
6 Tahun kemudian
"Nii-san, apa aku mengganggumu?" ucap Yukatta pada Yuuren yang tengah duduk di gazebo.
"Tidak, tentu saja tidak Yuka-chan. Aku tidak merasa terganggu sama sekali." balas Yuuren tersenyum tipis kemudian menggeser duduknya memberi ruang untuk Yukatta.
"Apa kelasmu sudah berakhir?" tanya Yuuren pelan namun masih terdengar jelas.
"Ya kelasku sudah berakhir dari setengah jam yang lalu." jawab Yukatta sambil mengerucutkan bibirnya, Yuuren yang melihatnya hanya tersenyum.
Ia melirik Yukatta dari ekor matanya, raut wajah sang adik tampak kesal namun ia pura-pura tidak tahu. Yuuren tidak akan bertanya sebelum Yukatta sendiri yang cerita.
Mereka tengah menikmati pemandangan indah yang tersaji di sekitar gazebo, bunga sakura yang bermekaran di musim semi menambah kesan tersendiri.
"Kau beruntung nii-san." ucap Yukatta tiba-tiba.
Yuuren menatap Yukatta dengan tatapan tak mengerti.
"Kau sangat beruntung dilahirkan menjadi seorang laki-laki. Terlebih kau seorang pangeran." ucapnya di perjelas.
Yuuren tersentak sebelum membuang pandangannya kesembarang arah, bibirnya terkatup rapat.
"Aku merasa Otou-sama lebih menyayangimu dan terlebih kau adalah pewaris tahta kerajaan aku melihatnya sendiri, dimatanya menaruh harapan yang sangat besar padamu."
"Walaupun aku berada didekatnya kurasa ia tidak memandangku sama seperti memandangmu, padahal yang berbeda hanya jenis kelamin aku juga anaknya tapi mengapa sikapnya berbeda jika denganku" sambungnya kemudian wajah cantiknya menjadi murung saat mengatakan hal tersebut.
"Kenapa kau berbicara seperti itu Yukatta." ujar Tenzo datar, ia mencoba untuk bicara senormal mungkin karena sesuatu dalam dirinya mendesak ingin keluar.
"Karena memang itu yang kulihat, apakah aku akan dihukum karena berbicara seperti ini? Ah aku harus ingat seorang putri tak seharusnya berbicara tak sopan pada seorang pangeran bukan? Ah.. maaf ku ralat. Seorang putra mahkota."
Yuuren terdiam tak tahu ingin menjawab apa, bibirnya mendadak kelu dan pikirannya pun bimbang.
"Nii-san juga bebas memilih calon istri sedang aku? Aku akan dijodohkan dengan pilihan Otou-sama, apa itu adil?"
Yuuren tak tahu pembicaraan ini sampai kapan akhirnya, namun dengan sekuat tenaga ia mencoba untuk menahan gejolak emosinya agar tidak meledak.
"Kenapa kau mengungkapkannya padaku bukannya pada Otou-sama?" tanya Yuuren lirih.
Yuuren melihat burung yang terbang dan hinggap di dahan pohon seandainya ia juga bisa terbang bebas seperti burung tadi ia juga akan terbebas dari beban yang ia tanggung selama ini, kemudian ia beralih menatap Yukatta.
"Aku takut T-"
"Setidaknya bicaralah padanya, ungkapkan apa yang kau inginkan agar mereka mengerti." ujar Yuuren sambil tersenyum tipis, walau hatinya berdenyut perih.
"Tapi nii-san aku takut ka-"
"Kau percaya padaku kan?" tanya Yuuren pelan, Yukatta mengerang kesal namun ia mengangguk setelah menatap mata Yuuren.
Yuuren meraih Yukatta kedalam dekapannya yang hangat, mencoba untuk berbagi apa yang tengah ia rasakan pada saudaranya.
"Nii-san kau bau!" ucap Yukatta tiba-tiba sambil melepas pelukan saudara kembarnya.
Yuuren terdiam ia baru sadar kalau dirinya belum sempat mengganti yukata paska setelah latihan malah ia berjalan kemari dan menikmati semilir angin dan ia juga melupakan Hakama yang biasa di pakainya.
"Benarkah? Kurasa aku tidak sebau itu ne Yuka-chan?" tanya Yuuren sambil tersenyum jahil.
"Tetap saja kau bau nii-san." jawab Yukatta sambil tersenyum mengejek.
Yuuren tersenyum kecil setelah melihat air muka Yukatta yang berubah seperti biasanya tidak seperti tadi.
"Baiklah aku mengakuinya, aku memang bau." ujar Yuuren mengalah. Sedang Yukatta berdiri tiba-tiba dengan ekspresi shock.
Yuuren menaikan alisnya heran, ada apa lagi sebenarnya?
"Yuka-cha-"
"Gawat nii-san! Aku dalam bahaya?!" ujar nya histeris, sedangkan Yuuren semakin menautkan alisnya.
"Ada apa?"
"Aku lupa ada kelas tambahan! Aduh bagaimana ini" Yukatta mondar- mandir dengan gelisah.
"Hei tenanglah sedikit, lalu siap-"
"Bagaimana aku bisa tenang nii-san? Anko-sensei pasti akan menghukumku kau tau sendiri kan?"
__ADS_1
"Tenanglah aku akan mengantarmu untuk menemuinya dan berbicara sedikit agar dia tidak menghukummu" ujar Yuuren menenangkan, Yukatta menatapnya dengan tatapan terharu dan langsung menerjangnya dengan sebuah pelukan.
"Arigatou ne onii-chan." ucapnya gembira, Yuuren hanya tersenyum tipis.
"Ayo kuantar?"
"Hai"
Mereka pun beranjak dan menuju kediaman Anko-sensei dengan bergandengan tangan, langkah mereka sedikit lambat karena Kimono yang dipakai Yukatta.
"Nii-san setelah ini apa yang kau lakukan?" tanya Yukatta di tengah perjalanan mereka.
"Hmm, berkuda aku harus berkuda setelah ini." jawab Yuuren pelan.
"Apa aku boleh berkuda juga?" tanya Yukatta pelan.
Yuuren meliriknya sebentar sebelum mengalihkan pandangannya kembali kedepan.
"Entah, tapi jika kau mau bagaimana bila berkuda denganku?" Yuuren menawarkan diri, yang diangguki oleh Yukatta adiknya.
Tangan mereka masih bertautan sampai akhirnya ruangan yang mereka tuju ada didepan mereka.
"Yang mulia putera mahkota." ucap Anko dengan membungkuk sedikit gestur hormatnya.
"Dia terlambat karena saya sensei, kami berbicara banyak hal sehingga lupa waktu jadi gomene sensei." ujar Yuuren sambil tersenyum tipis.
"Hai, lain kali mohon jangan diulang pangeran, putri harus belajar banyak karena ia tertinggal dimata pelajaran saya." ujar Anko sambil menatap tajam Yukatta.
Yukatta bergidik ngeri karena ditatap seperti itu, ia mengeratkan gandengan tangannya pada Yuuren.
"Baiklah saya permisi sensei" ucap Yuuren setelah melepas tautan tangannya pada Yukatta.
"Tapi nii-san ak-"
"Tak apa nanti kita akan bicara lagi setelah kau selesai."
"Yang mulia Pangeran, anda diperintahkan untuk menghadap pada yang mulia Raja." ucap seseorang pada Yuuren, seketika mereka menoleh dengan serentak pada orang tersebut.
"Kenapa kau memanggilku seperti itu Sara? Sudah kubilang kau harus panggil namaku saja." ujar Yuuren lembut.
"Yuuren, hanya Yuuren..Sara." ucapnya lagi dengan nada tegas namun tatapannya lembut. Sara hanya mengangguk namun rona dipipinya hadir.
Yuuren tersenyum lembut kemudian menggandeng tangan Sara dan berlalu dari kediaman Anko, mereka terus bergandengan tanpa memperdulikan sekitar.
Anko dan Yukatta seolah menonton drama ketika melihat Yuuren bersama Sara tunangannya.
"Putri, apa bisa kita mulai sekarang?!" tanya Anko dengan nada dingin, Yukatta hanya mengangguk kaku sebagai jawaban. Ia selalu lolos, tapi kali ini ia tidak bisa lari kemana pun.
****
Saat ini Yuuren dan Sara ada di kediaman Sara, ya Yuuren berbohong pada Yukatta soal berkuda tadi. Yuuren hanya ingin menghindari waktu yang lebih lama dengan Yukatta.
Kini mereka tengah menikmati teh yang dibuat oleh Sara, Yuuren juga sudah mengganti yukatanya dengan hakama. Mereka terlarut dalam pikiran masing-masing.
"Yang mulia." panggil Sara pelan dan memecahkan keheningan yang ada.
Yuuren menoleh sebentar lalu pandangannya jatuh ke bunga sakura yang tumbuh didekat kediaman Sara.
"Kenapa anda berbohong pada Putri?Bagaimana jika putri tau jika anda berbohong padanya?" tanya Sara hawatir.
Yuuren hanya memandang datar sahabatnya, ya Sara adalah sahabat masa kecilnya. Dia adalah anak dari senseinya Hinata Kakashi dan Fukuda Naomi. Mereka dekat karena Yuuren selalu datang kerumah Kakashi untuk latihan. Sara mewarisi rambut merah ibunya bukan rambut abu ayahnya.
"Yang mulia." tegur Sara kesal karena tak mendapat jawaban.
Yuuren tersenyum melihat sahabatnya yang kini cemberut dan menatap kesal padanya. Yuuren masih memikirkan pembicaraannya dengan Yukatta saat di gazebo tadi, banyak sekali pikiran yang membuatnya pening.
"Aku hanya ingin menghiburnya sedikit."
Sara diam mendengarkan, ia tak akan menyela karena Yuuren tidak akan mau menjelaskannya lagi.
"Bagaimana bisa ia berpikir begitu? Kenapa ia iri padaku padahal menurutku Otou-sama dan Okaa-sama tidak membedakan kami. Bagi mereka kami sama berharganya." ujar Yuuren lirih.
"Bagaimana bisa pikirannya sepicik itu Sara?!" ujar Yuuren sedikit keras, dari suara dan nadanya seperti putus asa.
"Tenanglah yang mulia, mungkin karena Putri masih tidak tau jadi beliau berpikir begitu."
__ADS_1
"Ya, kami memang merahasiakannya dari Yukatta, ini juga demi keamanan kerajaan aku setuju menjalankan rencana gila ini karena aku memikirkan rakyatku dan keluargaku. Jika saja.. aku lahir dikeluarga biasa. Aku bahkan tidak akan segila ini. Maaf Sara, karena aku membuatmu terlibat juga." kata Yuuren panjang lebar.
Dahinya berkerut samar karena masih sibuk berpikir, kemudiam Yuuren menghela nafasnya pelan.
"Aku tak tahu sampai kapan aku bisa bertahan Sara." ujar Yuuren lirih pandangannya jatuh pada cangkir teh yang kini ada didepannya.
"Jangan bicara hal seperti itu yang mulia, kami tidak masalah yang mulia, saya senang bisa membantu anda yang mulia. Saya senang karena yang mulia percaya pada saya. Dan apapun akan saya bantu bila saya masih bisa, karena saya senang bisa membantu anda yang mulia." ucap Sara tulus.
Yuuren terenyuh dengan kebaikan Sara, seandainya ia adalah seorang lelaki normal pasti ia akan jatuh cinta pada gadis Crimson tersebut. Namun dalam hati ia tertawa menertawakan kebodohannya.
Bagaimana ia berpikir jauh begitu?
Ia adalah seorang gadis sama seperti Sara, mungkin dengan jalan-jalan sebentar akan memperbaiki sistem otaknya.
"Sara." panggilnya pelan dan disahuti gumaman oleh Sara.
"Ada apa?" tanya Sara bingung.
"Apa kau mau menemaniku jalan-jalan sebentar?"
"Kurasa itu bukan ide yang buruk yang mulia."
"Baiklah kalau begitu. Ayo!" ajak Yuuren sambil tersenyum lebar. Sedang Sara hanya tersenyum lembut.
Mereka pergi mengelilingi Istana dan sampailah mereka danau buatan dekat perpustakaan.
"Yang mulia." panggil Sara pelan dan ragu. Yuuren hanya meliriknya sekilas namun Sara tau kalau ia dapat ijin untuk membuka suaranya kembali.
"Bagaimana bisa yang mulia kenal dengan Sasori-kun?" tanya Sara heran.
Yuuren tersentak kemudian ia tersenyum karena mengingat perkenalan dirinya dan Sasori sahabatnya juga namun berbeda kerajaan, Sasori sesekali mengunjunginya atau lebih tepatnya mengunjungi kekasihnya Sara.
"Ceritanya sangat panjang, aku malas menceritakan pria pendek itu." jawaban yang sangat singkat.
Ada rasa dongkol saat Yuuren mengatai Sasori pendek.
"Begitu"
"Hm, bagaimana denganmu? Kenapa kau bisa kenal dan sekarang kau menjalin hubungan dengannya?" tanya Yuuren penuh selidik.
Sara merona karena pertanyaan Tenzo, ia memutuskan untuk mengalihkan pandangannya kearah lain.
"Sara apa kau mau bercerita?" tanya Yuuren pada Sara yang masih tersipu malu.
"Hm, aku tak memaksa jika kau tak mau cerita padaku." ucapnya dengan wajah murung yang di buat-buat. Sara gemas sendiri saat melihatnya.
"Yang mulia." sapa seseorang mengganggu Yuuren dari aktivitas menggoda Sara.
Yuuren hanya mengangguk sebagai balasan salamnya, Yuuren tak menyukai orang ini orang yang akan menghancurkan masa depan kerajaannya.
"Apa kehadiran saya mengganggu anda yang mulia?" tanya orang itu. Lagi.
"Tidak kok paman Genma, kami hanya mengobrol."
"Aku jadi merasa tak enak pada kalian kalau begitu, hanya saja saya ingin menyapa anda. Kalau begitu hamba permisi yang mulia." ujarnya sambil melangkah dan jngan lupakan senyum aneh sang paman.
Yuuren bersyukur karena sang paman sudah pergi, ia tak menyukai Genma.
Pandangannya lurus menatap jauh dimana objeknya adalah sang paman sendiri, matanya fokus dengan gerak-gerik aneh yang dilakukan oleh pamannya.
****
Ke esokan harinya.
Mentari telah hadir walau masih samar, burungpun telah berterbangan kesana-kemari untuk menikmati pagi yang masih sejuk.
Berbeda dengan seseorang yang masih mengeliat diantara selimut tebal dan kasurnya. Mata itu mengerjap pelan menyesuaikan dengan suasana dikamar, cahaya mentari masuk lewat celah kecil dan sosok tadi terbangun dengan cepat setelah dirasa ia akan terlambat.
Ia tergesa saat memakai baju kebesarannya, hari ini ada tamu penting dan sebagai seorang Raja ia harus menyambut tamunya dengan baik kan?
Ia tersenyum kecil saat mengingat pertemuannya dengan sang tamu dulu, sebelum ia di angkat menjadi seorang Raja.
Bersambung..
__ADS_1