
Mereka bertiga pun masuk ke dalam kediaman Raja dan Permaisuri. Kurenai tersenyum melihat kedatangan mereka.
"Duduklah, kalian pasti lelah setelah perjalanan." ucapnya.
Yuuren memberi salam terlebih dulu pada ayah dan ibunya. Diikuti Yukatta dan Sara. Setelah memberi salam, mereka duduk melingkar. "Bagaimana kabar yang mulia permaisuri?" tanya Yuuren dengan sopan.
Kurenai terkekeh pelan mendengar anaknya sendiri memanggilnya dengan sebutan 'permaisuri'. "Sangat baik pangeran, bagaimana perjalanan anda kemarin?" tanyanya balik.
"Cukup melelahkan juga." jawab Yuuren santai. Lalu ia melirik ayahnya yang sedari tadi tengah menatapnya juga.
"Otou-sama, saya datang untuk membicarakan tentang penobatan saya menjadi Raja. Bukannya saya tidak sopan, hanya saja. Dia sudah bertindak jauh, bahkan dia mencoba menggagalkan pernikahan saya dengan Sara." ungkap Yuuren.
Yukatta menutup mulutnya dengan sebelah telapak tangan, terkejut mendengar pernikahan kakaknya hampir batal gara-gara pamannya.
Raido menatap putrinya dengan rasa bersalah. "Kau tenang saja, besok kita akan segera melakukan acara penobatanmu. Kau akan naik takhta secepatnya."
Yuuren menatap ayahnya tidak percaya. "Otou-sama..."
Raido tersenyum tipis, ia bangkit dari duduknya. "Saat kau pergi, Tou-san sudah menyiapkan semuanya anakku. Kaa-san mu juga sudah punya rencana, hanya saja kami akan membantu dari belakang."
Yuuren tersenyum, harusnya ia tidak meragukan kemampuan Raido. Bagaimana pun ayahnya seorang Raja. "Terimakasih Otou-sama, tapi.." Yuuren menggantung kalimatnya.
"Tapi...?" Raido mengulang kata-kata anaknya.
Yuuren menghela nafas, ia menatap sang ayah ragu. "Bagaimana jika mereka tidak setuju, apalagi Otou-sama masih terlihat muda?" tanyanya dengan nada penuh keraguan.
Raido faham, apalagi dirinya hanya memiliki dua keturunan. Tidak seperti raja kebanyakan, dirinya tidak mengambil satu selir pun. Karena wanita yang dicintainya hanya Kurenai. Mereka bisa saja membahas hal ini.
"Otou-san akan memberi alasan yang masuk akal untuk membungkam mereka. Lagi pula, saat Otou-san menjabat sebagai Raja dulu. Umur Otou-san bahkan lebih muda dari mu. Yuuren.. percayalah. Rencana kita akan berhasil." ujar Raido dengan yakin.
"Ya Otou-sama."
__ADS_1
Obrolan malam itu pun hanya sampai disana. Dan mereka bertiga meninggalkan kediaman sang Raja dan Permaisuri.
**
Yuuren melepas jubahnya yang terasa berat, Sara dengan cekatan membantu suaminya. "Biar saya bantu yang mulia." ucapnya.
"Hm, Sara.. aku mau mandi." ujarnya lirih. Sara yang mengerti menyuruh semua pelayan untuk menyiapkan air hangat untuk Yuuren.
"Sebentar lagi yang mulia, mereka sedang menyiapkan airnya."
Yuuren mengangguk, ia duduk di kursi lalu membuka perkamen yang masih baru. Ada sepucuk surat juga diatasnya. Yuuren tersenyum, ia tahu siapa yang mengirimkan surat ini. Ia memberikannya pada Sara. "Surat untukmu Sara."
Sara mengambil surat itu, bibirnya melukis senyum. Ia tidak menyangka Gaara secepat itu merindukannya.
"Aku tidak menyangka, besok aku dinobatkan menjadi Raja." gumam Yuuren sambil menatap perkamen yang berada diatasnya.
"Perjuangan yang mulia tidak mungkin sia-sia, yang mulia sudah melakukan tugas anda dengan baik." balas Sara pelan.
Para pelayan sudah menyelesaikan tugasnya, Yuuren pun masuk ke dalam kamar mandi setelah memastikan tak ada satu pelayan pun disana.
"Kenapa anda terlihat sedih? Bukankah ini yang anda mau?" batin Sara bertanya-tanya. Karena seharusnya Yuuren senang, besok adalah hari besarnya. Perjuangan yang dilakukan Yuuren takkan menjadi sia-sia, apalagi setelah mengikuti pelatihan sebagai raja dua kali.
Sara tidak mengerti, apa yang membuat suami pura-puranya ini sedih? "Mungkin aku akan mencoba menanyakannya nanti." gumamnya pada diri sendiri. Sara pun menyusul Yuuren dan membantu gadis itu mandi.
**
Suasana malam di istana kerajaan Tachibana terasa hening, namun beda di sebuah kediaman. Yukatta kini menatap tajam pada Sasuke. Pria bermata merah itu berhasil menyelinap kembali ke kamarnya. Membuat Yukatta mengulurkan sebuah pedang pada pria itu.
"Jangan mendekat, atau kau akan ku bunuh." ancamnya.
Sasuke terkekeh pelan. Dengan santai pria itu memegang pedang yang terulur kearahnya. Membuat tangan pria bermata merah itu mengeluarkan darah dari lukanya.
__ADS_1
Yukatta terkejut melihat darah ditelapak tangan Sasuke. Karena tangannya gemetar, tanpa Yukatta sadari. Ia melepas pedangnya begitu saja.
Sedang Sasuke menaruh pedang itu di sudut kamar Yukatta. "Kau tidak boleh bermain benda tajam, Hime." ucapnya setelah menaruh pedang tersebut. Pria bermata merah itu berjalan kearah Yukatta yang masih terpaku pada lukanya.
'Tidak, aku bukan pembunuh.' batin Yukatta menggumamkan kata tersebut berulang-ulang.
Melihat adanya kesempatan, Sasuke mendekati Yukatta. Memeluk gadis pujaannya, pria bermata merah itu tersenyum miring. Ia punya kesempatan untuk mendesak Yukatta nantinya. "Sadarlah Hime, atau aku akan memakanmu." bisik Sasuke lirih.
Mendengar kata-kata Sasuke, Yukatta pun tersadar. Ia mencoba berontak dalam dekapan Sasuke. "Lepaskan aku! Kenapa kau terus menggangguku!" ucap Yukatta kesal.
"Sudah ku bilang berapa kali, kau hanya milikku. Tentu saja aku akan terus datang menemuimu." Sasuke menekan Yukatta untuk berbaring di ranjang. Sontak membuat Yukatta ketakutan setengah mati, gadis itu semakin berontak melepaskan diri.
"B***** lepaskan aku." sentak Yukatta. Namun sayang, tenaga Sasuke lebih kuat darinya. Yukatta mendongak menatap wajah pria yang berada diatasnya. Ia menarik topeng yang Sasuke pakai. Seperti di malam sebelumnya, Yukatta pernah bertemu Sasuke di...
Yukatta sadar setelah benda kenyal dan lembut mengecap indra perasanya. Gadis itu menggelengkan kepalanya, bukannya berhasil terlepas dari Sasuke. Malah pria itu semakin menjerat Yukatta dalam dekapannya.
Setelah berontak dan kehabisan tenaga, Yukatta akhirnya pasrah dalam kungkungan pria bermata merah.
Sasuke tersenyum melihat tawanannya tidak bisa lagi melawan. "Aku sudah bersumpah pada dieiku sendiri, bahwa aku akan menjadikanmu sebagai milikku." ucap Sasuke setelah melepaskan ciumannya.
Pria bermata merah itu membuka simpul Yukata tipis yang dipakai oleh Yukatta. Membuat jantung pemuda itu berdebar melihat keindahan yang pernah ia lihat sebelumnya.
"Jangan lakukan hal ini, kumohon." ucap Yukatta memelas.
Namun Sasuke tidak mendengarkan gadis yang berada dibawahnya. Sasuke seperti menemukan Oase dipadang pasir. Ia menyantap makanan yang berada didepannya dengan habis. Membuat kediaman Yukatta lebih panas dari musim panas.
'Hancur sudah, aku gagal menjaganya. Bagaimana.. bagaimana jika yang mulia Raja tahu, kalau aku sudah ternoda.' batin Yukatta sedih.
Gadis itu menangis sepanjang malam, sedang Sasuke sudah pergi setelah mendapatkan apa yang ia inginkan.
"Apa yang akan dilakukan yang mulia, jika dia tahu." Dengan langkah gontai dan menahan sakit diarea sensitifnya. Yukatta pergi membasuh diri.
__ADS_1
"Aku kotor, aku tidak pantas menjadi seorang permaisuri." gumamnya. Yukatta merasa jijik pada dirinya sendiri.