Yuuren setelah masuk kedalam kamar.
Sara hanya mengangguk pelan, lalu berbaring disamping Yuuren. Mereka pun jatuh tertidur.
**
Sudah tengah malam, namun Hidan tidak bisa memejamkan matanya. Pria berambut perak itu masih teringat dengan kata-kata dari Yuuren. "Kenapa putra mahkota tidak bicara secara langsung saja?" gumamnya pelan.
Hidan yang baru kembali ke kerajaan terkejut mendengar pernikahan Yuuren dan Sara. Ia terpaksa untuk kembali ke kerajaan Tachibana untuk menghadiri pernikahan Yuuren dan Sara.
Hidan menghela nafasnya, ia agak gusar karena belum menemukan sahabat berambut merahnya. "Baru kali ini dia menghilang tanpa kabar. Aku memberinya izin untuk menjaga Yukatta. Tapi dia bahkan tidak ada disampingnya."
Hidan memutuskan untuk kembali berbaring, karena besok setelah bertemu dengan Yuuren di perbatasan ia akan kembali ke kerajaannya.
**
Pria bertato ai itu baru sampai di kerajaannya, ia menyerahkan kudanya pada kasim. Lalu Gaara berjalan menuju kediamannya.
Sedang pria berambut cokelat gelap tengah berjalan menyusulnya. "Tunggu Gaara!" teriaknya lantang, berharap sang adik mendengar suaranya.
Pria berambut merah berbalik setelah mendengar teriakan dari kakaknya, ia menatap datar pada Kankurou.
__ADS_1
Pria bermata sayu itu menghela nafasnya.
"Apa persiapannya sudah selesai?" tanya Gaara setelah Kankurou berdiri didepannya.
Kankurou mengangguk pelan. "Aku pikir kau akan kembali besok."
Gaara menggeleng, ia melanjutkan langkah kakinya. "Bagaimana dengan reaksi Temari?" tanya Gaara lagi, pasalnya pria itu takut jika Temari hilang kendali.
Kankurou sendiri berjalan disampingnya. "Tidak seperti yang kau bayangkan, dia sudah lebih bisa mengontrol emosinya, memang dibantu pangeran Eiji juga." gumam Kankurou sambil mengingat kejadian tadi siang.
"Hm, begitu." gumam Gaara pelan. "Tolong siapkan untuk upacara pernikahanku juga Nii-san." ujar Gaara dengan nada tenangnya.
Kankurou terkejut, pria berambut cokelat itu mematung. Gaara sendiri sudah melangkah jauh, meninggalkan Kankurou yang mematung ditempatnya berdiri tadi.
"Dia bilang dia akan menikah bukan? Atau aku saja yang salah mendengar?" tanyanya pada sendiri. Kankurou pun sadar, secepat kilat ia mengejar Gaara.
"Gaara! Benar kau akan menikah?!" serunya saat berada di kamar Gaara.
Pemilik rambut merah itu mendelik kesal. Lantaran suara kakaknya terlalu berisik. "Iya Kankurou, tolong persiapkan semuanya untuk besok!"
Kankurou mengaga mendengar kejelasan dari adiknya. "Tunggu, lalu siapa calonnya?" tanya Kankurou bingung. Sejauh ini Gaara tidak dekat dengan siapa pun, ada pun putri mahkota Matsuri.
Tapi malam ini, mendengar sang adik ingin menikah. Tentu saja membuat Kankurou terkejut setengah mati, menurutnya.
Gaara menatap kosong, ia teringat gadis berambut peraknya. "Kau tenang saja, persiapkan saja acaranya. Kau akan tahu besok." ucap Gaara dengan nada tenang.
Kankurou memijit pelipisnya, adiknya ini terlalu tenang. Membuatnya ingin sekali memukul kepala merah adiknya. "Baiklah, aku akan siapkan. Aku juga akan memberitahu Temari."
Sebelum Kankurou membuka pintu kamarnya. Gaara berkata. "Tapi tolong rahasiakan pernikahan ku dari para petinggi kerajaan."
Kankurou berbalik menatap adiknya. "Kenapa begitu?" tanyanya heran. Sepintas alasan muncul diotaknya. "Kau tidak menikahi seorang kriminal bukan?" tebaknya asal.
Karena tebakannya, Kankurou mendapat tatapan tajam dari Gaara.
"Baiklah baiklah, aku akan pergi sekarang." ucapnya sambil berlalu.
__ADS_1
Gaara menghela nafas lalu ia berbaring. Perjalanan yang cukup jauh membuat dirinya merasa lelah.
Kankurou sudah sampai di kediaman Temari. Pria itu nekat menerobos kediaman kakaknya ditengah malam begini. Karena ia harus menyampaikan berita soal pernikahan adik bungsunya.
"Minggir kalian, aku ingin bertemu dengan Nee-sama." tegasnya pada kedua pengawal yang berdiri di kamar Temari.
Mendengar keributan di luar kamarnya membuat Temari penasaran.
"Kau mau kemana putri?" tanya Eiji heran.
Temari berbalik, ia menatap suaminya. "Kankurou meminta bertemu. Aku harus bicara dengan pengawal agar adikku bisa masuk." jawabnya tegas. Tidak mungkin Kankurou datang memgganggu jika tidak genting keadaannya.
"Masuk!" teriak Temari lantang.
Diluar kamar Temari, Kankurou menyeringai senang. Ia berdiri angkuh didepan kedua pengawal yang menjaga kamar kakaknya.
"Kenapa kau menggangguku malam-malam begini?"tanya Temari ketika adiknya sudah masuk.
Kankurou menggaruk kepalanya tidak gatal. Ia tidak tau harus memulai dari mana. "Kakak, Gaara bilang dia akan menikah." ucap Kankurou dengan nada cepat.
Temari yang sedang minum tersedak. "uhuk!" wanita berambut pirang itu menatap adiknya tak percaya. "Kau tidak sedang bercanda bukan?" Kankurou menggelengkan kepalanya. "Sungguh? Kau tidak main-main?" tanya Temari sekali lagi.
Kankurou lagi-lagi menggelengkan kepalanya. "Aku mendengarnya sendiri tadi Nee-sama." ujarnya dengan nada sesabar mungkin.
Temari merasa bahagia, akhirnya adiknya mau menikah juga.
Kankurou teringat kata-kata dari adik bungsunya. "Kak, Gaara bilang. Rahasiakan pernikahan ini dari para petinggi kerajaan." ucap Kankurou dengan nada lirih.
Baik Eiji maupun Temari mengerut bingung. "Mengapa Gaara ingin merahasiakan pernikahannya?" tanya Eiji mewakili Temari.
Kankurou mengendikkan bahu. "Aku tidak tahu alasannya, karena hanya itu yang diinginkan Gaara." ucapnya jujur.
Temari meremas tangannya. Merasa kesal dengan keputusan Gaara yang berniat menyembunyikan pernikahannya. "Ada apa sebenarnya? Kenapa dia ingin menyembunyikan pernikahannya?" tanyanya pada diri sendiri.
Eiji menpuk bahu Temari pelan. "Gaara mungkin punya alasannya sendiri, dan mungkin untuk sekarang. Dia tidak bisa memberitahu kalian." ucapnya.
__ADS_1
Kedua kakak Gaara itu mengangguk pelan, masuk akal juga apa yang dikatakan Eiji. Ya, mereka akan menunggu Gaara mengatakan alasannya mengapa ingin menyembunyikan pernikahannya dari orang-orang.
Note : Semoga kalian tetap suka yaa.. jangan lupa dukung terus Secret Of The Kingdom.. sankyu 😉